
Masih dalam rasa sesal yang tiada terkira sambil merapikan beberapa dokumen di komputernya dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang merasa pusing sekali.
terlebih sepanjang hari ini dia merasakan kesialan yang tiada berujung.
"Aku tidak mengerti, tuga menemani ahrus seperti apa ? " gumam Aisya.
Setelah sejam berlalu, Aisya memikirkan untuk menghubungi Atasannya, dan menimbang dan menakar, berbicara sendirian dan pusing sendiri, akhirnya Aisya memberanikan menelpon kantor Atasannya.
"Mudah-mudahan tidak terjadi apa apa," gumam Aisya.
Aisya segera menghubungi melalui telpon kantornya.
tuut...
"Iya?" jawab di sebrang telpon sana
deg,
"Hallo, selamat sore ! mohon maaf Tuan mengganggu, saya Aisya," sahut Aisya
"Iya, tahu, ada apa ?" jawab Dirga datar.
"Saya ingin mennayakan terkait nanti, apa yang harus saya persiapkan Tuan ?" tanya Aisya.
"Kamu berpenampilan menarik saja, nanti saya tunggu di lobby ya" ucap Dirga tersenyum.
"baik pak" jawab Aisya.
Berpenampilan menarik itu seperti apa, sudahlah aku pusing memikirkannya, batin Aisya.
***
Diruangan Dirga sedang mengobrol dengan Rama membicarakan masalah perusahaan
yang sedang memgobrol tiba tiba dering telpon menghentikan obrolan mereka.
tut..tut.tut Dirga menutup teleponnya.
"Kau, yakin mau membawa dia ?" tanya Rama meragukan.
"Iya, menurutmu tidak terlalu memalukan bukan ?" tanya Dirga.
"Tidak juga Tuan, dia unik," ucap Rama
"Benarkah? pilihanku selalu tepat bukan ?" tanya Dirga.
Rama diam sejenak memikirkan ucapan Atasnnya.
ah, jangan jangan dia suka lagi sama anak baru itu, batin Rama merasa curiga.
Rama mengangguk, "Ia betul, Ga !," ucapnya seringai tersenyum.
Dirga pun tersenyum, seperti sedang membayangkan sesuatu.
Wah benar firasat ku, Dirga sedang mengincar gadis itu, batin Rama
"Kamu jangan, berpikir aneh
-aneh rama, saya hanya ingin memperkerjakan dia. Aku kan sudah memberikan gaji yang fantastis untuknya. Sangat rugi sekali jika tidak dipergunakan," tegas Dirga.
"Siapa yang berpikir aneh, aku selalu percaya padamu." jawab Rama tersenyum
Dirga meminta nomor ponsel Aisya dengan alasan ia akan menghubunginya nanti.
__ADS_1
***
Dikantor Aisya, dia mulai gelisah tidak mengerti dengan ucapan sang penguasa tersebut.
"hmm... kata-katanya penuh banyak arti, maksudnya apa ? aku harus berpenampilan menarik ?" gumam Aisya
tiba-tiba pemikiran liar Aisya mulai menyerang, " aduuh jangan-jangan aku akan dijual olehnya. Mungkinkah dia seorang mucikari ? tidak, itu tidak mungkin !," ujar Aisya bermonolog.
Pikirannya mulai tak menentu, ketakutan terus menghantui, meskipun ia berkali-kali menetralkan pikirannya, namun tetap saja ia berpikir yang aneh-aneh.
"Apakah mungkin aku akan diperkenalkan kepada Sugar daddy ? ah tidak, sebelum itu terjadi aku harus, segera menghindar." Ucap Aisya yang sedang menyusun rencan menyelamatkan diri.
Sebuah notif pesan di ponselnya membuyarkan lamunan dia.
"Nomor baru, Ini nomer siapa ?" gumam Aisya mengernyitkan dahinya dan segera membuka pesan tersebut.
Aku akan menjemputmu di Asrama, berpenampilan menariklah. Dirga Tuanmu~Dirga
"Hah, katanya di Lobby, sekarang pindah haluan lagi," gumam Aisya
"Apakah aku harus pura-pura sakit saja, " sikap licik Aisya mulai tersenyum.
"eits, dia tahu aku tinggal di Asrmaa, tak bisakah aku mengindari manusia ini yaa tuhan....." gumam Aisya memelas.
tiba tiba ada notif kembali.
jangan mencoba mencancel dadakan,~Dirga
"ini orang sepertinya, tahu pikiranku bahaya sekali" gumam Aisya.
Aisya mencoba menjawab dengan sesingkat singkatnya.
Baik Tuan~ Aisya
Waktu sudah menunjukan pukul. 18.00, Aisya segera berkemas dan pulang ke Asrama, dan ingin sekali istirahat untuk hari ini yang penuh dengan emosi. Namun apalah daya, dia mendapatkan tugas negara dari sang penguasa yang tak bisa dilawannya.
***
Disebuah kamar ia mencoba menggunakan bebagai pakaiannya. Masih mengingatnya kata menarik ia bingung ahrus berpenampilan seperti apa. Ia semakin dibuatnya bingung, kemudian dia sejenak berpikir dan tersenyum licik.
"aku ingin sekali membuat dia kecewa hari ini, mungkin dengan berpenampilan seperti itu Tuan itu tidak akan mengajakku kembali, atau ketika aku mau dijual pun, mereka pasti merasa iba terhadapku." gumam Aisya yang masih takut dengan ajakan Atasnnya tersebut.
tring, tanda masuk sebuah pesan Aisya segera membukanya.
Kamu menggunakan bajunya warna pink ya~ Dirga
hah, dia mengendalikanku cara berpakaian hingga harus menggunakan warna yang dia inginkan, aku balas saja tidak ada warna itu.
Batin Aisya sambil membalas pesan.
Maaf pak saya tidak punya warna itu, jawab Aisya.
tring
Jangan berbohong, kalau memang tidak ada kamu bisa membelinya, pakailah ATM yang tempo hari yang Rama berikan.~Dirga
"Pasti ini tidak ada yang gratis, sebaiknya menggunakan punyaku saja ,"gumam Aisya.
Baik Tuan~ Aisya
"Don't be late~Dirga
"Ok, baik Tian" ~Aisya
__ADS_1
"lagi dan lagi aku masuk kandang macan, sebaiknya aku menunggu dari jam 07.40 saja di depan Asrama daripada aku terlambat dan banyak masalah," gumam Aisya.
"Rasanya lelah sekali hidupku ini mulai diatur sama orang, terutama sama penguasa," gumam Aisya.
Terkadang sebagian orang ingin merasakan zona nyaman yang bebas dari aturan, namun kembali lagi, hanya karena uang untuk bertahan hidup, setiap orang rela hidup dan kebebasannya direnggut untuk mencapai tujuan orang lain. Begitupun Aisya, bertahan hingga saat ini demi bisa bertahan hidup dan menjadikan hidupnya lebih baik. terkadang setiap orang berkeluh kesah dengan pekerjaannya, namun mereka terkadang lupa untuk bersyukur, betapa nikmatnya orang-orang yang sudah mendapatkan pekerjaan, padahal diluaran sana banyak sekali yang kesulitan.. hal inilah yang membuat Aisya bertahan hingga saat ini.
***
Pukul. 07.40 Aisya sudah turun dan menunggu di lobby apartment messnya. namun tak disangka ternyata bosnya sudah datang, dengan menatap aneh.
"tuhkan dia sengaja ingin membuatku bersalah di depan dia" gumam Aisya.
"untung -untung" mengusap dada
"Maaf Tuan, sudah menunggu ya ?" tanya Aisya menghampiri seseorang yang sedang berdiri membelakangi yang tiada lain Atasnnya yaitu Dirga.
Dirga berbalik, dan menatap Aisya dengan menggunakan gamis dan jilbab segiempat yang syari'i bagi Dirga ini adalah pemandangan yang cukup aneh.
"Sepertinya saya, seperti membawa ke sebuah majelis taklim, tp tak masalahlah," ucap Dirga.
yes akhirnya aku bisa membuat dia malu di caffe nanti haha,batin Aisya tersenyum.
"Baik, pak. Saya biasanya menggunakan pakaian seperti ini, mohon maklum !" jawab Aisya.
"Sudahlah, ayo cepat masuk !" mengajak Aisya menaiki mobilnya.
Aisya bingung kenapa, Dirga ketempat supir, biasanya Rama yang menjadi supir kemanapun dia pergi.
"o iya pak, Pak Rama dimana ?" tanya Aisya.
"Rama, lagi tidak bisa menemani saya hari ini, jadi saya mengajak kamu untuk menemani saya di cafe nanti," jawab Dirga.
ah, sial lagi lagi harus dibuka pintu mobil ini, batin Aisya
"kenapa bengong, ayo cepet masuk, gue ga akan ngapa-ngapain kamu juga, ga ada selera sedikit pun" ucap Dirga membuyarkan lamunan Aisya.
hah, memangnya aku ini indomie, menjadi seleramu. lagian aku bingung woy cara membuka pintunya, batin Aisya.
Aisya mencoba membuka pintu belakang, meskipun tak bisa membukanya. Ketika sedang mencoba pintu berkali-kali tiba-tiba Dirga menyuruh nya di depan.
"kau, kira aku supir ! duduk di depan" ucap Dirga membuka kaca mobil depan dan membuka kan ointu
"aduh, Tuan maaf saya tidak terbiasa duduk didepan suka trauma lihat jalanan" ucap Aisya nyeplos (hah, gue ngomong apaan sih)
"Alasan ditolak, cepat masuk, sebelum aku melakukan hal hal yang aneh," ancam Dirga
"oh, siap,,siap Tuan" jawab Aisya.
Ia segera duduk di kursi depan samping Dirga. Ada sedikit kecanggungan di dalam sana sehingga hanya tercipta keheningan.
.
.
.
.
.
.
To be continued
__ADS_1