
seharian pasca pernikahannya, ia berkutat mencari berbagai informasi mengenai usahanya. Meskipun ia diberikan modal dari Tuannya tersebut rasa malu mulai menyelinap dalam diri Aisya.
"Betapa malunya diri ini, setelah aku diberikan kecukupan kebutuhan olehnya, seolah aku memanfaatkan nya", gumam Aisya di sela-sela kegiatannya.
"sepertinya aku harus segera menentukan, aku tidak mau menjadi urusannya panjang," ujar aisya bermonolog
Aisya memang orang yang sangat tidak suka hal hal yang merepotkan, sekarang pun ia seperti menjadi wanita simpanan seorang Tuan muda yang keberadaannya disembunyikan. Aisya ingin terbebas dari sangkar yang telah mengurungnya. begitulah perasaan Aisya.
"Haruskah aku mencoba melepaskan semuanya", batin Aisya bergejolak.
baru saja menjadi istrinya, sudah membuatnya semakin rumit, namun di satu sisi ia harus mandiri baik secara fisik maupun finansial. rencana hanya tinggal rencana, ia pun masih bingung menghadapi kenyataan hidup yang menderanya saat ini.
Untuk saat ini Aisya, akan menganggur terlebih dahulu untuk menjernihkan pikirannya dan menyusun strategi hidupnya yang semakin rumit dan kelam. Ia belum siap menceritakan hidupnya sekarang pada ibunya atau kah dibiarkan mengalir begitu saja, semoga saja dalam dirinya tidak tumbuh janin dari hasil perbuatannya bejat Atasannya, yang sekarang menyeretnya ke dalam lembah kehancuran.
"lama-lama aku bisa stress, aku harus bangkit !" ujar Aisya mencoba memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Ia pun segera meraih benda pipih tersebut, kemudian memutuskan Menghubungi sang ibu, untuk segera melakukan perpindahan kontrakan.
Akhirnya Ibu pun melakukan perpindahan ke rumah yang Aisya tempati, jelas banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada Aisya oleh ibunya. Aisya hanya menjawab dia sedang mencicil rumah tersebut dan ia pun berhasil meyakinkan sang ibu.
****
satu bulan berlalu, kini Aisya memutuskan untuk bekerja bukan membuat usaha karena dengan berbagai pertimbangan.
__ADS_1
Ia mencoba melamar melalui situs online ternyata dia bisa mendapatkan pekerjaan meskipun menjadi staff biasa.
selama satu bulan pasca pernikahan nya Aisya tinggal bersama sang ibu, namun ia belum mengatakan perihal pernikahannya. Ia belum siap menerima resiko yang ia ambil untuk saat ini.
selama satu bulan itu pula Dirga tidak menghubunginya, ia menghilang bak ditelan bumi tidak ada kabar sedikit pun seolah ia dibuang begitu saja.
Mungkin saat ini, Aisya benar-benar harus menjalani kehidupannya seorang diri dengan memecahkan masalah yang sedang ia hadapi.
"kamu lagi memikirkan apa Aisya ?" tanya ibu Aisya
"Ah , tidak bu. ini lagi banyak pekerjaan di kantor, " ujar Aisya berbohong
"ibu pikir kamu sedang memikirkan biaya cicilan rumah, sudahlah kalau kau terbebani kita ngontrak saja" ucap Ibu
"Ibu harap kamu tidak memikirkan masalah yang berat hanya demi ibu,"
"Tidak apa-apa ibu, sudah kewajiban anak berbakti terhadap orang tua," ucap Aisya lembut dan tulus.
"Ibu sekarang tidak ke toko ?" tanya aisya mencoba mengalihkan pembicaraan
"Ibu sepertinya agak siangan untuk pergi ke Toko," jawab ibu
Akhirnya Toko yang sempat Dirga berikan ia gunakan untuk toko kelontongan yang dikeloa oleh ibunya, setidaknya ia bisa memanfaatkan ruko tersebut. Ia juga bisa menyakinkan pada ibunya karena demi cicilan rumah ia harus bekerja dan ibu bekerja di toko kelontongan yang ia rintis sebulan yang lalu.
__ADS_1
sebenarnya Aisya tidak tega, sang ibu yabg sudah tua renta itu masih bekerja tetapi ibu tetap dan teguh pendiriannya dengan dalih ingin membantu cicilan rumahnya. aisya Tidak bisa menolaknya dari pada ia di
suguhkan berbagai pertanyaan ibunya yang membuatnya semakin rumit lebih baik mencari aman saja.
Di dalam ruangan yang cukup untuk bernaung ia meratapi kesendiriannya. Ia sedang duduk di atas ranjangnya memikirkan sesuatu. pikiran yang senantiasa menghantui dalam dirinya yaitu menerima kehadiran janin dalam tubuhnya.
"Mungkin saatnya ku mengecek, apakah aku hamil atau tidak ?" gumam Aisya sambil memegang dan mengelus perutnya.
Sebenar ia ingin sekali mnegecek dari dulu duli namun ada ke khawatiran dalam dirinya masih belum siap menerima keadaannya dan sekarang ia mencoba memberanikan diri.
Aisya memasuki Toilet dan segera mengecek menggunakan alat check kehamilan, setelah melihat cara penggunaanya ia pun segera menggunakannya,...
setelah menunggu beberapa menit akhirnya ia bisa melihat hasilnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung