Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Maafkan Aku !


__ADS_3

"Kau sedang apa di depan ruangan ku ?" Bentak Dirga dengan memasang wajah yabg tidak ramah.


Aisya terperanjat dan menggigit bibir bawahnya, "Tuan... aku hanya---"


"Masuk !" Perintah Dirga sambil membuka pintu dan menyuruhnya masuk.


Aisya mengikuti Dirga yang masuk keruangan. Dirga mengunci pintu tersebut. jelas ini membuat Aisya menjadi semakin ketakutan.


Akankah aku dibunuh olehnya, atau akankah dia berbuat macam-macam terhadapku, Batin Aisya mulai konflik.


Aisya masih mematung, ia hanya menunduk berdiri berada dihadapannya.


"Kau hanya berdiri saja, duduklah dan cepat katakan apa tujuan kedatangan mu !" Bentak Dirga


Kau tak perlu membentakku, aku di sini ingin berdamai menyelesaikan masalah kita, ucap Aisya yang taak ia keluarkan dan hanya dalam hati saja.


"Hei, kau kenapa Diam saja ? apa kau tuli ?" tanya Dirga.


Aisya mengangkat kedua kepalanya, mencoba memberanikan diri menatapnya.


Aku tidak tuli, aku hanya ingin menagih janjimu, batin Aisya


Aisya yang mulai meremas ujung bajunya. Jantung Aisya tidak bisa dikondisikan ia mulai grogi dan dirinya mencoba berkali-kali menenangkan kondisinya.


Aisya berbicara sedikit terbata-bata, "m.. aku hanya.."


"Cepat katakan dan bicaralah dengan jelas !" Bentak Dirga dengan tatapan yang sangat mengerikan.


Aisya memberanikan dirinya, "Aku menunggu janjimu, Tuan."


"Janji ?" mengernyitkan dahinya.


"Iya, janji yang telah kau berikan, saya harap tidak melupakan itu."


"Apakah aku harus melakukannya ?"


"Aku mohon tuan ? tolong tepati janjimu."


"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu"


kau masih memikirkan terlebih dahulu, padahal disini jelas aku yang dirugikan oleh mu, batin Aisya.


"Bukankah Tuan sudah Janji, akan menyelesaikannya." ucap Aisya yang kini berderai air mata.


"Nanti, aku akan menghubungimu, cepat keluarlah !" usir Dirga.


"Tuan, pesan ku saja tidak pernah kau balas, kau berjanji dua hari setelah kepulangan akan menyelesaikannya, tapi hingga sekarang kau masih saja tidak menyelesaikannya tuan." ujar Aisya.


"Aku janji akan menghubungi mu, kemarin aku ada urusan yang penting, yang tidak bisa ku tinggalkan." ucap Dirga.


Apakah dia sedang membuat alasan untuk menghindar dariku ? Batin Aisya menerka gelagat Tuannya.


"Hei, kenapa kau menatapku begitu ?" Ucap Dirga membuyarkan lamunannya.


Aisya mengerjap seketika, "Tidak Tuan," ucapnya.


"Kalau tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi, kau boleh keluar !" perintah Dirga yang seolah mengusirnya.

__ADS_1


Tak teras bulir air mata Aisya mengalir, ia sesekali menyeka air matanya.


"Baik Tuan, permisi !" ucap Aisya keluar dari ruangan tersebut.


Apakah aku terlalu kasar padanya ? batin Dirga.


Dirga hanya mengacak-ngacak rambutnya, ia benar-benar sangat pusing dengan keadaannya.


Namun ternyata langkah Aisya terhenti kembali.


"Ada apa ?" tanya Dirga dengan tatapan tajamnya.


"Ini Tuan, pintunya terkunci," ucap Aisya dengan bergetar.


Astaga aku lupa, tadi menguncinya, Ah sial batin Dirga.


Dirga bergerak menuju pintu, jelas membuat Aisya begitu ketakutan. Entah, apa yang sedang di pikirkan oleh lelaki itu yang jelas ia datang menghampirinya.


Ya Tuhan Tolong Aku! Apa yang hendak ia perbuat kepadaku, batin Aisya meronta-ronta.


Dirga semakin mendekat mengarah tubuh Aisya, kini jarak mereka sangatlah berdekatan, namun seketika Dirga menatapnya.


"Kalau kau tetap disana, itu menghalangiku," ucap Dirga dengan datar.


"Maaf Tuan," ucap Aisya dengan lirih dan ia pun segera memindahkan diri.


"Keluarlah, sebelum aku berbuat sesuatu terhadapmu !" suruh Dirga.


Aisya Segera keluar dari ruangan tersebut dan dari kejauhan Dirga melihat Aisya berjalan menjauhinya dengan cepat kemudian ia menutupnya.


"Apa yang harus ku lakukan ?" ucap Dirga.


Dirga kembali ke kursinya ia mendudukan dirinya dengan sempurna dan sesekali ia memijit kepalanya.


****


Aisya yang baru saja keluar tidak tahan dengan derai Air matanya, bagaimana mungkin orang yang telah menghancurkan itu berbuat semena-mena. Ia seperti tidak ada harga dihadapannya.


Aisya kembali menangis di ruang Toilet, sekedar meratapi diri dan melepaskan kesedihannya. Ya ternyata dengan menangis mampu meringankan suatu masalah yang ada di hatinya meskipun menangis bukan sebuah solusi. Karena dengan menangis tidak akan mengubah keadaan.


"Ya, Tuhan aku tak sanggup dengan cobaan_Mu. Aku sangat lemah, Berilah kekuatan menghadapi semua ini, " gumam Aisya memejamkan mata dengan berderai air mata.


Aisya sesekali menyeka air matanya karena tidak ingin terlihat habis menangis. Ia tidak ingin masalahnya diketahui oleh orang lain, bagaimana pun itu adalah sebuah aib bagi dirinya.


"Aisya, kau harus kuat. Kemarin kau sudah kuat, kenapa sekarang rapuh kembali, Apakah karena ku bertemu dengannya ?. Tidak ! kau jangan terlihat lemah dihadapannya" ucap Aisya menguatkan dirinya.


"Kau harus lebih tegar untuk menghadapi Monster itu. Ingat dia telah menghancurkan mu," ucap Aisya sambil menyeka air matanya yang tidak terhenti mengalir.


"Hei, Air mata kenapa kau tidak berhenti !" tutur Aisya berbicara seorang diri.


Aisya segera mencuci mukanya dan setelah di rasa tidak terlihat habis menangis ia segera keluar kembali ke tempat kerjanya. Ia sangat beruntung karena di toilet itu sangat sepi, jelas karena itu toilet yang sejajar dengan Tuannya. Tidak sembarangan orang masuk toilet itu.


"Rasanya makan siang ku hari ini adalah tangisan. Sungguh menyedihkan," gumam Aisya tersenyum simpul.


Sepanjang perjalanan ia dihadapkan dengan tatapan kosong tanpa ada suara. Ia kembali ke ruangannya dan ia sekarang harus berpikir keras.


Perut kosong pun ia tak merasakannya, hidup Aisya begitu hampa. Ya, ketidakberdayaan kini telah membuatnya rapuh dan hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Kenapa harus terjadi padaku ?" batinnya selalu berkata hal itu.


Tiba-tiba Ruri menghampirinya karena melihat Aisya yang sedari tadi hanya melamun.


"Aisya, kau sakit !" tanya Ruri selidik.


Aisya terperanjat, "Tidak ! aku baik-baik saja," bohongnya.


"Wajahmu terlihat sangat pucat dan seperti habis menangis," ucap Ruri.


"Tidak, aku hanya lelah saja," bohong Aisya.


"Baiklah, kalau kau ada masalah berceritalah kepadaku. Jangan Segan! aku pergi dulu !" ucap Ruri meninggalkan Aisya seorang diri.


Aku tahu kau ada masalah Aisya, mata mu tak bisa dibohongi, batin Ruri.


Aisya hanya mengangguk kan kepalanya sebagai persetujuannya.


Aku ingin bercerita semua masalah ku, tapi tak semua masalah ku menjadi konsumsi mu. Maafkan aku, aku ingin sendiri dulu. menenangkan diriku sendiri. Biarlah masalah ku menjadi ceritaku, Batin Aisya.


"Haruskah aku menerima kenyataan pahit ini !" gumam Aisya


Saat Aisya kembali melirik ke layar monitornya, untuk mengerjakan tugasnya. terhenti seketika, ketika sebuah tangan meraihnya dengan kasarnya.


"Kau harus ikut denganku !" seru seseorang seraya meraih lengannya.


Aisya sebelum melihat siapa orang yang meraih tangannya ia menepisnya dengan kasarnya, "Lepaskan aku!"


"Beraninya kau terhadapku !" Bentaknya..


Seketika Aisya terperanjat, dan membulatkan mulutnya kemudian ia menutupnya. Ia merasa terkejut dan terheran-heran dengan apa yang ia lakukan.


"Maafkan Aku !" lirih Aisya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continued


\=\=\=≠


Terimakasih sudah membaca dan memberikan like, comment dan vote.

__ADS_1


Fyi ; baca dari awal ya karena banyak yang direvisi terimakasih.


__ADS_2