Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Mencari Alasan


__ADS_3

***


Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang di ucapkan Aisya. Ia hanya menjawab seperlunya saja. Benar saja, Aisya memang sedang memikirkan dirinya, yang merasa hina. sesekali ia menyeka air matanya yang ia sembunyikan. Bahkan sudah berkali-kali ia menahannya, namun tetap saja mengalir begitu saja. Perasaan sakit yang mendalam sudah menjalar dalam dirinya. Apa mau dikata jika sang ibunda mengetahuinya.


Sepanjang perjalanan pun Aisya, berusaha untuk tetap tenang. Ia meminta untuk duduk di paling belakang. Hal ini menghindari kecurigaan dari rekan kerjanya. karena sulit untuk di pungkiri bahwa dirinya saat ini sangat terluka.


***


Setibanya di Bandara Aisya memilih untuk pulang lebih awal dan keluar dari rombongan. Alasannya karena akan berjumpa dengan temannya yang sudah menunggu. Aisya segera menaiki taksi untuk berangkat ke Asrama dan ia ingin meluapkan semua emosinya saat ini.


***


Disebuah Asrama dibawah guyuran air, Aisya menangis sejadi-jadinya. Ia meratapi nasib dirinya. Ia tak segan mengumpat dan meluapkan semua yang ada dalam pikirannya yang sempat tertahan. Di sana juga tertanam sebuah kebencian yang mendalam.


"Aku harus mendapatkan pertanggungjawaban dia, aku akan memperjuangkannya," ucapnya dengan mengepalkan kedua tangannya.


Ia segera mengenakan pakaiannya dan naik ke atas ranjangnya, dengan perasaan yang masih belum stabil, ia mengambil ponsel di atas nakas.


Apakah aku harus memberitahu ibu atau Sinta apa yang telah terjadi padaku ? gumam Aisya.


"Tidak, aku tidak mungkin berbagi dengan Sinta apalagi dengan ibuku. mereka pasti akan kecewa terlebih ibu.. aku tidak ingin beliau memikirkan ku. baiklah untuk saat ini aku pendam semua masalah ku sendiri." Ujar Aisya yang kemudian mengembalikan ponselnya ke atas nakasnya.


Ponsel Aisya sengaja tidak diaktifkan untuk saat ini, karena memang dirinya sedang ingin menyendiri untuk menenangkan pikiran dan batinnya.


Ketika Aisya merebahkan tubuhnya, ia masih saja menangisi dirinya, "kini Aku hanya punya Tuhan, Ya Tuhan kuatkan hambamu ini," ucapnya yang masih di balut oleh air mata yang selalu mengalir di sudut kedua matanya.


"Tuhan, Aku yakin engkau dapat membantuku melewati semua masalah ini, kuasa Mu, mampu membolak balikan hati setiap insan manusia di muka bumi ini." ucap Aisya.


Aisya mulai beranjak kemudian ia segera menyucikan diri selanjutnya sembahyang taubat memohon ampunan.


"Ya Rabb, engkau maha pengampun dan maha penyayang. Ampunilah dosaku ini, Ampunilah." Ucap Aisya berkali-kali. dengan iringi derasnya air mata sambil bersujud.


Aisya terlarut dalam kesedihannya, ia menangis tiada henti, hingga membuat matanya sembab.


Aku harus bangkit, kalau aku seperti ini aku tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi hak ku.. aku harus kuat jangan hanya meratapi diri, Gumam Aisya.


"Kau menangis, kau meratapi dirimu itu tidak akan membuat semuanya kembali semula, ucapnya menguatkan diri, " ucap Aisya yang berbicara kepada dirinya sendiri.


Namun, ketika mengingat kejadian tersebut, bulir Air mata itu tak bisa ia bendung. Bahkan aliran air mata itu pasti akan mengalir bertambah derasnya. Larut dalam kesedihannya membuat ia tertidur dengan terlelap.


***


Dua hari Sepulang dari sana, Aisya meminta izin cuti. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan orang yang membuat seperti ini.


Aisya mencoba mengaktifkan sebuah Ponselnya yang ia matikan sepulangnya dari sana. Begitu banyak pesan yang masuk, namun ia memilih membuka pesan dari Dirga.


Besok kita bertemu, nanti saya jemput ke Asramamu.~Dirga


Itulah pesan singkat yang ia terima. Aisya sebenarnya sangat muak dengan Dirga, tetapi dialah orang yang harus bertanggung jawab terhadapnya. karena hanya itu keinginannya. Ia tak membalas pesan tersebut.

__ADS_1


Aisya mencoba menghubungi ibunya, ia sebenarnya ingin sekali berbagi masalahnya. Namun itu tidak mungkin, ia memanggil no. ibunya melalui sambungan telepon.


"Assalamualaikum, Nak ! bagaimana kabarmu ? kemarin perjalanan dinas mu lancar?" tanya ibu .


Waalaikumsalam,


Alhamdulillah baik bu, perjalanan dinas pun lancar, dengan suara serak yang tak bisa membendung air matanya.


"Nak, kamu seperti sedang menangis ? ada apa ? berbicaralah !" seru ibunya.


"Engga bu, Aisya hanya kangen saja dengan ibu," bohong Aisya yang mencoba menetralkan suasananya.


"Aduh sampe segitunya kamu, Nak !" ucap ibu.


"Ibu, bagaimana kabarnya ? maaf selama disana aku tidak bisa mengabari ibu !" seru Aisya.


"Alhamdulillah, ibu baik. Nak. Hanya saja ibu ada perasaan tidak enak beberapa hari kemarin, tp sudahlah karena kau sudah menghubungi ibu"


"Maaf bu, Aisya membuat ibu khawatir." tak terasa bulir air matanya sudah mulai berjatuhan.


"Iya tidak apa-apa, Kamu hari ini tidak kerja ?" tanya Ibu.


"Aku lagi tidak masuk kerja bu, istirahat selepas kemari perjalanan panjang." jawabku yang mencoba mencari alasan.


"Kamu banyak istirahat nak, seperti nya kau kelelahan," perintah ibu.


"Waalaikumsalam" ucap ibunya


Aisya ingin segera mengakhirinya, karena tidak ingin ibunya mengetahui kalau dia sedang bersedih.


Aisya ingin meletakkan ponselnya, namun tiba-tiba berdering Kembali, ia melihat ada panggilan dari temannya Sinta.


"Hallo, Aisya kau sombong sekali tidak bertukar kabar selama disana ?", ucap Sinta yang merasa kesal karena temannya tidak memberi kabar padanya.


"Hallo, Sinta. Assalamualaikum !" seru Aisya.


"Eh maaf lupa, waalaikumsalam," jawab Sinta terkekeh.


"Maaf, Aku baru bisa mengabarimu, aku lupa tidak membawa kartu buat disana," jelas Aisya.


"kamu kan bisa pakai internet, sekarang banyak sosial media," bantah sinta.


"iya, aku tahu. aku tidak kepikiran kesana. aku disana bukan liburan. aku kerja mungkin aku terlalu sibuk," bela Aisya .


"Sampai lupa ? Pantas saja tak bisa di hubungi. Sebentar kamu seperti sedang sakit, suaramu serak sekali ? kamu habis menangis ?" tanya Sinta.


Aisya sejenak berdiam, "enggak Sinta, aku memang lagi serak saja, mungkin aku kecapean saja."


"Kau sudah ke Rumah Sakit, periksalah jangan dibiarkan,"Suruh Sinta.

__ADS_1


kau tidak seperti biasanya Sya, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, batin Sinta


"Iya, Sinta, rencananya habis ini aku ke klinik perusahaan," jawab Aisya.


"Hari ini kamu tidak bekerja ?" tanya Sinta.


"Iya aku hari ini istirahat dulu !", seru Aisya.


"Baiklah sehat-sehat ya, nanti aku ke Asrama," sahut Sinta


"Untuk apa ?" tanya Aisya


"Menjenguk mu lah, sekalian minta oleh-oleh," sahut Sinta.


"ah dasar kamu ini," ucap Aisya yang kemudian sejenak berpikir.


Jangan sampai Sinta datang kesini, ia pasti ingin mencari tahu sesuatu. Aku harus memberikan alasan, pikir Aisya.


"Aisya" suara panggilan dari sana membuyarkan pikirannya.


"Iya, Sinta. M.... Sinta aku minta Maaf hari ini di asrama ku ada agenda, jadi belum bisa menerima tamu, untuk oleh-olehnya aku kirimkan saja ya," minta Aisya.


"Yaah, padahal aku pengen ketemu kamu hari ini, pengen lihat ada perubahan tidak selama tinggal disana," Sinta sedikit kesal.


"Kamu ada-ada saja, aku tak berubah sama sekali toh masih di bumi yang sama. Aku kirimkan ya oleh-oleh untukmu."


"Baiklah, sudah dulu ya, aku mau kerja! Assalamualaikum," seru Sinta.


"Waalaikumsalam," jawab Aisya lemah.


Maafkan aku Sinta, ibu, aku tidak bisa berbagi kesedihanku dengan kalian. kalian pasti akan kecewa dengan apa yang telah terjadi padaku. aku terpaksa berbohong kepada kalian. Tapi suatu saat nanti kalian akan mengetahuinya, tidak untuk sekarang. karena aku sedang memperjuangkannya. Gumam Aisya yang sedari tadi air matanya selalu membasahi pipinya.


Mata Aisya begitu sembab, karena ia tak hentinya menangis. Aku tidak mungkin menangis seharian seperti ini. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak boleh menangis saja. karena itu tidak akan membantunya, pikirnya.


.


-


-


-


-


-


-


To be continued

__ADS_1


__ADS_2