Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Aku pasti kuat !


__ADS_3

Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.


Ali bin Abi thalib


***


Di sebuah ruangan pribadinya Dirga, berkali-kali membuka laptopnya, namun seolah-olah ia tidak konsentrasi hingga ia memijat dahinya berkali-kali. Dirga memang sedang tidak konsentrasi, karena memikirkan kejadian tempo hari itu.


"Argrrh," gerutu Dirga yang sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Bisa-bisanya aku melakukannya dengan dia, Apa yang harus aku perbuat ?" ujar Dirga bermonolog.


"Lama-lama aku bisa gila, sebaiknya aku segera menyelesaikan masalah ini !" ia berbicara sendiri.


"Apakah Rama harus tahu ? sebaik aku bercerita saja dengannya, mungkin bebanku sedikit ringan." ia bermonolog.


Dirga mengambil ponselnya di saku celanana, kemudian ia menghubungi Rama untuk masuk ke ruangannya. Tak menunggu lama suara ketukan pintu dari luar pun berbunyi.


Tok..tok..tok, suara ketukan pintu.


"Masuk, "ucap Dirga dengan lantang.


Benar saja, dibalik pintu tersebut adalah Rama, Asisten sekaligus sahabat Dirga. Di Kantor mereka terlihat sangat profesional, bahkan Rama begitu sangat hormat. Hal ini Ia lakukan agar terhindar dari celotehan dia nepotisme.


"Ada apa Tuan ?" tanya Rama.


"Duduklah dan kau jangan memanggilku Tuan, lagian ini di ruangan ku," ucap Dirga.


"Baiklah, Tapi aku hanya takut terdengar oleh karyawan lain saja." ujar Rama sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Dirga.


"Tenang saja, aku sudah bilang ke sekretaris ku, agar hari ini aku tidak menerima tamu dulu." ucap Dirga.


Rama, segera duduk, "Ada apa, Ga ?" tanya Rama.


Dirga menghela napasnya dan membuangnya dengan kasar, "Aku sedang memiliki masalah !"


"Masalah apa? Apakah perusahaan kita mengalami penurunan profit ?" Tanya Rama bertubi-tubi.


"Ini bukan masalah perusahaan, tapi tentang Diriku." ucap Dirga yang sedikit melemah.


"Lantas, masalah Apa ? hingga membuatmu seperti ini ?" ucap Rama yang sedari tadi memperhatikan kondisi Dirga yang seperti kurang sehat.


"Aku bingung harus memulainya dari mana, ku harap kau tidak terkejut dan kecewa terhadapku, kau berjanji merahasiakannya, jangan ada yang tahu termasuk keluargaku." Ucap Dirga dengan tatapan kosongnya.


"Ga, kau ini sudah aku anggap sebagai saudara ku sendiri, berbagilah denganku. Apapun masalahnya aku akan selalu ada bersamamu. Aku pasti merahasiakannya jika itu yang kau minta." Ucap Rama


"Aku telah menodai seorang perempuan."


Rama membulatkan matanya, seraya keterkejutannya, "Hah, Apa ? siapa ?" suara Rama begitu lantang hingga membuat telinga Dirga merasa terganggu.


Dirga langsung mengisyaratkan untuk berbicara pelan, dengan segera menutup mulut Rama.


"Kau sudah tuli, Apa ? bisa tidak, volume suaramu diperkecil ? itu akan mengundang kecurigaan orang lain !" Seru Dirga mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Sorry, Aku kaget dan masih tak percaya mendengar ucapan mu ! Kenapa kau bisa seperti itu ? berceritalah ?" ucap Rama.


"Saat Pulang dari pesta itu, aku mabuk berat. Aku melakukannya saat tidak tersadar. Tapi selalu mengelak bahwa aku tidak melakukannya tapi aku berada di sampingnya dalam keadaan yang tanpa sehelai benang."


"Gila, kau ! bisa-bisa tidak merasakannya. Jangan-jangan kau begitu menikmatinya hingga terlupa," Ledek Rama


"Sial, kau ! Aku juga tidak tahu, aku harus bagaimana ?"


"Sebentar, Siapa yang kau maksud, jangan bilang wanita itu a-" ucapan Rama terpotong karena Dirga menyahutinya lebih dulu.


"Iya, Benar. Dia adalah Aisya,"


Rama membulatkan mulutnya sambil menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya, karena merasa tidak menyangka, bahwa Dirga melakukan itu. Ini jauh lebih mengagetkan lagi.


"Apa !!! apakah ada berita yang lebih mengagetkan lagi dari ini ? ternyata kau ada main dengannya ? Apakah dia menjebakmu ?"


"Tidak tahu, Rama. Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi dia terus-terusan meminta pertanggungjawaban kepadaku."


"Berikan saja uang untuk tutup mulutnya, atau kau beri fasilitas apapun yang dia minta," ucap Rama


"Aku pun berpikir demikian, ternyata bukan itu yang ia minta, dia memaksa ku untuk menikahinya. bahkan dia rela di nikahi walau sehari," ujar Dirga.i


"Ya sudah, kalau begitu menikah di KUA tanpa harus ada pesta. Biarkan tetap sunyi. karena bahaya juga kalau dia sampai membocorkan ke khalayak umum," Ucap Rama dengan entengnya.


"Aku berniat seperti itu, bagaimana dengan orangtuaku, apakah akan menerimanya ?" tanya Dirga.


"Kau tak perlu bilang diam-diam saja, Toh nanti kau akan menceraikannya," ucap Rama dengan Entengnya.


"Sebelum itu terjadi, kau segera cek kehamilan dia. Kau segera gugurkan saja !" seru Rama yang berubah menjadi sangat liar.


"Tak ku sangka, kau jauh lebih jahat dibandingkan aku," ucap Dirga.


"Tergantung, jika kau meminta untuk berbuat jahat aku akan lebih jahat begitupun sebaliknya jika kau meminta aku berbuat baik akupun akan jauh lebih baik." Ujar Rama yang begitu menggebu.


"Tapi aku tak tega kalau harus melenyapkan nyawa, Rama. Kalau seandainya dia hamil, aku akan menunggunya hingga lahir. Aku akan memberikan sebuah tempat untuknya. Anggap saja sebagai penebusan dosaku." Ucap Dirga dengan nada sedikit melemah.


"Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu. Sekarang pikirkan kau menghadapi Orangtua mu," Ucap Rama menguatkan sahabatnya.


"Kau harus merahasiakan ini semua, karena kau orang yang tahu masalahku," ucap Dirga.


"Tenang saja, aku akan selalu merahasiakan semua ini, yang harus kau pikirkan adalah perjodohanmu itu !" seru Rama.


"Ia aku tidak ingin mengecewakan mama dan papa," ucap Dirga.


"Sudahlah, nanti kita pikirkan kedepannya, sekarang selesai terlebih dahulu urusan mu satu persatu," Ucap Rama menggaruk kepalanya merasa sangat rumit hubungan Atasannya tersebut.


"Baiklah kau mau, membantu mengurus semuanya ?" Tanya Dirga.


"Baiklah Aku akan urus semuanya," ucap Rama.


***


Aisya kini sedang membuka ponselnya, berniat menghubungi teman. namun ternyata Aisya masih menimang-nimang bahwa dirinya harus menghubungi atau tidak. Aisya merasa sudah banyak merepotkan temannya itu. Ia sangat sungkan. Bahkan selama disini yang ia tahu bahwa Sinta orang kaya, tapi ia tidak pernah main ke rumahnya. Ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Aisya kini masih duduk, sudah beberapa hari ia tidak masuk dengan alasan sakit. Ya, dia sedang sakit hati dan pikirannya saat ini. Perasaan kecewa yang ada dalam dirinya membuat ia tak berdaya.


Aisya pun tersadar, jika dia seperti ini masalah tidak akan selesai, keterpurukan akan membuatnya semakin memburuk. Ia mencoba sekuat tenaga untuk bangkit.


"Besok, aku akan masuk, untuk menemuinya," ucap Aisya dengan aliran air mata disudut matanya.


Ternyata Dirga, benar-benar mengingkari perjanjian tersebut. Ia memang tidak menghubungi Aisya. Inilah yang membuat Aisya terpuruk lagi karena dia telah mengingkari janjinya. Aisya khawatir dengan janjinya tidak ditepati. Ia memutuskan untuk berangkat ke kantor esok hari.


***


Aisya kini sudah berada di ruangan Divisi X, kembali ke ruangan lamanya. Ia menjadi sangat banyak melamun pasca kepulangan dari sana. Aisya kini lebih cuek dari biasanya, bahkan ia tak menghiraukan gunjingan dari rekan kerjanya.


"Aku harus menemuinya hari ini," gumam Aisya mengepalkan kedua tangannya.


"Neng, sudah masuk. dengar-dengar lagi sakit ya ?" tanya seseorang petugas kebersihan ruangan yang cukup membuyarkan lamunannua, ia adalah Bi Mina.


"Eh,.. m.. Bi Mina, Ia Bi Aisya sedikit kurang enak badan." jawab Aisya dengan senyuman terpaksa.


"Kenapa sudah masuk kalau masih sakit, perusahaan juga pasti mengerti," ujar Bi Mina.


"Tidak Enak B,i terlalu lama istirahat, aku tak mau makan gaji buta. Lagian aku sudah bisa beraktivitas," ucap Aisya tersenyum.


"Ya, sudah tetap jaga kesehatan ya Neng, bibi Pamit dulu masih banyak pekerjaan," ucap Bi Mina sambil berpamitan.


Sepanjang Perjalanan Bi Mina bertanya-tanya karena merasa ada yang aneh dengan sikap Aisya, yang biasa ceria kini bermuram durja.


Saya yakin Neng Aisya memiliki masalah lagi. Tidak seperti biasanya. Mungkinkah karena penyakit? batin Bi Mina bertanya-tanya.


***


Waktu istirahat telah tiba, ia mencoba menuju ruangan utama dari atasannya. Meskipun dalam hati kecil ia merasa ketakutan tapi dia mencoba memberanikan diri.


Ia berjalan menuju pintu ruang Direktur, kini ia sedang berada di depan pintunya. Ia menghela napas dan membuangnya dengan kasar.


"Ayo, Aisya kau harus kuat," gumam Aisya menyemangati dirinya.


ketika pintu akan diketuk, terdengar suara seseorang, sehingga menghentikan ketukannya. Ia merubah posisi tubuhnya mengikuti arah datangnya suara.


"Kau sedang apa di depan ruangan ku ?" Bentak Dirga dengan memasang wajah yang tidak ramah.


.


.


.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2