Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Kehidupan Baru


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut Aisya segera mengurus berkas pengunduran diri. Namun mengingat waktu yang diberikan sangatlah singkat, ia hanya bisa mengabarkan pengunduran dirinya melalui sambungan telpon, dengan alasan sangat terdesak dan untuk berkasnya akan menyusul. Mudah sekali untuk keluar dari sana, mengingat siapakah dalang dari semua itu. Ya dia adalah Bosnya sendiri, tidak ada yang bisa membantah keputusannya.


Untuk menepis semua pemebritaan miring tebtabg Aisya. Dibuatlah sebuah alasan yang cukup klise, Ya Rekan kerjanya pun mengetahuinya bahwa Aisya akan menikah dan akan dibawa oleh suaminya, begitulah berita yang beredar di kantornya.


"Huh, akhirnya sudah beres juga," menyeka keringat di dahinya.


Aisya malam ini sedang sibuk packing untuk ke pindahannya. Ia memutuskan malam ini juga harus keluar dari Asrama. Mengingat besok ia akan menikah.


"Apakah ibu harus mengetahuinya ? apakah ini tidak terlalu cepat ? atau aku lebih baik menutupinya, toh nanti juga aku akan di buang olehnya," Aisya bermonolog.


Aisya segera menghubungi Ibunya dan meminta untuk segera mempersiapkan pindah rumah. Hal yang masih bingung bagaimana cara meminta izin kepada ibunya untuk menikah. mengingat waktu menikahnya begitu terlihat mendadak. Ia pasti akan mendapatkan serangan berbagai macam pertanyaan kepadanya. Pasti orangtuanya berpikir bahwa dia terjadi sesuatu hal, meskipun itu kenyataannya. Namun, Aisya ingin menyembunyikan semuanya.


"Ia, sya", suara ibu nan jauh disana.


"Bu nanti tinggal bareng ya, tak perlu mengontrak lagi disana ?"


"Kenapa tiba-tiba ?"


"Alhamdulillah Aisya dapat rezeki, sekarang Aisya sudah punya toko sendiri, jadi Aisya bisa cicil rumah" Ucap Aisya berbohong.


"Alhamdulillah, Baiklah Aisya."


percakapan mereka pun terhenti, dan kini Aisya sudah memesan transportasi online untuk menuju rumah yang diberikan oleh Dirga.


.


****


Ke esokan harinya benar terjadi pernikahan. Pernikahan secara sembunyi-sembunyi bahkan di tutupi. Pernikahan harusnya merupakan suatu kabar bahagia yang harus disampaikan kepada khalayak umum itu tidak terjadi pada Aisya.


Aku seperti menjadi wanita simpanan saja, yang terikat sebuah pernikahan yang sah, Gumam Aisya yang menatap dirinya sendiri pada cermin yang sudah mengenakan dress putih dengan make up seadanya. Tidak ada kesan mewah, bahkan sangat sederhana. Ya memang begitu adanya.


"Inikah rasanya menikah!" gumam Aisya menampilkan senyum kecutnya


"Pernikahan paksa tanpa rasa cinta, semua terjadi karena sebuah kesalahan yang sangat membuat terluka," Lanjutnya dengan merapikan riasan sederhananya.

__ADS_1


Bagaimana tidak kondisi pernikahannya saat ini sangatlah sepi, jangan harap terdapat pesta dengan banyak tamu apalagi orangtua Dirga, itu sangatlah tidak mungkin. Disana hanya ada petugas KUA serta kedua mempelai. Dirga benar-benar tidak melibatkan siapapun termasuk Rama. Bahkan Dirga memilih semuanya dari petugas KUA. Bahkan Aisya pun menggunakan Wali hakim.


Kondisi seperti ini pula, mungkin banyak beranggapan ia telah melakukan kesalahan yang amat besar atau ada suatu hal yang sangat tidak penting untuk ia publikasikan, tetapi memang begitu adanya.


Rangkaian Acara akad pun telah selesai dan petugas yang menikahkan sudah pulang. Kini hanya antara mereka berdua di rumah itu. Seketika suasana menjadi hening.


Dirga memulai pembicaraan, "Bagaimana apakah kau senang ?" tanya Dirga dengan menarik senyuman pada sudut bibirnya.


Pertanyaan macam apa, seolah Aisya begitu mengharapkan belas kasihan darinya.


Eh,


"Terimakasih Tuan, Sudah mengabulkan permintaan saya dan sudah mau bertanggungjawab atas semuanya." ucap Aisya menundukkan kepalanya yang tak terasa mengalirkan tetesan air pada sudut matanya.


Entahlah ini tetesan Bahagia atau sebuah luka, yang jelas hari ini dia ingin bangkit dari semua deritanya. Namun Aisya segera menyeka air matanya, jangan sampai Dirga mengetahuinya.


"hm.. baiklah, mulai hari ini kau tinggal disini. Aku hanya akan datang kesini sesekali saja. Kau jangan terlalu berharap banyak terhadapku." Ucapnya datar namun sedikit menorehkan luka bagi Aisya.


Aisya hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan terhadap ucapan Dirga.


Aku harap juga begitu Tuan. Aku harap tidak akan menggunakan perasaanku untukmu, lanjut Aisya dalam hatinya.


"Terimakasih, Tuan." Ucap Aisya.


"Aku akan pulang, kau bebas melakukan apapun di sini. Dan ini kuncinya dan alamatnya" ucap Dirga menyodorkan kunci untuk tokonya dan secarik kertas berisikan alamat.


Dirga beranjak dari tempat duduk, dan berjalan namun seketika terhenti


"Semoga kau betah disini, kalau kau ada perlu kau bisa menghubungiku di waktu yang tak mengangguku," ucapnya dingin dan berlalu meninggalkan Aisya.


Aisya masih tercenung, menatap punggung Dirga yang semakin menjauh. Ia pun mengerjap seketika ia mengingat perkataan terakhir dari Dirga.


"Diwaktu yang tak mengangguku, Aku tidak tahu waktu kapan yang membuatmu terganggu. Sungguh menyebalkan," gerutu Aisya.


"Arrhhhh,, sungguh menyebalkan, kau Dirga !" Teriak Aisya frustasi.

__ADS_1


"Kau memang tak punya perasaan, bagaimana tidak kau meninggalkanku disini sendirian."


Aisya hanya tersenyum getir dan tak lama suara deru mesin mobil meninggalkan rumah tersebut.


"Inilah awalku, aku tak tau ini awal kebahagian atau kepahitan," ucap Aisya bermonolog.


Kini Ia mulai, menata hidup sendiri. Aisya menginginkan pernikahan ini hanya sekedar menutupi aibnya sendiri. Namun pada lubuk hati yang paling dalam Aisya sangat menginginkan pernikahan ini tanpa harus ada perpisahan. Aisya mengetahui bahwa Tuhan benci perceraian meskipun agama membolehkan.


Namun mengingat seseorang yang kini menyandang sebagai suaminya seolah terpaksa menikahinya, bahkan mungkin tak mengharapkan ini semua. Aisya sadar akan semua itu, Ia tidak mengharapkan sosok yang sekarang menjadi suaminya itu akan bersamanya. Namun Ia akan berusaha menjadi isteri yang sesungguhnya dan akan bangkit dari keterpurukannya. Ia tak mau berlarut-larut memikirkan hal itu.


"huh, sepertinya akan bekerja keras lagi untuk mendapatkan pekerjaan," desah Aisya.


Ia segera bangkit dan segera mempersiapkan usahanya. Aisya segera mencari supplier untuk mengisi tokonya. sebenarnya ia juga masih bingung belum memiliki supplier. entahlah yang dia pikirkan hari ini adalah harus segera memiliki toko sebelum ibunya datang menemuinya.


Boleh dikata saat ini adalah Anak Durhaka karena berbohong kepada ibunya. Namun disatu sisi ia ingin menjaga perasaan ibunya. posisinya memang sangat sulit untuk saat ini, namun suatu saat nanti ia akan memberitahukan kepada ibunya. waktu nya saja yang belum tahu. Haruskah ibu mengetahuinya dengan sendirinya ? ah tidak, jangan sampai ibu mengetahuinya bukan dari mulutnya sendiri, begitu pikirnya.


Hingga detik setelah akad Aisya masih duduk termenung, memikirkan usahanya. Ternyata memang sulit untuk memulai dibandingkan meneruskan.


"huh, aku harus bagaimana ? haruskah aku menghubungi Sinta ? Oh tidak mungkin, jangan sampai ada yang mengetahui pernikahanku dengan Tuan gila itu,"gumam Aisya.


"Tapi kemana lagi aku harus mencari, beginilah rasanya tak punya keahlian. memulai usaha pun kebingungan" gerutu Aisya yang merutuki dirinya sendiri.


Ia meraih laptopnya dan mulai searching mencari sesuatu yang ia butuhkan, ia nampaknya sangat serius dengan hal tersebut.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2