
***
Aisya kini sedang memperhatikan waktu yang selalu ia lirik di pergelangan tangannya. Perasaan Aisya semakin tidak tenang, bahkan keringat dingin pun mulai menyerang.
"Sepertinya aku harus sudah ada di ruangan sebelum atasanku datang, lebih awal.lebih baik," gumam Aisya.
Aisya mulai bergegas dengan langkah yang sedikit gusar menuju ruang Meeting. Ia selalu mencoba menenangkan diri sendiri.
"Ah, tenang Aisya ini bukan mau dilamar, kenapa harus gugup sih ?" gumam Aisya.
Aisya sudah berada di depan pintu masuk ruang Meeting. Ia mencoba menghela nafasnya, guna menghilangkan perasaan nervous-nya.
Ceklek, pintu terbuka.
Aisya melebarkan pandangannya ke segala penjuru, yang ia dapati adalah ruangan yang kosong. Aisya pun berhenti sejenak, kemudian masuk menuju salah satu kursi.
Kok, masih sepi ? peserta yang lain pada kemana ? bukankah waktunya sebentar lagi ? Batin Aisya bertanya-tanya, namun ia mencoba berpikir bahwa ia terlalu dini untuk datang keruangan sehingga peserta lain belum datang.
Waktu sudah menunjukan pukul. 10.00 membuat Aisya semakin gelisah. Mengingat selama ia menunggu tak menemui peserta lain yang masuk. Aisya mulai gusar, muncul beberapa pertanyaan dibenaknya.
Apakah, rapatnya tidak jadi ? gumam Aisya sambil melirik ponselnya berkali-kali untuk mengecek jadwal Meeting-nya.
Tidak ada pesan perubahan jadwal meeting sama tempatnya juga. Apakah mereka lupa tidak menghubungiku ? gumam Aisya yang masih diselimuti berbagai pertanyaan.
Ceklek, suara pintu membuyarkan lamunan Aisya.
Aisya melirik ke arah pintu, ternyata yang datang adalah sepasang insan muda yang gagah nan tampan. kedua orang itu selalu beriringan yang tidak bisa di pisahkan ibarat sendal jepit. Ya, siapa lagi kalau bukan atasan dan Assisten nya. Mereka sangat lengket sekali ibarat permen karet. Aisya sedikit kaget, ia pun segera berdiri dan membungkuk badannya sebagai ucapan hormatnya.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Aisya dengan senyuman menawannya.
Aliran darah semakin mengalir begitu deras dari ujung kepala hingga ujung kaki, degup jantung yang memompa darah berdenyut begitu hebat. kini jantungku berdebar tak bisa berkompromi, rasanya Aisya ingin mengeluarkan urin disana. Ah sial sekali hidupku ini, pikirnya.
Mendapatkan sambutan dari Aisya, kedua pria tampan tersebut melirik dan mengangguk kan kepalanya, sebagai bukti menerima salamnya. Mereka pun duduk di kursi kebesarannya dan tak lupa menyuruhku untuk segera duduk.
Aisya melihat sekeliling ruangan mencari peserta lain, karena tak kunjung ia temukan, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan, sepertinya peserta lain belum pada datang. Apakah Meeting-nya akan tetap dilaksanakan ?" tanya Aisya sedikit gugup.
"Maaf nona, kita memang meeting hanya bertiga saja, yang akan kita bahas mengenai persiapan untuk perjalanan dinas kita." Ujar sang Asisten yabg tak lain ialah Rama.
"Maaf tuan, Bukankah yang melakukan perjalanan dinas itu banyak ? bukan hanya aku saja ?" tanya Aisya bertubi-tubi.
"Maaf, Nona Apakah ucapan ku belum jelas ? sebaiknya kita lanjutkan meeting kita saja, karena waktu kami tidak banyak !" seru rama dengan nada sedikit meninggi.
"Baiklah. Mohon Maaf Tuan," ucap Aisya seraya menunduk takut.
"Kau tidak perlu menunduk seperti itu, Rama jelaskan apa yang harus dia lakukan selama disana," perintah Dirga dengan nada datarnya namun ia tetap santai.
Rama langsung menjelaskan beberapa hal teknis selama disana, tak lupa juga menjelaskan job desk Aisya.
Aisya sedikit mengangkat kepalanya, memperhatikan penjelasan dengan seksama, namun pikiran liarnya kini mulai menganggu pikirannya.
Sudah tampan, baik lagi. melelehkan hati ade bang!! Batin Aisya membayangkan atasannya sambil tersenyum sendiri.
"Kau sudah paham ?" tanya Rama membuyarkan imajinasinya.
Aisya mencoba mengumpulkan nyawanya kembali, ia menjawab dengan terbata-bata, "Hah, i-iya. Tuan."
Ah, liar sekali Aisya pikiranmu. baru melihat yang tampan saja sudah begini, aku benci sekali pikiranku, batin Aisya mencoba menetralkan pikiran nya.
"Oke, baiklah itu saja yang saya sampaikan. Tuan Ada yang ingin di tambahkan ?" tanya Rama kepada Dirga.
Dirga sedikit menatap aisya kemudian menggelengkan kepala, "Kau sudah memiliki paspor dan visa ?" Tanyanya singkat.
Aisya menggelengkan kepalanya, "Belum punya Tuan."
__ADS_1
"Baiklah, Segera urus kelengkapan administrasi. Kamu akan di bantu oleh Rama. Waktu kita sangat terbatas, Kamu harus segera mengurusnya," tutur Dirga.
Aisya mengangguk, "Baik Tuan."
"Ini peraturan dalam mengerjakan tugasmu selama disana. Ada yang ingin ditanyakan ?" tanya Dirga seraya memberikan draff peraturan.
Aisya mengambil draff tersebut, namun sebelumnya masih banyak pertanyaan di benak Aisya. ia mencoba menanyakan nya meskipun sedikit takut.
"Ada Tuan ?" jawab Aisya ragu-ragu seraya mengigit bibir bawahnya.
"Silahkan, tanyakan saja tidak perlu sungkan !" ucap Dirga.
"Maaf Tuan. Saya bekerja di perusahaan ini baru tiga bulan, saya belum memahami betul mengenai hal ini. Kemampuan bahasa Asing saya juga sangat minim, apakah tidak salah memilih saya untuk ditugaskan kesana ?" tanya Aisya ragu-ragu.
"Ini sudah keputusan Tuan besar, Nona. Tidak ada alasan untuk menolaknya," ucap Rama dengan tegas.
"Tugas kamu bukan untuk perusahaan, tapi untuk saya," jawab Dirga dengan ketus.
" Nona, cukup mengikuti perintah Tuan besar !" sahut Rama.
deg
Apa maksud dengan semua ini, aku tidak ingin memperpanjang urusanku. Oh tuhan tolong aku, Batin Aisya menjerit
Aisya sedikit dibuat terkejut, "baa..baiklah, Tuan," jawab Aisya menunduk..
Aku, akan dijadikan budak sepertinya, oh tidak, tidak, batin Aisya meronta-ronta.
"Semua biaya sudah ditanggung, Nona cukup membawa perlengkapan pribadi secukupnya," Perintah Rama.
Tapi, tak apalah, bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis, Batin Aisya seketika tersenyum berusaha menepis kekhawatiran nya.
"Baiklah, ada yang ingin kau tanyakan lagi, Nona ? "tanya Rama.
Apaan sih, panggil aku nona nona, telinga ku panas, batin Aisya protes terhadap sebutan itu, ia pun memberanikan diri untuk menolak sebutan tersebut.
"Mood saya sedang baik, terserah saya memanggil dengan sebutan apapun terhadapmu," tegas Rama dengan membuka sedikit matanya.
"Sebaiknya kau baca draff itu dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewat satu huruf pun. Kalau sudah selesai, Segera tanda tangani" perintah Dirga menyodorkan sebuah pena.
"Ah sepertinya segera tanda tangani, karena isinya peraturan yang harus kau lakukan saja !!" timpal Rama menyuruh Aisya segera menandatangani draf tersebut.
Sepertinya mereka ingin segera selesai, menolak juga percuma, mereka hanya basa basi saja, batin Aisya.
Aisya segera meraih pena dan menandatangani draf peraturan tanpa melihatnya, "Baik, pak." Aisya menyodorkan draf yang berisi surat perjanjian yang sudah ia tanda tangani.
Dirga menerima draf tersebut, sembari tersenyum simpul dan meliriknya kemudian diserahkan kepada Rama.
"Baiklah, meeting kita hari ini sudah beres, kau sudah boleh kembali keruangan mu," ucap Dirga.
"Hari ini, Nona segera urus paspor, Saya tunggu di Lobby dua jam lagi," perintah Rama.
Aisya menganggukan kepalanya, "Baik pak."
"Baiklah Karena sudah selesai, kami undur diri. Silahkan Tuan, nanti akan ada meeting lagi." ucap Rama meninggal kan Aisya seorang diri di ruang tersebut.
Seperginya dua manusia menakutkan itu membuat Aisya menghempaskan napas kasarnya, "hmm".
Entahlah apa yang merasukinya, memilihku untuk berurusan dengan mereka. apakah ini sebuah rezeki atau musibah ? Ya Tuhan semoga ini langkah awal ku untuk menjadi sukses, Batin Aisya yang masih keheranan.
Setelah meras cukup dalam keheningan yang berkecamuk dengan pikirannya, Aisya segera bergegas keluar dari ruangan tersebut untuk menuju ruangannya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
***
Aisya sampai ruangannya, dengan langkah panjangnya ia bergegas menuju kursi tempat ia bekerja. ia segera melanjutkan pekerjaannya, namun terhenti karena ternyata Kepala divisinya datang menghampirinya.
__ADS_1
"Aisya, bisa ke kantor saya sebentar !" seru Pak Heru sambil meletakkan pekerjaan baru di mejanya.
Baru saja aku mau merebahkan sayapku yang hendak patah ini sudah ada predator lain, batin Aisya.
"Baik, Pak." Ucap Aisya sambil memasukan draf dan tugas tambahannya ke dalam laci. selanjutnya mengekor mengikuti Pa Heru. Ia menuntun Aisya masuk ke dalam ruangannya.
"Silahkan duduk !" seru Pa Heru sambil menyuruhnya duduk dan Aisya pun segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Heru.
"Aisya untuk beberapa hari ke depan Anda di tugaskan untuk bekerja berada ddi bawah naungan Direktur.."
"Apa ? pekerjaan yang bagaimana pak, aku untuk mempelajari di Divisi ini membutuhkan waktu berbulan-bulan ?" tanya Aisya bertubi-tubi.
"Mungkin, pekerjaanmu nanti hampir mirip dengan sekretaris, hanya menjalankan tugas dari Tuan Besar. Saya harapkan kamu memberikan kontribusi yang terbaik, jangan memalukan divisi kita," ujar Pak Heru.
"Sebenarnya saya masih betah di divisi ini Pak, mengapa harus saya ?" tanya Aisya seraya melakukan penolakan secara halus.
"Ini perintah Aisya dan kau tidak boleh membantah. Saya di sini hanya menjalankan tugas, kamu harus memberikan citra yang baik untuk divisi kita," terang Pak Heru.
Aisya dengan sedikit kesal, "baiklah pak."
"Mulai sekarang kamu pindah ruangan, Namun selesaikan terlebih dahulu tugasmu yang ada disini," perintah Pak Heru.
Aisya hanya pasrah dengan keadaan, "baik, pak. terimakasih," jawab Aisya yang hendak beranjak namun tertahankan karena pak Heru hendak menunjukkan ruang kerja baruku.
"Aisya sebentar, Mari saya Antarkan keruangan kerja baru mu, mari ikut saya !." seru Pak Heru yang ikut berdiri dan mengantarkan ke ruang kerja baru.
**
Tibalah di sebuah ruangan yang mewah nan lengkap. berbeda sekali dengan ruangan kerja yang sebelumnya yang satu ruangan besar dihuni oleh beberapa pegawai, namun di sini dia memiliki ruangan sendiri. Ia pun tak memungkiri akan kekaguman kemewahan ruangan tersebut.
Mewah sekali, ruangannya. Namun sayang membuatku semakin anti sosial. pasti sangat membosankan ! batin Aisya
Pak Heru, kembali menjelaskan tata peraturan selama ia ruangan tersebut, "Mulai besok kau sudah ngantor di ruangan ini, Jaga sikapmu karna kau bersebelahan dengan ruangan Tuan Besar."
Semakin terkekang hidupku, akan sering bertemu dengannya, tak apalah tiap hari bsia cuci mata, batin Aisya muncul senyuman
Aisya hanya mengangguk dan mengikuti Pak Heru ketika menjelaskan selama disana. Ia oun selalu menekankan masalah peraturan dan harus tepat waktu,
"Aisya, kau harus datang lebih awal dibandongan Tuan Besar, layanilah dnegan baik, kau paham !"seru Pak Heru.
"Siap, pak" jawab Aisya singkat.
"Baiklah, mari keruangan kembali, jika tidak ada yang ditanyakan," ajak Pak Heru.
"Pak, Saya izin keluar dua jam lagi, saya di suruh mengurus Administrasi oleh Tuan besar," ucap Aisya.
l
"Silahkan, kalau berurusan dengan Tuan besar kau tak perlu izin dariku !" seru Pa Heru.
Mereka pun bergegas keluar meninggalkan ruangan tersebut dan kembali keruangan awal. Aisya segera menyelesaikan tugasnya agar ketika isin tidak meninggalkan tugas yang banyak.
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
To be continued