Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Ketahuan !!


__ADS_3

"Oh iya satu hal yang perlu kau ingat, Jangan menanti cinta tapi bangun cinta, jangan menunggu jodoh tetapi jemput jodoh" ucap Aisya.


" Nah, maka dari itu kau cepat mencari mencari pacar, itu juga bentuk ikhtiar kan !" ucap Sinta.


"Ikhtiar itu, tidak harus pacaran Sinta. Ikhtiar menjemput jodoh itu luas, bisa dengan cara memperbaiki diri kita, dan pastinya selalu berdoa disetiap sujud kita agar diberikan yang terbaik" tegas Aisya.


"Iya, siap siap bu. Kau Masih saja seperti itu. Kau tak takut tak berjumpa dengan jodohmu, jika hanya berdoa saja ?" tanya Sinta dengan tatapan serius.


"Apa yang harus ditakuti, Jodoh itu rahasia Tuhan, aku berdoa dan memperbaiki diri bisa mendatangkan jodoh, asalkan kita yakin. Nanti juga Tuhan akan menuntunnya melalui jalan manapun," ucap Aisya tersenyum.


"Ya kita logika saja, kalau kau hanya doa saja tanpa usaha yang nyata, mana mungkin dapet jodoh !" ucap Sinta.


"Semua itu ada dalam hati kita" ucap aisya sambil menunjuk ke dada.


"keyakinan kita, kita juga sudah tahu ketika


kita berbisik pada tanah maka langit akan mendengar, ketika kita mampu mencintai tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan memilihkan jodoh kita yang terbaik," ucap Aisya melanjutkan perkataan sebelumnya


"Tapi itu teori sih, aplikasinya sulit sekali," ucap Aisya tertawa.


"Sudah kuduga," jawab sinta yang ikut tertawa


"Eh, btw, kau masih ingin mencari Jodoh yang Mapan ? " tanya sinta tiba-tiba


"Ya realistis saja sih, sekarang bukan zaman batu, sudah zaman emas," ucap Aisya terkekeh.


"Iya kita sekarang sedang mencari keemasan, gold gitu, " jawab Sinta terkekeh.


"seketika jiwa Matreku meronta-ronta," ucap Sinta.


"Tak apa. Matre sedikit asal jangan keterlaluan. Eh Kau masih mengincar duren sawit ? noh lihat di ujung sana!" ucap sinta sambil melirikan matanya ke arah pojokan satu lagi. Aisya pun dengan semangat meliriknya.


"hus, kau ini ada-ada saja, eh mana sih?" tanya Aisya penasaran dan sambil mengikuti arah sorot mata Sinta.


Terlihat lah seorang lelaki yang usianya sekitar 50 tahunan bersama remaja sedang bermesraan dan mencoba mengimbangi gaya pacaran bersama sang remaja, namun perawakan sang lelaki tidak terlalu tua.


"OMG, itu bukan duren sawit tapi Tua tua keladi, masa uda bangkotan begitu, sugar daddy, itu pantes nya bapak sama anak" ucap Aisya seraya menutup mulutnya.


"Itu lihat, dia sama anak-anak seumuran anak baru lulus SMA tuh, geli sekali ku melihatnya. Kakek-kakek puber tuh lebay perhatiannya," ucap Sinta.


"iih, geli banget, puber uda tua itu ga cocok sama sekali, bukan uda waktunya lagi, aku malah prihatin sama tuh bocah" ucap Sinta


"Eh, Kau jangan terlalu kelihatan kita lagi membicarakan dia, nanti pengawal yang disampingnya marah sama kita, tuh lihat" bisik Aisya melirikan matanya.

__ADS_1


Ketika itu sedang berdiri tegap menatap kearah meja Aisya dan Sinta, dan seketika mereka langsung pura-pura aktivitas lain,dengan melihat lihat atap dari ruangan tersebut.


"Waduh, Mati kita! biasanya kita kalau membicarakan orang tak pernah ketahuan, sekarang malah ketahuan" bisik Sinta.


"kau ini terlalu kelihatan, usahakan posisi kita normal seperti biasa jangan memperlihatkan, ayo ngobrol yang lain saja" bisik Aisya.


"Nah, begitulah jodoh ya, kita tak pernah tahu dengan siapa dan cinta tidak memandang usia" ucap Sinta berpura pura sedang membicarakan jodoh sambil melirik di ujung matanya untuk memastikan apakah masih di diawasi oleh pengawas tua bangka tersebut.


"Begitulah, kita tidak bisa menginginkan apa yang kita mau, tali tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan, berharap boleh namun ketika, tidak sesuai dengan harapan, jangan kecewa bisa jadi itu yang terbaik untum kita" ucap Aisya mencoba menetralkan kondisi yang mencekam.


kemudian mereka mencoba untuk minum namun sayang tanpa sadar ternyata minuman mereka sudah habis sedari tadi dan Sinta pun segera menghubungi waiters dan memesannya kembali.


Mereka ternyata masih mengawasi gerak gerik Aisya dan Sinta, akhirnya cara terbaik bagi mereka adalah segera pergi dari tempat tersebut sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


"Sya Sepertinya kita harus pindah tempat, minuman kita juga sudah mulai habis," ajak Sinta.


"Iya, Sint yuk kita cari jajanan yang lain," ucap Aisya seolah mengerti ajakan Sinta.


Mereka pun berdiri hendak meninggalkan food court tersebut, namun tiba-tiba pengawal itu mendekati mereka dan berkata


"Kalian, jangan menggunjing tuanku suara kalian terlalu keras, untung saya masih memaafkan kalian," ucap sang pengawal.


Aisya dan Sinta pun tak terima dan mencoba melakukan pembelaan, meskipun mereka melakukannya tetapi mereka ingin mengelak agar tidak berurusan panjang.


"Kami tidak ada maksud untuk menggunjing tuanmu, kalau ternyata ucapan kami menyinggung tuanmu, kami mohon maaf, kami permisi" ucap Aisya dan mengajak Sinta segera pergi.


Akhirnya Aisya dan Sinta pun berhasil keluar dari cengkeraman seuasan tegang di ruangan tadi dengan berjalan cepat agar segera menjauh dari tempat tersebut.


"huh, untung kita tidak terlalu ketahuan" ucap Sinta dengan nafas tersenggal.


"Iya, hampir saja kita berurusan sama pembesar, bisa sulit urusan kita !" seru Aisya


" kita cari tempat lain saja yuk, kalau bisa kita cari mall yang lain, Aku tak tenang nih" Ucap Sinta.


"ayo, sama aku juga" jawab Aisya


mereka segera ke parkiran yang berada di basement dan memasuki mobilnya segera tancap gas untuk menjauhi mall tersebut. Di dalam mobil mereka pun tak henti-hentinya mengucap syukur karena terbebas dari belenggu masalah tadi.


"kita gibahnya keterlaluan depan orangnya sih" ucap Aisya.


"Aku kira tidak ada pengawalnya, eh ternyata dia pengawalnya banyak" ucap Sinta kesal.


" Mulutku gatal sekali ingin membicarakan dia, karena dia sudah kakek-kakek tetapi perilakunya so remaja. Aku kan geli jadinya. ucap Sinta.

__ADS_1


"Namanya juga puber kedua, ya wajar, eh kenapa ya tuh bocah mau sama yang sudah tua ? terus kenapa bapa-bapak mau sama bocah seperti ke anaknya," ucap Aisya bertanya-tanya.


"Puber keberapa kali, Kalau bocah sih pasti hartanya tuh, tapi kalau tua bangka itu nyari sensasi yang lain katanya kalau bocah itu masih polos masih mau di apa-apain, belum pengalaman, kau tahu sendiri kalau suda tua nafsu besar tenaga tidak ada" ucap Sinta panjang lebar sambil tertawa terbahak-bahak


"Kamu tahu banget ya Sinta, masalah seperti ini, jangan bilang kau juga pernah lagi" jawab Aisya tertawa.


"Hus, enak saja, Aku golongan normal Tak sama aki-aki juga," ucap Sinta


"Eh, Kau katanya mau nikah Sinta ?" ucap Aisya tiba-tiba.


"Sudahlah jangan bahas itu, Aku males," ucap sinta sambil melajukan kendaraannya


"oke deh, sorry. kalau dirimu belum bisa cerita sama aku juga tidak apa-apa, aku selalu menunggu mu" ucap Aisya


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, aku sedang tidak berselera" ucap sinta sambil tersenyum malas


"kita mau kemana ?" tanya Sinta mengalihkan pembicaraan


"ini uda mau malam juga, aku pulang saja" ucap Aisya.


"oke, siap."


"Doain Aku yaa, lusa berangkat semoga lancar" ucap Aisya.


"Iya, Aku doaka semoga disana dapat jodoh" ucap sinta tertawa.


Akhirnya, mobil yang dikendarai Sinta sudah sampai di mes Aisya, merekapun berpamitan dan Aisya pun langsung beristirahat.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2