Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Minta Maaf


__ADS_3

***


Esok pagi, Aisya tersadar dari pingsannya, merasakan tubuhnya begitu kesakitan. Namun kini ikatannya sudah terbuka dan mendapati dirinya dalam keadaan tanpa helai benang dalam tubuhnya, hanya selimut yang menutupinya. Bulir air matanya kini membasahi pipinya, ia meratapi nasib dirinya.


Ia melebarkan pandangannya, ia mendapati seorang lelaki duduk ditepi ranjang, dia adalah orang yang telah meruda paksa dirinya.


"Kau, sudah sadar, sebaiknya kau mandi terlebih dahulu, Saya tunggu di meja makan !" seru Dirga dengan dingin dan meninggalkannya.


Ada rasa takut dan amarah yang memuncak, ia ingin melontarkan semua kata-kata kasar terhadapnya. Namun ia memilih untuk menahan semua itu. Aisya tak berbicara sepatah kata pun, ia hanya menangis meratapi nasib dirinya. Kesucian yang selama ini ia jaga, sekarang telah sirna. Aisya seperti kehilangan arah dan air mata pun kini tak bisa keluar lagi. Aisya ingin sekali marah, berteriak menyesali dirinya. Namun sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, selain dia harus bangkit.


Aisya segera mandi dan membersihkan diri. Kini ia merasa dirinya kotor dan hina, itulah yang ada dalam pikirannya. Namun ia tidak boleh terlarut dalam masalahnya. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini.


Aisya memandangi dirinya melalui cermin, Kondisinya memang sangat memprihatinkan, muka penuh lebam. Aisya kembali menangis, mengingat kejadian itu. Ia tak mampu membendung air matanya dan terus menyalahkan dirinya.


Aisya keluar dan menemui Dirga yang sedang duduk di meja makan. Aisya memberanikan diri, meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.


Aisya berdiri dihadapan Dirga, ia mengetahui kedatangannya dan Dirga menyuruh duduk dihadapannya, "Untuk kejadian semalam, Aku minta maaf itu diluar kendaliku."


Ck, dengan mudahnya kau bilang seperti itu, kau tidak punya perasaan, batin Aisya dengan tatapan menahan air mata dan amarah.


Aisya menghela nafas, dan mencoba untuk tenang, "kata Maaf tidak bisa mengembalikan sesuatu yang telah kau ambil dariku."


"Maaf, aku tidak bisa mengembalikan sesuatu yang telah hilang darimu."


lagi-lagi maaf yang terlontar, aku muak mendengarnya batin Aisya yang sudah marah bahkan tak terasa bulir air menetes dari sudut air matanya. Sebenarnya Aisya tidak ingin memperlihatkan kesedihannya, apalagi melihat ketidakberdayaan dirinya dengan mengalirnya air mata.


"Aku harap kamu bisa adil terhadap diriku, kau mengambil sesuatu yang berharga dariku. Maka kau pun harus menyerahkan sesuatu yang berharga bagi dirimu."


"Aku tidak mengerti atas ucapan mu, apakah kau tidak bisa berbicara terus terang saja ?" tanya Dirga.


"Anda harusnya mengerti tuan, apa yang sedang saya inginkan."


Dirga mulai mengangkat kepalanya,"Lantas apa yang harus aku lakukan ?"


Aisya menghela nafas dan membuangnya dengan kasar, "Masa depanku sudah hancur, sesuatu yang ku jaga selama kini telah hilang, kau harus bertanggung jawab atas semua ini."


Dirga mengernyitkan dahinya, "maksudmu ?"


"Anda masih tidak mengerti juga tuan !"


"Berbicara lah dengan jelas, biar aku bisa memahami keinginanmu," Ucapnya datar.


Aisya hanya terdiam, ia hanya menahan amarahnya.


Apakah dia pura-pura tidak mengerti dengan aku maksudkan ? batin Aisya mengerutu.

__ADS_1


Aisya melanjutkan perkataan nya, namun terpotong, "Aku hanya meminta --"


"Uang ? baiklah berapa uang yang kau butuhkan ?" potong Dirga dengan tenangnya


Aisya seketika muka merah padam menahan amarahnya, ia berdiri dan menggebrak mejanya.


Braak


"Aku bukan wanita tuna susila, yang menjual diriku hanya demi uang !" bentak Aisya mengepalkan tangannya dengan bulir air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Dirga dengan datarnya menoleh ke arah Aisya, "Lantas apa yang harus ku perbuat ?"


"Kau harus Menikahi ku !" ujar Aisya dengan tanpa menyadari perkataan nya.


Aduh bagaimana ini, aku terlihat seperti pengemis dihadapan. Tidak, aku harus memperjuangkannya, karena ini harga diriku ! pikir Aisya.


Dirga hanya tersenyum simpul, "kenapa, aku harus menikahi mu ?"


Aisya dengan terbat-bata "A-Anda sudah melakukan hal yang sangat fatal untukku dan hanya itu jalan yang bisa menyelamatkan masa depanku."


"Aku akan menikahimu jika kau hamil," ucapnya datar tak berekspresi.


"Maksud anda ?"


"Dirga melirik dengan tajam, "Apakah kurang jelas perkataan ku, Bukankah kalau kau tidak hamil, tidak akan menjadi masalah ? kehamilan yang membuatmu menjadi masalah ?"


"Menikah bagiku sangat tidak mungkin apalagi denganmu, aku akan memberikan mu uang, berapapun yang kau butuhkan."


Lagi-lagi senjatanya uang, batin Aisya.


"Bagimu mungkin uang segalanya, tp bagiku kejujuran adalah segalanya. aku bisa saja melakukan sesuatu yang bisa mengembalikan kehormatan ku, namun tetap saja aku telah berbohong, dan aku tidak mau melakukan itu."


"Aku tidak mungkin mengatasnamakan aku perawan tetapi ternyata tidak," Pungkas Aisya.


"Kau bisa mengatakannya pada suamimu nanti, bahwa kau sudah tidak perawan karena sebuah kecelakaan ? ayolah jangan mempersulit yang mudah."Ucap Dirga dengan entengnya.


"Apakah perkataan ku tadi masih kurang jelas ? aku tidak mau ada kebohongan." Jawab Aisya dengan sedikit penekanan.


"Kalau begitu, kau cari yang benar-benar mencintaimu, supaya bisa menerima keadaanmu," ujar Dirga


Aku butuh pertanggungjawaban mu Tuan ! Haruskah aku memohon kepadamu ? Nyatanya kau terlihat tak sedikitpun merasa bersalah. batin Aisya.


"Tuan yang merusakku, kenapa ornag lain yang harus menanggung nya !, Tuan saya mohon, Nikahi aku setelah itu kau boleh menceraikanku.. aku hanya butuh pengakuan bahwa diriku memang sudah pernah di miliki orang lain. Jadi aku tidak akan sulit menjelaskan keadaanku pada suamiku nanti. Aku mohon Nikahi aku walaupun hanya satu hari !" mohon Aisya seraya meneteskan Air matanya yang sedari tadi terbendung.


Aisya, hari ini terlihat seperti seorang pengemis cinta, pada seseorang tak menaruh hati padanya. Ia hanya meminta sebuah pertanggungjawaban atas dirinya yang sudah terluka, Namun apalah daya, takdir seolah tak membantunya. Orang yang ia harapkan untuk menutupi aibnya sama sekali tidak merasakan rasa bersalahnya. Nyatanya, Benar bahwa seorang lelaki itu bisa tidur dengan siapapun tanpa harus ada dasar cinta mereka hanya menggunakan nafsu saja. Namun Aisya akan terus berusaha mendapatkannya meski hanya sementara.

__ADS_1


Dirga membuyarkan lamunannya, "aku tidak mungkin melakukan itu !!"


"Lantas, kenapa kau melakukan hal itu kepadaku, jika kau tidak mau bertanggung jawab ?"


"Lagi pula aku melakukannya karena ketidaksengajaan, atau jangan-jangan kau menjebakku ?" Dirga mulai membela dirinya.


plak...


sebuah tamparan mendarat di pipi Dirga,


"Aku tidak sehina itu Tuan Dirga Maheswara !"


"Beraninya kau, menamparku!" Dirga memegang pipinya, dengan tatapan tajam, ia menunjukkan amarahnya.


Aisya terdiam ketakutan, tubuhnya bergetar mengingat kejadian malam itu. Namun sebuah ketukan pintu membuyarkan semuanya.


tok..tok..tok..


Dirga mendekati Aisya, "Kau diam, jangan sampai masalah ini orang lain mengetahuinya, ke kamar lah bersihkan dirimu, aku tak mau melihat kau seperti teraniaya, tunjukkan sikap biasa mu," ancam dirga.


"Baiklah percakapan kita akan dilanjutkan setelah pulang dari sini, kau bersiaplah karena Rama sebentar lagi menjemput kita," lanjut Dirga.


"Tidak! saya ingin menyelesaikannya hari ini juga, Tuan harus menikahi ku ! Cukup Tuan menyetujui nya," pungkas Aisya.


"Kau bisa pegang ucapan ku, aku akan membereskan ini semua, setelah kita pulang dari sini."


"Baiklah, saya pegang ucapanmu Tuan !"


****


Aisya pun bergegas ke kamarnya dan segera berkemas membereskan semuanya. kemudian seorang pelayan membereskan barang Tuan Dirga. Selang 30 menit semuanya sudah rapi tinggal membawanya. Aisya membawa koper dan begitupun seorang pelayan membawakan kopernya. untuk di masukan ke dalam bagasi. Di sana sudah ada Tuan Dirga dan Pak Rama yang sedang berbicara.


"Rama, mungkin beberapa hari ke depan saya tidak masuk kantor terlebih dahulu, kau handle perusahaan," Ujarnya.


Itulah yang terdengar terakhir pembicaraan mereka. Merekapun bergegas pulang dan selama perjalanan Aisya tidak berbicara sepatah katapun, hal itu membuat Rama sangat merasa kebingungan. Namun, ia menepis semua pikirannya, apa pedulinya, pikirnya.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


To be continued


__ADS_2