Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Tugas baru


__ADS_3

Pertemuan mereka memang dijadikan sebagai moment untuk bersenang-senang dengan cara mengomentari orang-orang disekelilingnya. wanita memang banyak sekali mulutnya, hal yang tak penting pun ketika sudah bertemu dengan sahabatnya bisa menjadi bahan obrolan. kebiasaan Aisya dan Sinta semenjak kuliah memang tidak bisa dihilangkan, terkadang saling mengingatkan jika sudah diluar batas. Tetapi entah kenapa aktivitas itu begitu mereka nikmati.


Mereka tidak pernah mau berurusan dengan orang lain, mengalah lebih utama, tetapi menggunjing dibelakang mereka jagonya. mungkin julukan yang tepat bagi mereka bermuka dua.


Sinta sudah mengantarkan Aisya didepan tempat tinggalnya, sebelum Aisya keluar Sinta berkata "Aisya, mungkin kita ga bisa bersua lagi sebelum keberangkatanmu ke AS, karena aku banyak pekerjaan"


"Santai saja Sinta, kita kan masih bertukar kabar via ini" Jawab Aisya sambil tersenyum dan mengacungkan ponselnya.


Sinta tersenyum, "Maaf, aku tidak bisa mengantarkanmu."


"Hati-hati, selama disana Aisya !" lanjut Sinta.


"Iya, tidak apa-apa, see you next time," jawab Aisya sambil membuka pintu.


"oke, see you to, bye" Sinta pun melambaikan tangannya.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Sinta sudah menghilang dari pandangan Aisya dan ia segera masuk kedalam Mes untuk beristirahat.


***


Pagi hari ia sudah merapikan semua kebutuhannya kedalam koper karena keberangkatan tinggal satu hari lagi.


Aisya segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor, karena hari ini ia harus menghadiri rapat untuk persiapan besok.


**


Di kantor


Aisya sudah masuk di ruangannya, dan segera membawa berkas yang dibutuhkan. Aisya langsung masuk ke ruangan Meeting dan memang sengaja Aisya lebih awal, tidak mau membuat atasannya menunggu yang nanati ay membuat masalah, kemudian satu persatu peserta meeting masuk ruangan dan yang terakhir adalah Pa Dirga dan Pa Rama.


Selama dua jam Acara Meeting berjalan dengan lancar, semua persiapan dan berbagai kendala sudah teratasi. seketika beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Rama mendekat untuk memberikan beberapa berkas seraya berkata "Aisya, besok saya tunggu di Lobby, saya harap kamu bisa tepat waktu,"


"Baik pak, " Ucap Aisya, mungkin hanya itu yang bisa sampaikan oleh Aisya yang melihat atasannya kelaur dari ruangan Meeting.


Aisya menghela nafas begitu dalam, mengingat dirinya pertamakali melakukan perjalanan untuk masalah pekerjaan dan tidak tangung-tanggung perjalanan dinas tersebut hingga ke negeri Paman Sam. Setitik bahagia mungkin ada, namun rasa khawatir lebih banyak menguasai batinnya, entah kenapa pikirannya selalu akan terjadi hal buruk pada dirinya. Mencoba menepis semua bayangan yang ada dalam pikirannya, namun tak kunjung sirna.


"Seandainya perjalanan ini adalah sebuah rekreasi bersama sahabat karib nya, mungkin akan terasa lebih menyenangkan," Gumam Aisya beranjak dari tempat duduknya dan segera kembali keruangan kerja.


***


Ruangan Dirga


"Rama, kau sudah persiapkan semuanya kan ?" Ucap Dirga dengan gerakan memainkan pena

__ADS_1


"Sudah Bos" Ucap Rama


"Termasuk untuk wanita yang akan kita ajak kesana, kau sudah memberitahu dengan rinci apa yang harus dia kerjakan" tekan Dirga


"Sudah, draffnya saya sudah kirimkan dan menyuruhnya untuk mempelajarinya" ucap Rama santai


"Sebenarnya saya akan mempermainkan anak itu, karena dia sudah berani menceramahiku" Ucap Dirga dengan nada sedikit tegas


Rama, tahu betul sikap dari Atasannya, karena yang bisa bersend gurau hanya orang terdekatnya saja, seperti rama. Namun, ia tetap Dirga, orang yang paling berkuasa di perusahaannya, memiliki sikap dingin dan acuh. Namun, ia tidak menyukai pemikirannya dibantah, meskipun ia bertanya itu hanya sebuah retorika sahaja. Pemikiran yang sedikit liberal inilah yang melekat pada diri Dirga, meski tak pernah ia tampakan.


***


esok pagi


Semuanya sudah dipersiapkan, kini mereka berada di bandara tak terkecuali Aisya. Aisya terlihat sangat gugup karena baru pertamakali bepergian sangat jauh, perasaan khawatir pun selalu menghantui Aisya. Meskipun sebelumnya sudah meminta doa restu kepada sang ibu melalui sambungan telepon.


Rama menghampiri, "Aisya, Kau sudah siap," tanyanya.


Aisya menganggukan kepalanya, "Sudah Pak."


Dirga mendekat dengan memasukan kedua tangannya ke dalam kedua saku celananya, " Apakah ini pertama kalinya kau keluar negeri ?" Tanyanya di ikuti senyuman ramah.


Wah pak Dirga ramah sekali hari ini, Batin Aisya yang biasanya atasannya tak pernah senyum.


Aisya sedikit mengangkat kedua kepalanya diiringi senyuman, "Iya pak, saya belum pernah naik pesawat juga, apalagi ke luar negeri," Jawabnya sedikit gugup.


Aisya dengan ramahnya, "Iya pak," dengan nada sedikit melemah.


***


Tibalah di AS, waktu perjalanan yang sangat lama membuat Aisya tertidur. Ia tidak mengetahui rute dengan jelas. Bahkan saat bangun Aisya, hanya mengikuti kedua atasannya, karena takut tertinggal terlebih ia tidak mengerti bahasa dan benar-benar asing baginya.


Mungkin Aisya sedikit norak melihat kondisi diluar negeri. Ingin rasanya ia mengabadikan momen langka ini melalui ponselnya, sehingga ia merogoh ponselnya di dalam tas, kemudian diam-diam memotret sekeliling. Tak lupa ia selalu fokus untuk mengikuti kedua atasannya.


***


Setibanya di sebuah apartemen yang cukup mewah. Dirga segera membawa Aisya ke dalam apartemen untuk menunjukkan kamar untuknya.


Rama membukakan pintu kamar untuk Aisya, "Kamu, Nanti tidur di kamar ini ! kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya melalui telepon rumah ini" seraya menunjukkan sebuah telepon.


Aisya hanya mengangguk kan kepalanya, " Baik pak. Terimakasih," ucap Aisya.


"Mulai hari ini kau harus melakukan tugasmu, segera memasak karena tuan tidak bisa makan sembarangan di luar sana. kamu sudah membaca tugasmu kan ? tanya Rama dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


Astaga, aku tidak mempelajari tugasku. Aku pikir di sini aku sebagai notulensi dan merapihkan tugas beliau, ah rupanya aku lupa pekerjaanku di sini, ucap Aisya dalam hati.


Tak memperlihatkan bahwa dirinya tak membaca, " Baik pak, tapi saya tidak bisa memasak ?" sanggah Aisya.


Rama mendengus kecil, "kau memasak ketika Tuan menyuruhmu, tolong baca kembali aturannya," dengan nada sedikit tegas.


Aisya menundukkan kepalanya, "Ba-baik pak."


Rama sedikit memberikan arahan sekaligus peringatan, "Saya harap kau tidak membuat masalah, turuti apa yang Tuan dirga minta ! saya permisi !" Rama hendak pamit dari Aisya.


"Tunggu pak ! maaf pak, nanti pak rama tinggal di sini ?" tanya Aisya.


Rama membalikkan tubuhnya, "Tidak, saya bersama tim lain, kamu bersama Tuan Dirga di sini. Saya rasa cukup, saya undur diri." Ujar Rama yang meninggalkan Aisya.


Deg...


Jantung Aisya berdegup lebih kencang, Ia sedikit kecewa ternyata dia satu ruangan dengan atasannya dan yang lebih mengkhawatirkan tidak ada yang lain. Namun Aisya menepis semua pikiran buruk terhadapnya.


"Tenang Aisya, Pak Dirga tidak akan berbuat apa-apa. Ingat dia itu memperkerjakan ku tak lebih dari seorang pembantu rumah tangga," gumam Aisya untuk menepis semua pikirannya.


"Aku harus bekerja keras, jangan sampai mengecewakan Tuanku," gumam Aisya yang segera menyimpang barang yang ada di dalam koper.


Aisya pun segera membersihkan diri, dan bersiap untuk melaksanakan tugasnya. ia mengambil ponselnya untuk memberikan kabar ke orang-orang terdekat.


"Astaga, aku lupa tidak mengganti kartu ponselku. Aku tidak mungkin meminta bantuan Pak Rama, " gumam Aisya.


"Baiklah selama satu minggu aku tidak akan menggunakan ponselku, untuk urusan pekerjaanku menggunakan telpon saja," gumam Aisyah sambil menyimpan ponsel diatas nakas.


"Aku harus semangat, untuk memulai pekerjaan baruku, " gumam Aisya dengan semangat.


Tak lupa Aisya membuka rincian pekerjaan ia selama disana. Ternyata tidak ada kesulitan yang berarti. Aisya pun segera memulai pekerjaannya.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


to be continued


__ADS_2