
"Baiklah. Terserah Mama, aku ke kamar dulu Ma, Pa," Ucap Dirga meninggalkan ruangan tersebut menuju kamarnya.
Sesampainya di Kamar Dirga, langsung merebahkan badannya. Ia bergumam dalam lamunannya, "Mama, ingin mempertemukan dengan siapa lagi." Dirga mulai gelisah dan memikirkan bagaimana caranya untuk menolak tanpa harus menyakiti kedua belah pihak, Dirga mengambil ponsel untuk memberikan kabar kepada Rama untuk tidak masuk kantor.
Rama, Hari ini saya tidak masuk kantor, tolong handle terlebih dahulu urusan kantor, mengenai keberangkatan ke AS, Berkasnya segera Bereskan~Dirga
"Baiklah, Siap Bos"
Dirga tidak membalasnya, ia hanya meletakan ponselnya diatas nakas. Ia kembali merebahkan badanya dan menatap langit-langit seraya memijit dahinya. Ia sednag memikirkan sesuatu yang menimpa dirinya, kini mengantuk mulai menyerang ia pun Tak terasa tertidur.
Suara ketukan pintu membuat Dirga mengerjap terbangun dan terdengar suara memanggil namanya di luar sana.
tok..tok..tok.
tok..tok..tok..
Dirga, Dirga,...
"Iya, tunggu sebentar," seru Dirga sambil bangkit dari kasurnya dan mengumpulkan semuanya nyawanya, ia bergegas menuju pintu untuk membukanya.
ceklek, Suara pintu terbuka dan menampakan sosok wanita paruh baya yang tiada lain Mama Berti dengan memberikan serangan berbagai pertanyaan.
"Dirga, kamu tidur ? mama kan menyuruh kamu untuk bersiap. Segera mandilah sebentar lagi teman mama datang !" ucap mama Berti dengan kesalnya
Dirga uang masih belum sadar sepenuhnya, "Iya, Ma, Dirga kelelahan jadi ketiduran." dengan langkah gontai ia duduk di tepi ranjangnya seraya menggisik matanya.
Mama Berti berjalan mendekati Dirga, "Cepatlah ke kamar Mandi ! sambil memberikan handuk kepada Dirga dan ia pun mengambilnya tanpa bersuara.
"Mama mau bersiap dulu, mama tunggu ya di ruang tamu !" Perintah mama Berti sambil meninggalkan kamar Dirga.
"Iya Ma" jawab Dirga dengan malasnya
"Memang Siapa yang akan datang ! menganggu saja," gerutu Dirga sambil menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri Dirga segera memakai pakaian, entah kenapa ia merasa akan berangkat ke kantor karena ia baru terbangun. Mungkin benar jika tidur sore itu mengakibatkan Pikiran kita berada di lorong waktu yang berbeda.
Dirga mengenakan pakaian yang sangat formal lengkap dengan dasinya. Ia terlihat sangat tampan dan gagah. Siapapun yang melihatnya akan terpesona olehnya.
Ia segera keluar menuju ruang tamu, namun sebelumnya ia pergi ke dapur terlebih dahulu karena ia merasa kehausan.
****
Tibalah keluarga Lira datang di rumah Dirga, kemudian di sambut oleh sang Mama.
"Eh jeng, sudah sampai, ayo masuk, Silahkan duduk !" ujar Mama Berti sambil menyalami dengan sebuah rangkulan.
"Dirga, sini !" teriak Mama Berti
Tak lama kemudian Dirga menuju ruang tamu, namun ekspresi Dirga biasa saja karena ternyata benar dugaannya ternyata mamanya akan memperkenalkan Lira.
"Ini tak perlu dikenalkan juga, kan dulu Mama yang menyuruh jemput dia mama," gumam Dirga sedikit kesal.
"Sini-sini,, duduk" ucap mama Berti senyum sendiri.
"Lira, kamu semakin cantik," puji mama Berti.
"Terimakasih tante" jawab Lira tersenyum
Tibalah Dirga, dan menyapa mereka di ruang tamu,
__ADS_1
"Siang tante, siang Lira, " sapa Dirga dengan senyuman ramahnya.
" Aduh, anakmu tampan sekali dan ramah lagi " ucap Tante Misca melirik Lira.
"Ah, biasa saja Tante" Jawab Dirga tersenyum.
"Dirga, kamu formal sekali, kamu mau ke kantor ?" Tanya Tante Misca.
Dirga baru menyadari bahwa dirinya sekarang tidak akan ke kantor, "Astaga, aku lupa. bagaimana cara mengelak, supaya aku tidak mempermalukan diri," batin Dirga mulai berpikir keras.
"Iya, tante kebiasaan di hari weekday jadi terbawa, lupa kalau hari ini Dirga Libur" jawab Dirga dengan senyuman.
" Wah, wah anakmu Berti sangat pekerja keras ya" ucap tante Misca terkagum-kagum.
"Iya, sulit sekali Mamanya buat bertemu dia, ya harus seperti ini baru bisa bertemu" jawab Mama Berti dengan senyuman jahilnya.
Suasana seolah tegang, karena Dirga tidak mengharapkan pertemuannya dengan Lira, karena mereka sudah berkomitmen untuk tidak melakukan jalinan Asmara meskipun ada sebuah perjodohan, mereka akan menolaknya
" Dirga, kamu sudah kenal Lira kan, Terimakasih sudah menjemputnya waktu itu, tante belum sempat kesini baru sekarang" ucap Tante Misca
Huh, Mama ga tau, yang jemput bukan dia batin lira
"i...iya, tante" Dirga gelagapan karena pada waktu itu sebenarnya yang menjemput di bandara adalah Rama yang merupakan teman sekaligus asistennya
"Sepertinya kalian sudah mengenal dekat, apa kalian tidak ada niatan untuk ke jenjang yang lebih Serius, bener ga Berti ?" ucap Misca melirik sama Berti dengan senyuman yang menggelitik.
"Iya, sih inginnya anak kita, segera di nikahkan saja" ucap Mama Berti tersenyum melirik Dirga.
"lagian, usia kalian sudah cukup untuk berkeluarga" ucap Misca
Seketika mereka berdua tercengang dan beradu pandang dan seolah alergi membangun sebuah keluarga.
"Belum, Ma, alangkah sebaiknya kita mengenal satu sama lain, benerkan Dirga ? " jawab Lira seolah meminta persetujuan Dirga.
"Berti anak-anak zaman sekarang memang sulit ya, mau kita jodohkan juga banyak sekali alasannya untuk menolak" ucap Misca seolah tahu ketidaksetujuan dari kedua anaknya.
"Iya Misca, kita tidak bisa memaksakan kehendak mereka" Ucap Berti merasa kecewa.
hal ini membuatku buang-buang waktu saja, coba kalau dikantor pasti lebih produktif, batin Dirga kesal
"Kita makan siang saja dulu yuk, nanti Dirga Antar Lira untuk ke Pemotretan ya" ucap mama Berti
"Apa ma? " ucap Dirga malas
" kamu sudah tuli, jangan menolak" ucap Mama Berti Berbisik kepada Dirga
"Tidak Perlu, tante. Lira nanti mau berangkat sama teman Lira, maaf !" sahut Lira
Bagus, supaya aku tak perlu susah payah menunggumu hingga jamuran disana, batin Dirga dengan senyuman sinis
"Bagus dong, sekalian nanti Dirga bisa di perkenalkan dengan Teman-temanmu" ucap Mama Berti
"Mama, jangan memaksa kalau Lira tidak mau" ucap Dirga ketus.
"Sesekali saja ya, tidak lama kok !" Seru Mama Berti
"Iya, Ma" jawab Dirga malas karena tahu itu keinginan ibunya.
Waktu sudah menunjukkan makan siang mereka pun, makan siang di rumah Dirga, dan diselingi obrolan kecil.
__ADS_1
setelah selesai makan siang, Lira dan Dirga pamit untuk menuju tempat pemotretan, sedangkan Mama Berti dan Mama Misca pergi hangout ke mall, karena mereka merupakan ibu-ibu sosialita
"Lira, kita sudah sepakat untuk tidak melanjutkan hubungan ini," ucap Dirga
"Iya, Aku tahu itu, bukankah kita ini sudah sepakat tidak melanjutkan, tetapi mengapa orang tua kita menyatukan kita kembali ? " ucap Lira
"Entahlah, aku pun heran dengan mama, dulu tak pernah mengekang tetapi sekarang mengekangku, sebaiknya kau pikirkan jalan keluarnya, Bukankah kau punya kekasih ?" ucap Dirga
"Iya, tenang Saja, aku akan memikirkannya, kamu tak perlu mengantarkanku, aku mau di jemput seseorang" ucap Lira
Akhirnya Lira turun disebuah Mall karena akan dijemput oleh kekasihnya, sedangkan Dirga memilih pergi ke Kantornya, karena sehari tidak ke kantor rasanya kurang afdol, karena Dirga ini orangnya sangat teliti.
****
Kantor
Dari pagi, Aisya di sibukkan oleh persiapan berkas untuk ke AS, meskipun semangat untuk keluar Negerinya tiba-tiba padam, perasaan malas melandanya. seorang Aisya biasa hidup dengan banyak orang tiba-tiba dia harus memiliki ruang sendiri yang secara langsung menutup diri dengan karyawan lain, bahkan keheningan yang sering dia dapatkan. Selain itu, Aisya belum memiliki teman terdekat kecuali Bi Mina yang biasa membersihkan ruangan dulu. sekarang dia hanya berjumpa dengannya saat istirahat saja.
"Membosankan sekali bekerja diruangan sendiri, bisa-bisa aku keluar dari ruangan ini jadi manusia purba" ucap Aisya.
"aarrghhhh" memijat kepalanya.
Tiba-tiba ketukan pintu membangunkan lamunan Aisya
tok..tok..tok...
tok..tok..tok..
ceklek
Rama datang dan menyapa Aisya,
"Bagaimana sudah beres ?"
"Sudah pak" jawab Aisya
"Pak, bolehkah saya bertanya sesuatu" tanya Aisya
"Iya, ada apa Aisya ?" tanya Pak Rama.
"Setelah beres dari AS, saya dikembalikan ke ruang kerja yang lama ?" tanya Aisya
"Tergantung Tuan besar" ucap Rama singkat.
"Sudahlah sekarang nikmati saja dulu, jangan banyak bertanya" ujar Rama meninggalkan ruangan
"Baik, pak" jawab Aisya
huh, memang benar ya, perusahaan seperti ini sangat profesional, tetapi aku butuh pekerjaan yang membuat diriku enjoy dan hangat bukan suasana yang mencekam gumam Aisya kembali membuka layar PC nya
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued