Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
pendapat


__ADS_3

Dering Ponsel cukup membuyarkan lamunan Aisya, tertea pada ponselnya adalah Temannya Sinta. Aisya pun tersenyum senang dan segera mengangkatnya.


"hallo Sinta, ada apa ?" tanya Aisya


Ish.. Kau ini ! Kamu tidak kangen sama aku ? tanya Sinta.


"Oh, kami Sedang merindukan aku Sinta !" ucap Aisya sambil terkekeh.


Iya Aku sudah rindu berat. Tak mampu aku menahannya kembali,~ Sinta


"Ih, Lebay sekali kau ini," ucap Aisya.


Kau tidak Rindu padaku ? Tanya Sinta


"Siapa bilang aku tak rindu.. Justru Aku sangat merindukan mu Sinta," ujar Sinta


Aih, ada yang lebih romantis dari ini ?~Sinta


"Aku tak Bisa romantis, maklum belum pengalaman," ucap Aisya terkekeh.


Oh iya aku lupa, kau kan Jomblo Abadi, ujar Sinta Tertawa


"Sudah tak perlu di bahas, karena itu pilihanku!" seru Aisya.


Oke fine! Aisya, Kita sudah lama tak bertemu. Bagaimana kalau kita bertemu yuk ! Ajak Sinta


"Ayo, Siapa Takut ! Tapi....." seru Aisya.


Sudah, jangan ada tapi.. tapian..Fix Nanti aku Jemput ke kantormu dan pulang nanti aku antar, tegas Sinta tak mau menerima penolakan


Aisya menghela nafasnya, "hm... baiklah. Aku tunggu. Kau mengantar pulang pergi itu wajib. Karena aku bukan Jailangkung !" Seru Aisya


Iya, siap Komandan ! Aku jemput jam 6 ya.~ Sinta


"Oke, siap !" ujar Aisya.


Mereka pun mengakhiri perbincangannya melalui sambungan telpon tersebut. Aisya kembali mengerjakan tugas yang sedang ia selesaikan. Namun, sebelum itu ia mendapat pesan dari Pak Rama.


"Pak Rama, Ada apa ?" Gumam Aisya sambil membuka pesannya


Aisya mohon lengkapi berkas yang kau berikan kepadaku karena masih ada kekurangan. Tolong di cek kembali. Jika sudah ditemukan segera Antarkan ke Ruang Tuan. ~ Dirga


Baik pak, ~ balas Aisya


"Berkas apa yang belum aku masukan ke dalam map tadi. Aduh.. Aisya kenapa kau begitu ceroboh," Gumam Aisya sambil mencoba mencari berkas yang tertinggal.


Tidak menunggu waktu lama, akhirnya berkas yang ia cari sudah ditemukan, "nah, ini dia. Kau ini menyusahkan saja," ucap Aisya masih sedikit kesal dengan kecerobohannya.


Aisya segera bergegas menuju ruangan Atasannya, agar segera tuntas.


***


Sementara Diruangan Dirga


Dirga memasuki ruangannya dengan penuh kesal dan Menghubungi Rama dan mengambil ponselnya T


"Rama, keruangan saya sekarang !" perintah Dira


"Baik." jawab Rama, namun belum beres sudah ditutup seolah tak menerima mau penolakan dan mendapatkan pertanyaan.


"Ah Dia ini kebiasaan. Tanpa aba-aba keluar masuk seenaknya. Eh tunggu sebentar, Bukankah dia hari ini Izin tidak masuk Kantor ? Kenapa sekarang ada di kantor ? Ah sudahlah Nanti akan aku tanyakan !" gumam Rama kebingungan karena pikirannya di serang dengan berbagai pertanyaan.


Tanpa berpikir panjang, Rama segera menuju ruangannya, sepertinya Rama tahu benar Atasannya sedang bad mood.


tok..tok..tok..


tok..tok..tok..

__ADS_1


ceklek,


Rama masuk dengan menghujani berbagai pertanyaan yang sejak tadi terependam sambil duduk dihadapannya.


"Ga, katanya tidak akan masuk ? kenapa sekarang masuk, ada apa ?" Tanya Rama bertubi-tubi.


"Kau ini sedang mengintrogasiku, Banyak sekali pertanyaan mu. Aku binging harus menjawab yang mana dulu ! Seru Dirga


"Sorry, Aku hanya penasaran saja. Kenapa masuk bukankah sekarang Izin ?" Tanya Rama.


Dirga, hanya menghela nafas bukan menjawab pertanyaan dari Rama. Ia malah balik bertanya ?


"Ram, perlukah kita menikah membangun sebuah keluarga ?" tanya Dirga.


Huh, Kenapa dia balik bertanya. Pertanyaanku saja belum kau jawab, Batin Rama menggerutu


Kau mau aku menjawabnya ? tanya Rama


Kau ini, di tanya malah balik bertanya !


"Ya, Maaf. Pertanyaanku saja belum kau Jawab. Sekarang menanyakan seputar pernikahan. Bagaimana aku tidak heran. Kau yang selama ini antipati akan hal itu." Ucap Rama .


"Kau ini, berani sekali dengan Atasanmu ! Aku sedang ada sedikit masalah. Aku di jodohkan oleh Mama," Ujar Dirga.


Rama hanya terkekeh melihat Atasannya sekaligus sahabatnya yang sedang dihadapkan dengan permasalahan yang selama ia benci.


"Kau Masih sehat, kan ?" tanya Rama tersenyum.


"Memang kenapa ? Ada yang salah dengan Perkataan ku!" ucap Dirga.


"Ya, tidak biasanya saja, bukankah Kau itu anti sekali dengan pernikahan apalagi membina sebuah keluarga?" ujar Rama


"Ya, benar sekali, karena dengan menikah membuatku semakin rumit, tidak ada kebebasan dan hidup lebih terkekang," ucap Dirga.


"Tetapi, orangtua ku menyuruhku segera menikah, agar kelak ada yang meneruskan perusahaanku" lanjut Dirga


"Tapi, memang ada benarnya juga orangtua menyuruhmu untuk segera menikah. membina keluarga tidak seburuk itu, tergantung dalam diri kita, dengan menikah kebutuhan kita akan terpenuhi baik jiwa dan raganya. Kepuasan lahir dan batin" ujar Rama sambil terkekeh.


Astaga. Dia benar-benar sangat menyebalkan, sangat liberal sekali, batin Rama sambil menggelengkan kepalanya.


"Bukan hanya sebatas pemuas kebutuhan juga, tetapi indeks kebahagiaan pun bisa menjadi tolak ukurnya, dengan menikah rasa khawatir bisa sirna, dan di situlah kita diberikan tanggung jawab, andaikan kau bermain dengan wanita diluar sana hanya sebagai pemuas hawa nafsu, tanpa ada rasa tanggung jawab, yang ada hanya sebuah penyesalan"


"kamu bilang bahagia ? kalau dengan menikah membuatku bahagia, kenapa banyak yang menikah berakhir dengan perceraian ?" ujar Dirga.


"Benar, perpisahan pasti ada dalam sebuah hubungan, namun itu tergantung diri kita" ucap Rama.


Tiba tiba terdengar ketukan dari luar, yang mengakibatkan perdebatan diantaranya terhenti sejenak. ternyata Aisya yang datang


tok...tok...tok..


perdebatan mereka pun terhenti seketika, kemudian, "masuk !" ucap Rama.


Ceklek, pintu terbuka menampakkan seorang gadis cantik nan imut. Aisya


"Maaf Pak, ini berkas yang tadi tertinggal" ucap Aisya sambil menyerahkan berkas tersebut.


"Simpan saja disana!" Suruh Dirga menunjuk pada sebuah meja.


Aisya mengangguk dan segera menyimpan ditempat yang ditunjukkan oleh Atasannya.


Seketika Aisya ingin berpamitan, Dirga melontarkan sebuah pertanyaan untuknya.


Aku ingin bertanya satu hal kepadamu ?" tanya Dirga menatap Aisya


Deg.


Ada apa gerangan, Tuhan Tolong selamatkan aku. Semoga tidak terjadi apa-apa. batin Aisya

__ADS_1


Aisya dengan terbat-bata, "I..iya Tuan. Ada Apa ?"


"Menurut kamu apakah perlu membangun sebuah keluarga ?" tanya Dirga


"What, bertanya tentang keluarga ke orang yang belum berkeluarga, sungguh aneh" batin Aisya.


"Kalau menurut saya perlu pak, karena membina sebuah keluarga itu sama hal dengan menunjukan keberadaan kita di lingkungan masyarakat, lebih tepatnya mendapatkan pengakuan dari masyarakat. keluarga sendiri merupakan unit sosial terkecil dalam sebuah masyarakat"


"Memang kalau belum berkeluarga tidak diakui masyarakat ?" tanya Dirga


"Diakui, hanya saja sebagai individu bukan sebagai keluarga." Ucap Aisya.


"Menurutmu fungsi berkeluarga untuk apa ? bukankan dengan berkeluarga menambah beban ?"


"Nih, orang benar-benar tak punya hati apa? sungguh menyebalkan pemikiran beliau nih, buat apa punya agama kalau tak di pakai" batin Aisya sedikit kesal dengan pertanyaannya.


"Saya rasa tergantung orangnya Tuan. Dengan berkeluarga justru meringankan beban kita, fungsi berkeluarga banyak selain mewariskan keturunan alias fungsi reproduksi, fungsi ekonomi dan afeksi atau kasih sayang, dan pastinya fungsi sosialisasi inilah yang dapat mengajarkan kita hidup bermasyarakat," ucap Aisya sambil menghela nafas dan melanjutkan kembali


"Dan berkeluarga itu melibatkan berbagai faktor seperti agama, ekonomi dan sosial. pondasi yang paling utama di dasari dengan agama" lanjut Aisya tanpa henti.


"Dan jika orang masih banyak yang bercerai, itu tergantung dari orangnya, apalagi tanpa didasari dengan keyakinan yang kuat ya, pasti goyah, mengingat kasus perceraian di negara kita sebagian besar dipengaruhi oleh perselisihan atau pertengkaran dan ekonomi, dan semua itu kaitannya pada akhlak, coba kalau di dasari dengan agama, hal ini tak akan terjadi, karena meskipun perceraian itu diperbolehkan namun sesungguhnya itu di benci Tuhan" ucap Aisya berhenti sejenak


"huh, berasa kuliah 2 SKS nih, menjawab pertanyaan Tuan menyebalkan ini, tak tahu lah aku kena SP sepertinya," batin Aisya.


Mereka berdua terkesima dengan apa yang diucapkan oleh Aisya, yang tidak memberikan ruang untuk bertanya lagi, sebenarnya Aisya sengaja supaya Tuannya yang menyebalkan itu tidak terus terusan bertanya sehingga dia sengaja berceramah dan lekas keluar dari Ruangan panas ini menurutnya.


"waduh ni bocah sakti juga, Berani sa Atasan yang arogan ini," batin Rama sambil tersenyum simpul.


"Maka dari itu bapak membina keluarga itu harus di dasari oleh agama dengan Bangun Cinta bukan Jatuh Cinta, karena Jatuh itu sakit dan bangun itu semangat," ucap Aisyah sambil mengepalkan tangan.


"Etdah, mengapa jadi lirik lagu," batin Aisya.


"Sudah, cukup..cukup, saya mual mendengarnya," ucap Dirga.


Mual, Seperti sedang hamil saja, batin Aisya menggerutu.


"Maaf pak, saya terlalu bersemangat, apakah ucapan saya unsur-unsur yang membuat bapak keracunan ? sekali lagi mohon maaf ! itu hanya pendapat saya" Ucap Aisya gemetar.


"Sudahlah, Lupakan Saja. Aku hanya meminta pendapat mu saja. Silahkan kembali bekerja," ucap Dirga.


Aisya menghembuskan napas kasarnya, seolah napas yang tadi tertahan kini ia keluarkan.


"Lagi Good Mood sepertinya Tuanku ini. Syukurlah, kau aman Aisya, yes !" batin Aisya bersorak gembira.


"Baik Pak, Mohon maaf jika ada perkataan saya yang kurang berkenan, terimakasih. saya undur diri," ucap Aisya meninggalkan tempat.


Dirga hanya melambaikan tangannya seraya mengusir untuk segera keluar. Aisya pun keluar dengan leganya. seketika Aisya sudah lenyap dari pandangan mereka berdua. Kini hanya keheningan yang ada dalam diri mereka.


"Ada apa, Ga ?"


"Siapa dia ?"


"Aisya, Ga !" Seru Rama


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2