
***
Sembari membersihkan mukanya dengan mengggunakan cleanser dia pun bergumam sendiri, "ah, rasanya menjadi asisten itu, sangat sumit dan melelahkan, hal yang tak penting pun menjadi penting, pakaian pun diatur dan harus mengikuti semua atasan.. Sungguh aneh dan memusingkan."
"Rasanya aku ingin menjadi karyawan biasa," ucap Aisya yang masih membersihkan mukanya.
Hari ini, begitu padatnya aktivitas Aisya sehingga tubuhnya terasa lelah. Ia pun segera merapikan tempat tidurnya dan bergegas untuk tidur.
Aisya berkali-kali memejamkan matanya, namun ia tidak mengantuk juga. Mungkinkah aku insonmia, pikirnya. Ia pun mencoba menatap langit-langit, ia memikirkan sesuatu, Ia tidak habis pikir dengan apa yang sekarang menimpa dirinya, karena begitu cepat posisi dia menjadi lebih tinggi dibandingkan rekan kerja yang lain yang jelas sudah lama dan berkompeten.
"Aku masih bingung hingga saat ini masih tidak percaya menjadi pekerja yabg dekat dengan atasan," gumam Aisya.
Tiba-Tiba teringat terhadap perkataan karyawan lain yang menganggap bahwa dirinya cepat berada di posisi ini karena ada main belakang, tidak dapat di pungkiri pula bahwa sebagai pegawai yang baru masuk kurang dari 6 bulan, dia sudah bisa berada di posisi yang sangat tinggi, sehingga wajar saja banyak menimbulkan spekulasi terhadapnya.
"Apakah, kali ini mereka menganggapku wanita murahan, atau ada main belakang dengan atasanku" gumam Aisya
"Ah, aku sebenarnya ingin menolak tawaran ini, tap ini perintah dari atasanku," gumam Aisya sambil memijat kepalanya
"Rasanya ingin aku berbicara kepada mereka bahwa aku tidak seperti yang mereka kira. Aku hanya menjalankan Tugasku saja sebagai bawahan, andai kalian tahu aku hanya cukup kerja saja," gumam Aisya sedikit menumpahkan kekesalan.
"Kalian dari awal kedatanganku sudah tidak ramah terhadapku, sekarang ditambah lagi dengan kondisiku seperti ini, ah sudahlah, kenapa aku jadi seperti ini, kamu yang kuat Aisya,, sabar" ucap Aisya berbicara sendiri, tak lama kemudian Aisya mulai menguap dan Aisya langsung berdoa dan memohon ampunan dengan apa yang telah tadi Aisya lakukan..
****
Sepanjang perjalanan Dirga merasa aneh berjalan dengan aisya, yang mungkin terkadang terlihat seperti anak-anak dan sangat polos, dan sangat sopan terhadap siapapun.
"Mengapa dia sangat polos sekali" ucap Dirga
ah, mengapa saya jadi memikirkan dia, sudahlah gumam Dirga sambil melajukan kendaraannya. Tiba-Tiba handphone Dirga berbunyi, terdapat nama panggilan yaitu sang mama kemudian Dirga segera mengangkatnya.
"iya, Ma, ada apa telpon dirga malam malam ? ujar Dirga
"Dirga, malam ini kamu pulang ke rumah ya, sudah lama tidak pulang," ucap mama Berti
"Ada Apa ma ? Dirga sebenarnya besok kerjaan Dirga sangat banyak ma" ucap Dirga seraya menolak
"Memangnya kenapa Dirga, kalau besok banyak kerjaan, biasanya juga pulang, memang kamu ga kangen sama mama" ucap mama
"bukan begitu ma, mama tidak biasa menyuruh Dirga pulang," jawab Dirga
"Memang salah mama menyuruh pulang", ucap Mama Berti
"iya deh mah, jangan tersinggung, aku pulang ke rumah malam ini" jawab Dirga karena tidak ingin berdebat dengan mamanya.
"Nah begitu dong, ditunggu ya sama mama", Ucap mama Berti sambil berpamitan dan menutup sambungan ponselnya
****
__ADS_1
Rumah Dirga
Suara mesin mobil terparkir di garasi, selang beberapa menit kemudian suara bel rumah berbunyi.
ting tong
ting tong
ting tong
ceklek,
Ointu terbuka dan berdiri seorang ibu paruh baya, yang sedari tadi menunggu kehadirannya.
"Mama, kok bukan bi surti ?" ujar Dirga
"Dirga, mama rindu sekali denganmu, Bi Surti biarkan istirahat, mama dari tadi menunggu mu," ucap mama Berti sambil memeluknya.
"Mama, Seperti sudah lama tak bertemu saja," jawab Dirga membalas pelukan ibunya.
"Memang sudah lama, kamu jarang pulang nak, masuklah", ucap mama Berti sambil melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Maafkan Dirga Ma, baru bisa pulang ke rumah, karena urusan tugas pekerjaan yang banyak" ucap Dirga mengikuti ibunya.
" Ya sudahlah, kamu istirahat saja dulu, Besok ada hal yang ingin bicarakan dengamu" ucap mama Berti
"Sudahlah, ini sudah larut, lebih baik kamu istirahat, besok kalau bisa jangan masuk dulu" ucap mama Berti.
"hmm, baiklah ma" ucap Dirga yang sudah kelelahan tidak bisa menolak sang ibunda
Mereka pun berpisah dan Dirga masuk ke dalam Kamarnya, dan banyak pikiran karena kehadirannya sangat ditunggu oleh sang ibunda bahkan hingga larut malam
***
Pagi-Pagi Dirga sudah bangun, dan masih ada perasaan yang tidak karuan, kemudian keluar dari kamar menuju meja makan yang disana sudah ditunggu oleh Mama Berti dan Pak Hendra
"kamu sudah bangun Dirga" ujar pak hendra dan Dirga hanya menganggukan sambil mendekati meja makan.
Dirga duduk di meja makan, dan mereka pun sarapan bersama, setelah selesai, biasanya selalu ada obrolan hangat diantara mereka.
"Ma, ada apa sebenarnya mama memanggil Dirga kesini ?" Tanya Dirga.
"hmm, sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu, Nak!" Ucap Mama Bert.i
"Tentang apa, Ma ?" tanya Dirga penasaran
"Nak, usiamu sudah matang, segeralah mencari pendamping, supaya hidupmu tidak sendirian, ada tempat untuk berbagi" ucap mama Berti.
__ADS_1
Dirga diam sejenak, "Iya Ma, untuk saat ini Dirga belum memikirkan itu, Dirga masih ingin hidup sendiri, menikmati masa-masa lajang, lagian kalau ada apa-apa masih ada mama dan papa," ucap Dirga.
"Dirga, Kamu mau sampai kapan terus melajang, usia itu akan cepat berlalu, jangan menunggu tua. Papa dan Mama tidak akan selamanya bersamamu," ucap Papa Hendra menghela napasnya.
"Kalau mama dan papa sudah tiada, tidak ada yang mengurus kamu, pertimbangkan usiamu juga, jangan sampai ketika kamu sudah tua renta anak-anak kamu masih kecil, belum bisa mengurus kamu atau bahkan kamu tidak bisa mengurus anak-anak kamu, " ucap Mama Berti menambahkan.
Dirga diam sejenak, memikirkan ucapan kedua orangtuanya yang mengkhawatirkan dirinya, dan baru menyadari betapa pentingnya sebuah keluarga untuk kehidupan yang akan datang.
"Dirga belum menemukan yang cocok ma"ucap Dirga.
"Tapi kamu suka perempuan kan Dirga ?" tiba-tiba mama Berti bertanya yang membuat Dirga tersentak.
"Dirga Normal Ma, namun saat ini masih belum menemukan saja," ucap Dirga mengambil air minum dan meminumnya.
Wah, mama ternyata mengira aku seorang gay atau homoseksual, batin Dirga
"Syukurlah, mama senang mendengarnya. Dirga, apa perlu mama carikan pasangan untukmu ?" tanya Mama Berti.
Lagi-lagi, Pasti mama mencari calon untukku tidak terlepas dari rekan bisnis, aku harus menolaknya, tunggu mungkinkah Mama sudah melupakan Lira ?, batin Dirga.
"Tak perlu Mama, Dirga bisa cari sendiri" ucap Dirga
"Kenapa kamu menolaknya Dirga ? mama pasti pilihkan yang terbaik untukmu," Ucap Mama Berti tersenyum.
"Ma, ini bukan zaman siti nurbaya," ucap Dirga mengelak.
"Tapi, tidak ada salahnya kamu berkenalan dengan anak teman mama, hari ini mereka akan berkunjung ke rumah ini, Mama harap kamu tidak mengecewakan mama" ucap Mama Berti
Jadi intinya mama mau memperkenalkan seseorang untukku, pakai acara nanya muter-muter, batin Dirga.
"Memang siapa, Ma ?" tanya Dirga
"Nanti saja, sekarang kamu siap-siap saja" ucap mama Berti.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued