
***
Aisya PoV
Sudah lima hari aku melakukan tugasku, selama menjadi asisten rumah tangga Pak Dirga di Luar Negeri. Tidak ada kesulitan dalam menghadapi keinginan Tuannya tersebut, hanya saja ia jarang sekali berbicara dan bersikap sangat dingin. Aku hanya menjalankan apa yang ia perintahkan.
Hari ini adalah hari terakhirku di sini. Sebelum kembali ke negaraku, Tim pekerjaan banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. kebetulan partner bisnisnya mengundang tim kita ikut berpesta. Ya, pesta budaya barat pasti dihabiskan dengan meminum-minuman yang memabukan atau bersenang-senang dengan wanita.
Aku hanya menghargai mereka dan juga partner bisnis Perusahaanku. Aku tidak minum atau makan di tempat itu, aku lebih selektif dalam menjaga makananku. Aku bukan tidak menghargai tetapi aku lebih berhati-hati, terlebih dalam keyakinanku ada beberapa hal yang di larang.
Aisya Pov End
***
Aisya tengah duduk di kursi paling pojok menyaksikan pesta diselingi musik dengan berbagai genre yang diselingi tarian-tarian seperti dansa. Disini suasana cukup ramai banyak para pebisnis berkumpul disana. Makanan dan minuman pun tersedia dengan sangat rapi. Minuman yang tersedia sebagian besar adalah minuman anggur, sehingga membuat Aisya enggan untuk meminum atau memakan sesuatu ditempat tersebut. Hal itu, semata-mata menjaga dirinya saja. Ia sedari tadi tak henti-hentinya melirik jam yang ada dipergelangan tangannya, Sesekali melebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Rasa tidak nyaman pun, mulai menghampirinya seolah ia ingin segera mengakhiri nya. Apakah seperti ini orang-orang borju merayakan kebahagiaannya? Pikirnya.
Aisya mendengus membuang nafas dengan kasar dan bergumam, "Aku biasanya melihat ini disebuah tayangan film. kini aku melihatnya dengan nyata, bahkan aku benar-benar terlibat didalamnya."
Tiba-tiba salah satu rekannya menghampiri Aisya yang tengah duduk di pojokan, "Aisya, kamu tidak minum ?" tanya rekan timku.
Aisya hanya menggeleng kan kepala sebagai bentuk penolakannya. Aisya ingin sekali berteriak ke telinga rekannya tersebut, jelas-jelas ia menggunakan hijab, mana mungkin meminum hal yang dilarangnya. Ia menghadiri pesta ini semata-mata hanya memenuhi undangan partner bisnis perusahaan sebagai bentuk penghargaan.
"Kau tidak haus, Aisya ?" ucap rekan kerja itu.
Aisya hanya tersenyum, "Tidak, apakah kau melihat Tuan Dirga ?" mengalihkan pembicaraan.
Seolah mendapat undangan ternyata Dirga dan rama sudah berada di dekat Aisya.
"Ada apa, kau mencari ku ?" tanya Dirga dengan sempoyongan dan terlihat sedang mabuk berat.
Sedikit kaget, namun mencoba untuk tenang. "Apakah sudah bisa pulang pak ? ini sudah larut. besok kita segera berkemas" ucap Aisya dengan sedikit ragu-ragu.
Seperti mengetahui ketidaknyamanannya. Jelas saja, hal itu dapat terlihat dari raut wajah gelisah Aisya.
"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Dirga yang masih dalam kondisi kurang sadar sepenuhnya.
Rama yang masih terjaga, "Biar saya antarkan, karena tak mungkin tuan membawa kendaraan dalam mabuk berat."
__ADS_1
Tanpa ada sahutan dari Tuannya, Rama pun segera bergegas memboyong Dirga yang di ikuti oleh Aisya. setibanya di Apartemen Rama mengantarkan Dirga hingga kamar tidurnya. selanjutnya ia pamit kembali acara tersebut.
***
"Aku haus" teriak Dirga, "Aisya bawakan aku minum," teriaknya.
Aisya yang mendengar teriakan Tuannya segera membawakan segelas Air ke dalam kamarnya.
tok...tok..
"Permisi tuan, Saya, membawakan minum untuk tuan !" Seru Aisya.
"Masuk" teriak Dirga dari dalam sana.
Aisya pun segera masuk, Namun, ia mendapati Dirga masih tertidur. Aisya pun segera meletakan gelas minum di atas nakas.
"Pak, minumnya sudah saya simpan di atas sana." Ujar Aisya yang akan segera keluar dari kamar Dirga.
Ternyata jarak Dirga dengan Aisya begitu dekat, sehingga Dirga dapat menjangkau tangan Aisya, "Kau mau kemana, Aisya ? Temani Aku."
Jantung Aisya berdegup kencang, Aisya berusaha melepaskan tangan yang digenggam erat oleh Dirga. Aisya ingin segera keluar dari kamar tersebut terlebih ia mendengar ucapan dari Tuannya.
Dirga yang berada dalam setengah kesadarannya, merasa tidak suka mendapatkan penolakan terlebih lagi dengan sebuah teriakan. Cukup membangkitkan amarahnya sehingga ia langsung menariknya dengan kasar, hingga ia terjatuh ke ranjang, " Beraninya Kau berteriak kepadaku !" bentaknya dengan mata memerah segera melonggarkan dasinya.
"Maaf Tuan, " lirih Aisya yang segera bangkit dari ranjangnya.
Dirga lebih dulu menindihnya,"Sesuatu yang telah mengusik diriku, tak akan ku lepaskan ! " bisiknya seraya membuka dasi yg sudah longgar tadi.
Aisya semakin ketakutan, ia pun meronta-ronta ingin segera melepaskan kedua tangannya yang disekap, seraya memohon "Tuan, saya mohon jangan lakukan apapun terhadapaku," Aisya meringis sambil menangis.
Jengah mendengar celotehan dan tangisan dari Aisya, Dirga melakukan hal yang lebih kasar lagi. Ia tak segan, menamparnya dengan kasar agar bisa diam kemudian mengikat tangan Aisya dengan dasi.
Aisya terus berteriak berusaha menyadarkan, "Tuan tolong, saya Aisya, Karyawan Tuan."
Nyatanya semua ucapan Aisya tak di hiraukan.
Dirga semakin menjadi gila, "Diam kau, membuatku telingaku pecah," teriak Dirga yang sambil menarik hijab Aisya, dengan kasar hingga jarum untuk mengaitkan sang hijab menggores dagunya. Sakit sekali rasanya, namun di pikiran Aisya saat ini adalah menghindar dari perlakuan atasannya. Hijab terlepas dari kepala Aisya, nampaklah kecantikan Aisya yang selama ini tak pernah perlihatkan kepada siapapun.
__ADS_1
Air mata Aisya bercucuran, "Tuan, mohon jangan lakukan apapun," mohon Aisya.
Dirga sejenak menatap Aisya, gairahnya semakin meningkat karena seolah dirinya sudah dirasuki oleh hawa nafsu. Ia pun tak menghiraukan permintaan Aisya. Ia segera menggunakan hijab tersebut untuk menutup mulutnya.
Aisya segera menggelengkan kepalanya, agar tak bisa ditutup. Teriakan minta tolong pun sering ia ucapkan.
"Haha.... tidak ada yang akan mendengarmu !", sambil menekan kepalanya dan segera menutup mulutnya.
Kini Aisya harus bertindak cepat, ia memiliki kaki untuk menendang atasannya tersebut, dengan penuh keberanian Aisya segera menendang kan kakinya ke bagian yang paling berharga dari Dirga.
bluk
bluk
"Aw...arghh" meringis kesakitan dan cengkraman ia sedikit terlepas.
Aisya segera bangkit dan mendorongnya, untuk melarikan diri, dalam kondisi tangan terikat dan mulut di tertutup, membuatnya kesulitan bernafas. Amarah Dirga memuncak dengan segera meraih tubuh Aisya dengan kasar dan membantingnya ke atas ranjang. Ia pun segera menindihnya di iringi dengan tamparan keras berkali-kali.
plak..plak..plak.plak...
Aisya hanya bisa mengeluarkan Air mata, Sudut bibir Aisya mengeluarkan darah segar, kepala terbentur membuatnya pusing.
"Kau beraninya kepadaku," bentak Dirga sambil mengelus pipinya dengan posisi berada diatasnya. Dirga pun tak segan merobek semua pakaian Aisya dan melancarkan aksinya. Aisya pun menjerit kesakitan hingga ia tak sadarkan diri.
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
To be continued