
****
Aisya pun kembali keruangannya, dengan perasaan sedikit lega karena berhasil keluar dari tempat yang menyeramkan baginya.
"hm, syukur deh, tidak terjadi apa-apa" gumam Aisya sambil membereskan berkas dokumen yang sedang ia kerjakan.
tak terasa sudah memasuki jam makan siang, segeralah aisyah bergegas menuju kantin kantor yang berada di lantai dasar, karena perutnya terasa keroncongan.
"hm, rasanya, perutku lapar," gumam aisyah
Akhirnya Aisya menuju kantin, dan seperti biasa di kantin sudah dipenuhi oleh pegawai kantor dengan teman temannya, ya aisyah sejak masuk kantor ini memang tidak terlalu banyak teman yang dekat kecuali teman yang dekat dengan ruangannya yaitu ruri.
Biasanya Aisya jam makan siang tidak makan di kantin itu, karena baginya disana terlalu banyak kalangan borju, yang tidak segan segan seperti di ospek bagi anak baru, makanya aisyah selalu menghindar dari tempat itu daripada bermasalah dengan orang orang borju itu.
setelah memesan makanan, aisyah membawa makanan yang biasanya bersama para CS terutama bi mina karena dianggap lebih baik dan tulus dalam menerima pertemanan yang bukan karena ada maunya.
namun, baru saja melangkah tiba-tiba dikejutkan oleh seruan dari salah satu meja yang tidak jauh dari Aisya membawa makanan untuk keluar dari kantin tersebut.
"Aisya, sini, Aisya" lambaian tangan seraya mengajak makan di satu meja.
"ah, bukan saya kali, biasanya juga ga ada yang ngajak makan" gumam aisyah sambil meleos.
"woy, Aisya, sini" suara itu makin keras dan cukup membuat semua orang melirik semuanya, dan teman yang dekat sebelah aisyah seraya
"hei, lo tuh di panggil sama bos" seseorang sambil meleos pergi.
deg,
Aisya mencoba melirik dengan perlahan, karena takut ke-GR-an, tadinya hanya sekedar melirik sahaja, namun ternyata benar, yang sedari memanggil dia adalah atasannya, yaitu sang asisten rama yang dari tadi berdiri memanggil namanya.
"aduuh, bahaya, sekelas mereka ada di sini juga," gumam Aisya sambil berjalan menuju panggilan dengan membawa makan.
"kamu, tuli apa, di panggil dari tadi tidak menengok, ikut saya" tegas Rama.
Aisya segera menjawab pembelaan namun baru akan menjawab, "saya...." ucap aisyah
"Nanti saja, kalau mau beralasan, disini tidak etis," jawab rama dengan tegas dan datar.
Aisya menggerutu dalam hatinya, ah, akan ada apa lagi, padahal saya tidak pernah melihat mereka ditempat seperti ini, terus ini mau di bawa kemana lagi.
Rama berjalan menuju suatu tempat yang lebih ekslusif, ya ruang tersebut merupakan ruangan khusus para petinggi perusahaan tersebut jika tidak makan siang di luar, dan ternyata disana sudah ada dirga, dengan muka kecut dan kisut seperti sedang banyak masalah. cukup membuat suana semakin mencekam dan tidak berselera makan.
"Wah tempatnya mewah sekali" gumam Aisya sembari melirik kiri kanan namun berusaha elegan supaya tidak terlihat katro.
Tiba-tiba muncul dalam benaknya, "aduh bagaimana cara makan sama petinggi, cara melahapnya bagaimana, hmm" gumam Aisyah
"Hei, kau. Jangan terlihat kampungan ! Duduk !" suruh Rama dengan nada dingin
"Maaf Tuan, sedikit lama. Dia sangat sulit untuk di panggil, " ucap Rama
"Apakah kau sudah tuli ?" tanya Dirga mengalihkan pandangannya kepada Aisya.
Enak, saja kau ! aku tidak tuli....batin Aisya
Aisya segera melakukan pembelaan, "Maaf pak, saya kira bukan memanggil saya, saya pikir nama Aisya itu bukan saya saja". ucap Aisya.
"Banyak Alasan saja. Memang disini nama Aisya, dan yang kenal saya ada orang lain ? Terlebih lagi aku memanggilmu saat di meja kasir dan disana hanya kau ada seorang laki-laki. Tak mungkin yang ku panggil laki laki itu !" ujar Rama yang sedikit kesal karena agak malu saat memanggilnya.
__ADS_1
wadidaw, salah jawab!! bagaimana ini, ayola berfikir, tenang,,, tenang Aisya ,batin Aisya
"mungkin saya terlalu buru-buru pak, karena biasanya saya makan tidak di kantin," jawab Aisya mencoba tenang.
"Sudahlah tidak perlu banyak alasan, Saya lapar," ucap Dirga.
"Maaf, " sambil mengambil makanan yang sejak dari tadi terhidangkan.
"Silahkan kamu makan dulu nanti ada yang ingin disampaikan", ucap rama kepada Aisya
"Maaf pak, saya makan nanti saja," tolak Aisya.
"Makananmu nanti keburu dingin, kamu tidak mau makan bersama kami", jawab Dirga meninggi.
Aisya tahu, bahwa sang tuan sedang marah, dengan segera Aisya mencoba memakan namun sebelumnya Aisya memperhatikan cara makan mereka,
hah, makan saja dibuat ribet , tak pake nasi lagi, eh makannya pake tangan kiri lagi, batin Aisya
Aisya sudah dari tadi menahan peritnya, ia pun segera menyantap makanan dengan cepat. karena lebih cepat lebih baik, supaya segera keluar dari cengkeraman mereka berdua.
Tiba-tiba mereka berdua melihat Aisya makan yang sangat cepat.
"Kau tidak bisa tenang makannya, ini buka kimpetisi makan ! pelan saja, nikmati !" Seru Dirga.
Aisya kemudian menganggukan, kemudian ia berubah menjadi pelan dan hati hati. mungkin akan terlihat seperti lebay.
"Cara makan mu tadi terlihat beringas, kau Jangan-jangan kau.." ucap Dirga yang tidak melanjutkan perkataan
"Jangan-jangan apa Tuan ?" tanya Rama sedikit heran.
"Ah, sudahlah, sepertinya kau lebih paham, " ucap Dirga sambil tertawa bersama Rama
"Maaf pak, jika cara makan saya menganggu," ucap Aisya kesal.
"Lain kali, harus tenang, kamu disini dengan atasanmu. Teeus ingat cara makan itu menunjukkan kepribadian dari dirimu, " ucap Dirga.
Hah, teori dari mana, Batin Aisya
"Maaf pak," Aisya mengangguk sambil memperlambat makanan nya.
Aku harus makan slow motion , sedikit Jaim , hah sangat rese sekali hidup sama orang kaya, batin Aisya sambil membereskan makanannya.
"Aisya, kamu uda punya pacar belum ?" tanya Dirga dingin sambil menyimpan makanan menatap Aisya. hal itu membuat Aisya sedikit membuyarkan pikirannya.
Aisya mencoba mengambil air minum, dan meminumnya, sambil mencoba memikirkan jawabannya apa.
Aku jawab apa ya, takut salah lagi nih, batin Aisya.
glek..
"hm...tidak pak, saya tidak pacaran" jawab Aisya
"why ?" tanya Dirga
Aduh nih atasan kepo banget, harusnya Aku jawab iya aja, Supaya tidak ada pertanyaan, batin Aisya.
"Saya punya komitmen pak" jawab Aisya
__ADS_1
"Komitmen sama siapa ? kapan komitmennya dilakukan ?" tanya Dirga
weleh, maksud gue komitmen tidak pacaran, bukan sudah ada yang nunggui, batin aisyah
"Saya berkomitmen untuk tidak pacaran untuk saat ini," jawab Aisya.
"Kamu tidak mau pacaran, berarti kamu siap menikah ?" tanya Dirga merasa aneh.
Rama bengong karen rama begitu aneh dengan sikap bos nya bertanya tanya kepada Aisya mengenai kehidupan pribadinya.
Eh, ini kenapa, kelamaan jomblo, terus karna terdesak mau ama orang ini, batin Rama
Aisya gelagapan menjawab pertanyaan ini.
"kalau memang sudah ada yang serius, menikah itu bukan masalah siap dan tidak siap pak, tapi memang dengan menikah kita akan terus belajar" jawab Aisya
"oh, begitu." ucap dirga mengangguk-angguk seperti mencerna sesuatu dan melanjutkan kembali makannya.
rama yang makin heran dibuatnya.
Dirga kenapa lagi, kalau mau nikah kenapa tidak menerima perjodohan sama partner perusahaannya, toh Lira sepadan, Batin Rama.
"Tau, kita sekalian jelaskan keberangkatan kita untuk perjalanan dinas, " ucap Rama menyela.
"Persiapan kamu sudah beres ?" tanya
Dirga
"Sudah pak, tinggal merapikan berkas yang kemarin saja" jawab Aisya.
"Seminggu lagi kita berangkat" jawab Dirga
"hah, bukannya bulan depan pak ?" celetuk Aisya kaget karena kemarin merasa santai -antai saja.
"kebijakan Tuan Besar bisa berubah, kamu cukup ikuti saja" jawab Rama dengan ketus
"oh..iya pak" jawab Aisya.
"oke.. persiapkan diri kamu," ancam dirga sembari keluar ruangan
Aisya mengangguk dan menghela nafas "hm,, gini saja membuat jantungku copot saja," gumam Aisya sambil berjalan keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued