
***
Disudut ruangan, Dirga sedang sangat serius menatap layar monitor. Ya, dia sedang mengecek pekerjaannya yang beberapa hari ini memang ada kendala. Tiba-tiba ponselnya berbunyi memecah keheningan.
Drt..drt..drtt,
Suara ponsel bergetar, ia pun segera merogohnya dari saku celananya. Disana tertera panggilan dari Sang Mama. Ya ada sebuah pesan dari Mama Berti.
"Mama," gumam Dirga mengernyitkan dahinya.
Dirga segera mengangkatnya seraya berkata, "Iya Ma, Ada apa ?"
"Sayang, Kau begitu pertanyaan nya, memang Mama tak boleh menghubungi anak mama sendiri ?" ujar Mama Berti.
"Bukan begitu Ma, tidak biasanya Mama menghubungiku disaat jam kantor ?" sahut Dirga.
"Mama Ada hal penting denganmu !" Seru Mama Berti.
"Hal penting apa Ma ?" tanya Dirga.
"Hari ini, Kamu bisa bertemu dengan Lira, tadi Mama sudah berbicara dengannya.
"Bertemu untuk Apa, Ma ? dan Mama berbicara apa ?" tanya Dirga berturut-turut.
"Kamu ini suka pura-pura tidak mengerti saja,"ucap Berti sedikit kesal.
"Dirga, Memang tidak tahu, Ma."
"Sudahlah Nanti kau janjian sama Lira, hubungi dia ?" Bentak Berti.
"Memang Mama berbicara apa sama Lira ?" Tanya Dirga penasaran.
" Mama hanya bilang nanti kalian bertemu saja, tidak lebih."
"Mama kenapa tidak meminta persetujuan ku ?"
"Pasti kamu menolaknya."
"Ma, Dirga sudah katakan Mama harus bersabar," ujar Dirga.
"Mama, sudah cukup bersabar, Dirga ! Ingat janjimu tiga bulan yang lalu, kau berjanji akan membawakan calon mu kepada Mama. Tapi Apa, Sampai sekarang Mama tak melihat batang hidungnya," tegas Mama Berti.
"Sebentar lagi, Dirga tunjukan ke Mama," rayu Dirga.
"Baiklah, Mama tunggu, ucapanmu itu !" Seru Berti.
"Ia, Ma. Dirga Janji," ucap Dirga.
"Tapi Jangan lupa hubungi Lira segera, Nak !, ini permintaan Mama, jangan membuat Malu dengan keluarga Lira. Mama mohon, kali ini saja kau bertemu dengan Lira," mohon Mama Berti dengan memelas.
Dirga pun tidak tega dengan ibunya, meskipun ibunya mengambil langkah tanpa persetujuannya, tapi rasa sayang dia terhadap ibunya sangat tinggi. Ia tidak pernah mendengar permohonan seperti ini, akhirnya dia menyetujuinya.
Sambungan Via telpon dengan sang ibu pun kini sudah terputus semenjak Dirga menyetujui pertemuan dia dengan Lira. Lira ini hendak di jodohkan dengan Dirga oleh Mama Berti. Sebenarnya tujuan pertemuan mereka itu hanya sekedar mendekatkan saja.
Dirga kembali fokus ke layar monitornya, meskipun pikirannya tidak sesuai dengan pandangannya, ia sedikit frustasi dengan permintaan ibunya. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu ruangan membuyarkan pikirannya.
tok...tok..tok..
"Masuk" Suara Dirga menyuruh seseorang dibalik pintu untuk segera masuk.
Masuklah seorang lelaki tampan bertubuh kekar. Ya, siapa lagi jika bukan Rama sang Asisten yang tak kalah tampan dari Atasannya. Dirga mengetahuinya dan segera menyuruhnya duduk.
"Ada, Apa ? Apakah Ada masalah lagi ?" tanya Dirga tanpa meliriknya.
"Tidak ada, saya hanya melaporkan kalau Aisya sudah selesai menyiapkan administrasi dan sudah mulai menempati ruang kerja baru." Ujar Rama dengan nada santainya.
"Ok. Baguslah!" sahut Dirga yang masih fokus ke layar monitor.
"Persiapan untuk perjalanan dinas, sudah saya siapkan. Hanya saja administrasi Aisya yang belum tuntas dari kantor imigrasi."
"Memang kau tidak menyelesaikan hari ini juga ?"
Rama diam sejenak, dia lupa kalau Dirga ini orangnya tidak sabar. Rama mencoba mencari alasan agar tidak membuatnya kecewa.
"Tenang saja, besok atau lusa sudah selesai semua," ucap Rama dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, aku percaya. Semuanya kau urus jangan ada yang terlupakan." Ujar Dirga yang mengalihkan pandangannya kepada Rama.
"Ada masalah apa, Ga ? kau terlihat sangat gelisah sekali. Bukankah permasalahan kemarin sudah teratasi." Ujar Rama yang penuh selidik
Dirga menyadarkan tubuhnya, sambil menghela nafas, "hmm, Kau bisa antar aku nanti malam ?" tanyanya.
"Antar ? bukankah kemana pun engkau pergi aku selalu bersamamu ?" tanya Rama yang sedikit aneh.
"Eh, iya. Aku hampir lupa kau bawahan ku," jawab Dirga dengan nada datarnya.
"Kau mencari alasan saja !" seru Rama.
"Aku hari ini mau bertemu dengan Lira, disebuah Club Black Mamba." Ujar Dirga
__ADS_1
Rama membulatkan bibirnya, "Oke, baiklah."
"Kau cepat buat reservasi tempat, " perintah Dirga.
"Siap, laksanakan" ucap Rama sambil melakukan gerakan hormat.
Rama kemudian pamit ke ruangan dan akan menghubungi segera menyelesaikan tugas dari atasannya tersebut.
Dirga kini, mulai meraih ponselnya, dan mengirim pesan kepada seseorang, dia adalah Lira.
Lira, Aku tunggu pukul. 10 di Club Black Mamba ~ Dirga
tring,
tidak lama pesan pun ada balasan singkat.
Oke Baiklah~Lira
Dirga pun tak membalas lagi, dia kembali disibukkan dengan pekerjaannya.
***
Malam yang penuh dengan kesunyian, hanya sedikit yang berlalu-lalang kendaraan. Mobil yang dikendarai oleh Rama melesat membelah jalanan perkotaan. Sepanjang perjalanan hanya keheningan, tidak ada percakapan yang berarti. Tak perlu menunggu Lama kini mobil mewah tersebut sudah terparkir, dan mereka pun bergegas menuju ruangan yang sudah di reservasi.
Dirga kini sedang duduk, disebuah sofa di dalam club tersebut. sesekali ia menghirup pave, seperti sedang mencoba membebaskan dirinya. Tiba-tiba Dirga menyuruh membeli sesuatu terhadapnya.
"Ambilkan 10 botol Anggur untukku, " Perintah Dirga.
Rama yang sedari tadi, sedang melakukan aktivitas yang sama dengan Dirga, begitu terkejut dengan permintaannya.
"Ga, itu terlalu banyak, kau jangan gila ! seru Rama mengingatkan
"Aku, hanya ingin bersenang-senang malam ini, Rama. lagian kalau ada apa-apa yang terjadi pada ku, ada dirimu." Ucap Dirga tanpa merasa terbebani
Kau ini selalu merepotkan saja, Batin Rama
Rama hanya mendengus, "Ingat, ini buat kesehatanmu, juga !" seru Rama.
"Sudahlah, kau pesankan saja !" perintah Dirga.
Rama pun akhirnya memesankan keinginan Dirga, meskipun malas karena jika Dirga sudah mabuk ia akan kewalahan. Namun apalah daya Rama hanya seorang bawahan baginya.
Dirga Meraih ponselnya dengan mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ya, dia mengirim pesan kepada Lira untuk segera menemuinya.
Selang beberapa menit, datanglah seorang wanita cantik, kulitnya putih bersih, tinggi semampai dengan rambut panjang yang lurus. Namun dia berjalan sedikit tidak normal, bahkan dibawa oleh temannya. Rupanya Lira sudah datang lebih awal bahkan ia gunakan untuk berpesta dengan teman-temannya.
"Tinggalkan dia sendiri ! disini ada kami, " ucap Rama menyuruh kedua teman perempuannya untuk meninggalkan Lira.
"Silahkan Nona duduk," perintah Rama.
Lira tanpa banyak bersuara segera duduk di sofa, "Bagaimana ? kau pasti di surah Tante Berti ?"
Dirga dengan sikap dingin dan cuek tidak memperhatikan orang yang sedang di ajak berbicara malah ia asyik dengan aktivitasnya.
"Iya, Kau benar sekali. Kau tahu maksud dari ibuku menemuimu ?" tanya Dirga
Lira hanya tersenyum kecut mendengarnya, " Mungkin kita di jodohkan !"
"Kau benar sekali, kau tahu bagaimana perasaan ku ? kita hanya berteman saja!" seru Dirga sambil menghentakkan aktivitasnya dan mulai menenggak sebuah minuman.
"Betul, menurutmu. Aku rasa tidak ada perjodohan antara kita !"Seru Lira
"Apa yang kau ingin lakukan ? apakah kita bisa membuat kesepakatan ?" tanya Dirga.
"Kesepakatan ?" tanya Lira mengernyitkan dahinya.
"Ya, karena diantara kita tak ada cinta, betul begitu ?" tanya Dirga Santai
Lira mengambil gelas dan kemudian Rama mengisi sebuah minuman "Aku sebenarnya tidak suka dengan perjodohan. sebenarnya aku sudah memiliki pasangan dan aku sangat mencintainya."
"Baguslah, Berarti kau menyetujui kesepakatan kita ?" ujar Dirga.
"Apakah, engkau tahu. Bahwa orangtua kita sudah menjodohkan kita sejak dulu." Ucap Lira
"Iya, aku tahu, bantulah supaya perjodohan itu tidak terjadi, kau bisa kan ?" ucap Dirga penuh dengan penegasan.
Lira mengambil botol dan langsung meminumnya, "jadi, kau menyuruhku untuk mengagalkan perjodohan itu. kenaoa tidak kau saja ?" ujarnya.
Dirga mendengus ternyata wanita ini sulit sekali diajak bekerjasama. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lira Meminum satu botol anggur dengan rakusnya.
"Sebaiknya, kamu tak minum banyak ? Tak baik untuk perempuan." Ujar Dirga yang melihatnya merasa aneh.
"Seberapa pedulinya kau terhadapku, Aku sudah terbiasa minum banyak, " Bentak Lira.
Aku tidak mungkin menjadikan kau sebagai istri jika perilakunya seperti ini, Batin Dirga.
"Oke, tidak masalah. Aku tidak akan melarang mu", Ucap Dirga santai.
__ADS_1
"Kau bisa kan melakukannya, supaya perjodohan ini tidak terjadi ?" tanya Lira sempoyongan.
"Semua keputusan ada pada dirimu, karena Mama sudah tidak percaya kepadaku, "ucap Dirga.
Lira dengan senyum simpulnya, "Kau menyuruhku ? kau tidak menyelesaikan masalahmu sendiri."
"Aku sudah bilang tadi, bahwa kita akan membuat kesepakatan denganmu. Dan kau menyetujuinya," tegas Dirga.
"Aku belum menyetujuinya, kalau aku menyetujui harus ada imbalannya ?"
"sebutkan apa keinginanmu, Uang ?" tanya Dirga
Lira tersenyum simpul, "Kau lupa aku juga orang kaya," ucap Lira dengan Sombongnya.
"Lantas, apa yang kau inginkan, cepat katakan !" Bentak Dirga.
"Aku yakin kau tak bisa memenuhinya," ucap Lira merendahkannya.
"Aku bisa memenuhinya ! apa yang tidak bisa buatku,"seru Dirga.
"Kau banyak yang tidak bisa kau lakukan. Salah satunya menikah denganku," ujar Lira melecehkan.
Dirga mulai kesal dan karena efek dari minuman ia menjadi cepat marah. Rama mengetahui itu, untuk menghindari perlakuan dari Dirga yang lebih brutal lagi. Ia pun segera mengusir perempuan tersebut.
"Sebaiknya Nona, Silahkan lanjutkan kembali pestamu!" perintah Rama seolah mengusir Lira.
Dasar kurang ajar, beraninya kau mengusirku, Batin Lira
Lira pun kembali dengan sedikit tubuhnya yg sudah tak berdaya, ia pun terpaksa dibantu oleh temannya tadi. karena Rama menyuruh memanggil teman-temannya untuk segera membawa Lira.
Setelah Lira meninggalkannya Dirga masih melanjutkan aktivitasnya, Ia meminum dengan sangat rakusnya, sesekali ia mengepalkan tangan, menahan amarahnya.
"Hah wanita macam apa ? Mama bisa-bisanya menjodohkan aku dengannya !" seru Dirga dengan wajah yang memerah.
"Ga, sudahlah minumnya, ini sudah terlalu banyak, tak baik untuk kesehatanmu !" Larang Rama yang sedari tadi untuk merendamkan amarahnya.
"Aku boleh bejat, tapi pasangan hidup ku harus lebih baik, " ujar Dirga.
Tak ku sangka, kau menginginkan wanita baik-baik, Batin Rama sambil menggelengkan kepalanya.
Seketika Dirga melirik, "menurutmu bagaimana ?" tanya Dirga
Hah, dia tadi berbicara apa ?aku tidak mendengarkannya. Sial, nanti kalau dia tahu aku tak mendengarkan pasti marah apalgi dia sedang mabuk begini, batin Rama
"Hei, Aku tanya kepadamu, kenapa kau diam saja,? ujar Dirga membuyarkan lamunan Rama
"Hah, kepadaku ??" seraya menunjuk pada dirinya sendiri.
"Heh, disini hanya kamu yang ku kenal dekat, kau ini membuatku marah saja!" Bentak Dirga.
Rama sedikit terbata-bata, "mm..mm...anu, iya betul."
Rama melihat kondisi Dirga yang semakin memprihatinkan, ia segera bergegas mengajaknya pulang.
"Ga, sebaiknya kita segera pulang, , mari saya antarkan ke apartemennya", ujar rama yang merasa kasihan melihatnya mabuk berat.
"Santai rama, hidup itu harus di nikmati, sesekali haha" ujar Dirga tertawa menahan amarah.
"Wah, bahaya sudah mulai melantur," gumam Rama.
Rama segera menyelesaikan segala administrasi dan segera membawa Dirga keluar dari tempat ini sebelum terjadi sesuatu, karena khawatir Dirga melakukan hal konyol. Rama membopong Dirga masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana Rama?" tanya Dirga.
"Kita pulang !" jawab Rama.
"Kenapa harus sekarang, kau terburu-buru ?" tanya Dirga.
"Kau harus istirahat, sepertinya sudah kelelahan, " Jawab Rama sambil membawa Dirga keluar, dan segera memasukkan kedalam mobilnya.
Rama segera melajukan kendaraannya, sepanjang perjalanan Dirga meracau sampai tertidur pulas.
akhirnya sudah sampai di apartemen Dirga, kemudian Rama memboyong nya ke kamarnya dan mengambil kartu untuk membuka pintunya, kemudian Rama menidurkan Dirga dan membuka sepatunya. kemudian Rama menyimpan kartunya kembali, dan rama pun meninggalkan Dirga setelah diantarkan ke kamarnya.
Dirga tidak pernah pulang ke rumahnya dia sering pulang ke apartemen nya, karena tempat itu hasil kerja kerasnya. pulang ke rumahnya hanaa beberapa hari saja dan dia pulang biasanya pas weekend saja. orang tua dirga sudah memahami benar anaknya, yang selalu ingin mandiri, sehingga orang tuanya membiarkan karena sudah mempercayainya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued