
***
Dering alarm ponsel, membangunkan Aisya dari mimpi indahnya, ia pun meraih ponselnya dan segera mematikannya.
"Malas, sekali hari ini, aku masih mengantuk," ucapnya yang sesekali menguap.
Aisya tetap bangun meskipun sangat malas karena hari harus bekerja, dengan langkah gontai ia mengambil handuk dan masuk menuju kamar mandi. selang beberapa menit ia keluar dari kamar mandi. Ia segera mengenakan pakaian kantornya. Tak lupa ia berias diri meski tidak terlalu mencolok. selanjutnya ia sarapan yang sudah ia beli sepulang malam tadi.
Selesai Makan, Aisya melihat jam, " Masih pagi, tapi aku harus banyak belajar, meminimalisir kesalahan." gumam Aisya yang bergegas berangkat menuju kantornya yang tak jauh dari Asramanya.
***
Aisya sudah berada di kantornya, suasana masih sepi hanya ada petugas kebersihan saja yang sedang membersihkan setiap ruangan. Ia segera menuju ruangan ia bekerja dengan menggunakan lift.
ting, bunyi lift menandakan sudah sampai ditempat yang dituju.
Aisya segera menuju ruanganya, yang kebetulan pintu masih sedikit tertutup
"kreket..." suara pintu terbuka
"eh neng Aisya, bikin kaget saja !" ujar Bi Mina yang sedang membersihkan lantai.
"Maaf Bi, saya kira tidak ada orang, jadi tidak mengucapkan salam." Ujar Aisya yang mendekati mejanya kemudian menyimpan tasnya.
"Neng, berangkatnya selalu paling pagi ya ? padahal jam masuk kantor masih lama ?" tanya Bi Mina.
Aisya pun tersenyum, " Iya Bi, biasa Anak baru harus banyak belajar, supaya tidak tertinggal."
Bi Mina membulatkan bibirnya, "O, pantas saja, datang berbarengan petugas kebersihan. Bagaimana bekerja di sini, betah ?" tanya Bi Mina.
"Alhamdulillah, betah," jawab Aisya.
"iya neng harus betah disini, kan sudah sebulan" ucap Bi Mina.
" Wah , iya tak terasa aku sudah satu bulan di sini, eh tunggu berarti aku sudah gajian ? tanya Aisya.
"Iya, neng sudah sebulan baru saja kemarin gajian, emang neng ga tahu ?" tanya Bi Mina sambil tersenyum.
"Wah pantas saja Bi Mina hari ini ceria", jawab Aisya
"Ah, neng bisa aja, uda dulu. Nanti pekerjaan bibi tidak selesai,, Bibi tinggal yaa" ujar Bi Mina melanjutkan pekerjaannya dan keluar ruangan tersebut.
"Iya, Bi. Maaf dan terimakasih infonya," tutur Aisya dengan senyuman yang sumringah.
Coba aku cek saja sekarang, mengapa aku tak pakai sms banking, ah sial.. gumam aisya sambil membuka ponsel yang merujuk sebuah aplikasi Mobile banking.
Wow, Masya Allah. Ini tidak salah kirim ! aku kan masih pegawai baru dan fresgraduate lagi, Pantas saja gaya hidup karyawan disini sangat tinggi, batin Aisya
Aisya begitu tercengang dengan gaji pertama dia, mungkin bagi dia yang belum memiliki pengalaman gaji tersebut terbilang cukup besar.
Aku harus segera melunasi utang-utang yang kemarin aku pinjam ke Sinta, gumam Aisya karena hanya utang yang ada di pikirannya.
Tak berpikir panjang, Aisya segera menghubungi Sinta melalui sambungan telepon..
ttuut,
Tak lama kemudian panggilan suara itupun terangkat.
Assalamualaikum, Sya, Jawab Sinta denga nada malas
Waalaikumsalam, Sinta, ucap Aisya yang terlihat begitu bahagia.
Ada apa Aisya, pagi buta begini sudah menghubungi ku ? tanya Sinta keheranan karena tidak biasanya Menghubungi pagi sekali.
Aku minta nomor rekening mu, aku sudah gajian, Ucap Aisya.
__ADS_1
cie, yang sudah bisa cari duit sendiri, ujar Sinta menggoda.
ayo, cepetan kirim ya, biar utang ku segera lunas. ditunggu ya ! seru Aisya.
Iya, bawel, Kenapa harus pagi ? malam juga masih bisa ? Ucap Sinta keheranan karena harus sepagi ini.
Aku lagi ingat, takut lupa, Uda dulu ya. Aku mau kerja, seru Aisya
Sepagi ini Sya ? tanya Sinta
aku kan pegawai baru, jadi harus banyak belajar, sudah dulu ya, kapan kapan kita main, Ujar Aisya
*Oke baiklah, semangat* ! seru Sinta.
assalamualaikum seru Aisya
waalaikumsalam sahut Sinta
Panggilan telepon pun berakhir, namun tiba-tiba sebuah pesan muncul.
tring, bunyi pesan masuk
aku lupa menanyakan ini, memangnya untuk biaya hidupnmu ada, Sya ? jika belum ada jangan memaksa kan, santai saja aku juga belum butuh banget. ~ Sinta
S*udah ada, insyaallah lebih dari cukup, Mana Nomor Rekening nya, aku tunggu ~ Aisya
Baiklah kalau begitu, kalau ada apa -apa hubungin aku ya, ini nomornya rek. xxxxx~ Sinta
Iya, Sinta. Maaf aku lupa menyampaikan kalau aku sepertinya belum bisa datang di acara sidangmu. aku banyak pekerjaan.~Aisya
Iya, tidak apa-apa, aku mengerti. Nanti kalau aku beres kita ketemuan ya.~ Sinta
Ia, Insyaallah.~ Aisya
Baiklah, sana bekerja, nanti kena marah atasanmu~ Sinta*
Percakapan mereka pun terhenti, Aisya menyimpan ponselnya. kini ia beralih membuka komputer dan mulai mengecek pekerjaannya. Namun tiba-tiba Pak Heru, menghampirinya untuk menanyakan berkas yang sudah Aisya kerjakan.
"Asya, Tugas yang kemarin sudah beres ? segera kirimkan ya !" perintah Pak Heru
"Sudah pak, Insyaallah hari ini saya kirimkan, saya sedang mengeceknya terlebih dahulu," Jawab Aisya.
"Baiklah, saya tunggu !" seru Pak Heru.
**
Waktu istirahat telah tiba, seperti biasa Aisya menghabiskan istirahat di Taman, karena selain udaranya sejuk juga tempat tersebut seolah memberi kedamaian baginya. sesekali ia bercengkrama dengan tukang kebun.
Aisya bukan berarti tidak memiliki teman, karena semakin hari Aisya sudah mulai bisa berbaur meskipun tidak terlalu akrab, mereka hanya sebatas rekan kerja saja. Banyak diantara mereka yang menutup diri untuk Aisya, mengingat Aisya pernah melakukan kesalahan terhadap Atasanya. Ya, Atasan yang paling mereka takuti adalah Tuan Dirga. Sehingga mereka segan berdekatan dengan Aisya karna mencari aman agar tidak terbawa-bawa.
Saat Aisya sedang mendengarkan musik melalui earphone yang ditemani angin semilirnya, membuatnya berkhayal sejenak, Andaikan aku bisa mendapatkan Tuan Muda Tampan nan Mapan, mungkin aku tak perlu kerja," pikirannya mulai meracau dan sesekali di iringi tersenyum.
Ditengah khayalan tingkat tingginya, seolah ada yang membuyarkan imajinasi nya oleh suara lelaki disampingnya.
"Kamu sedang apa disini ?" Tanyanya.
Aisya Menoleh ke arah suara seolah membangunkan mimpinya. Betapa terkejutnya ternyata yang membuyarkan imajinasi nya adalah seorang Tuan pemilik perusahaan tempat Ia bekerja. Ya, dia adalah Tuan Dirga, beliau orang yang paling ditakuti oleh semua karyawannya. Aisya tidak langsung menjawab sedikit mengumpulkan nyawanya selepas melayangkan imajinasinya.
ah, sial kenapa harus berjumpa dengan orang ini, semoga hari ini aku aman batin Aisya
"Lagi.... lagi mencari angin saja Tua," ucap Aisya dengan terbata-bata dan membungkuk kan badannya sebagai tanda penghormatan kepadanya.
Dirga dengan tatapan yang tegas dan tetap berwibawa hanya membulat kan bibirnya.
"Saya permisi Tuan," Ujar Aisya segera menjauh, sebelum melangkah ternyata Tuan tersebut sudah bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana ? waktu istirahat masih lama," tanya Dirga dengan tatapan yang tajam dan tegas.
Aisya memegang ujung pakaiannya dengan sedikit gemetar, "saya mau masuk ruangan pak, sekalian mengecek data, saya singgah kesini hanya sebentar saja," jawab Aisya mencari alasan agar segera menjauh dari para petinggi itu.
"oh, begitu. Depertinya anda sedang mencari alasan, untuk menghindar dari saya?" Tanya Dirga mendekati Aisya dengan memasukan kedua tangan kedalam saku celananya.
"Maaf pak, saya tidak mencari alasan, izinkan saya undur diri dari hadapan bapak," ujar Aisya yang mulai dihantui rasa takut terhadapnya.
"Oke, silahkan hari ini kamu lepas dari cengkeraman saya. Siapa nama kamu dan dari divisi apa ?" tanya pa Dirga seolah sedang mengintrogasi nya.
"Saya Aisya, dari Divisi X, " jawab Aisya dengan sedikit menjauhkan dirinya.
Baiklah silahkan, suruh Dirga mengusirnya.
Aisya pun berpamitan dengan sigap dia setengah berlari, karena di penuhi rasa ketakutan ia tak melihat jalanan. Ia menginjak sesuatu yang membuatnya terpeleset.
Burrgh... aw..." Aisya mengerang kesakitan.
Dirga menoleh dan langsung mendekati Aisya utk membantu membangun kannya
"Lain kali kalau jalan pake mata, kamu terkesima ya, melihat ketampanan saya," ujar dirga sambil menyodorkan tangannya
Aisya dengan segera berdiri dan tidak menerima bantuan tangan Dirga,
"Maaf pak. Saya tidak hati-hati, permisi," jawabnya dengan mukanya memerah tertunduk malu dan segera berpamitan dengan membungkukkan badan nya.
Dia menolak uluran tanganku, berani sekali menolak ku, gumam Dirga yang menatap perempuan itu hingga hilang dari pandangannya.
****
Aisya dengan napas tersengal-sengal karwna berlarian menghindari Atasannya tersebut. Ia terus menerus menggerutu dan menghujat dirinya sendiri karena tidak biasanya orang itu ada ditaman.
aku kan tidak ingin dikenal oleh petinggi, eh ini malah ketemu dan membuatku malu saja, aduh bagaiman ini, Ia sudah mengetahui ku bahkan divisi lagi, ah sudahlah mungkin nanti juga lupa , batin Aisya.
Sebaiknya aku segera selesaikan saja tugasku, dari berpikir hal yang bodoh, gumam Aisya yang melanjutkan aktivitasnya.
***
Sementara Di ruang direktur utama, Dirga masih kesal karena uluran tangannya di tolak oleh wanita itu kemudian berkata kepada Rama,
"Rama, buatlah wanita tadi yang tidak menerima bantuanku untuk ikut mendampingi ku ke Amerika, " Perintah Dirga.
"Bagaimana Tuan ? Apakah ini tidak salah ? kita sudah membuat tim tersendiri, tak mungkin menambah personil lagi, ?" Tanya Rama penuh keheranan.
Rama ini adalah sahabat yang sekaligus orang kepercayaan dari Dirga tetapi ketika di kantor mereka sangat profesional, sehingga sebutan Tuan selalu ia sematkan, hal ini agar terlihat berwibawa oleh bawahnya. Meskipun sempat Dirga menolak namun Rama bersikukuh, akhirnya menyetujuinya.
"Ya, Tidak masalah bukan, jika menambahkan satu orang untuk membantu kegiatanku sehari-hari ? kamu bisa mengaturnya kan ?" tanya Dirga bertubi-tubi.
"Baiklah, jika itu keinginanmu." Ucap Dirga seolah sedang bersama nya karena ia membuatnya kesal menambah sesuka hatinya.
"Good Job," ucap Dirga dengan senyum simpulnya penuh maksud.
Rama tahu betul mengenai keinginan Dirga yang tidak bisa di bantah. Cukup menyetujuinya agar tidak memperpanjang masalah, itulah hal yang paling aman.
Semenjak kedatangan Lira, Dirga menjadi orang yang lebih cepat marah, lebih dingin dari biasanya. Ternyata kedatangan Lira tersebut akan membuatnya berada dalam lingkaran perjodohan oleh orangtuanya. Dirga sempat menolaknya karena sebenarnya ia ingin memiliki kebebasan. Berbeda dengan orang tuanya yang merasa aneh jika ia tak menyukai wanita.
-
-
-
-
-
__ADS_1
To be continued