
***
Waktu istirahat pun sudah tiba semua pegawai sudah berlarian, keluar untuk mengisi perut yang keroncongan ini, begitupun Aisya menyempatkan untuk makan siang karena hari ini ia akan keluar mengurus administrasi. Aisya sedang makan bersama dengan Bi Mina tiba-tiba ponselnya berdering, ia pun segera mengangkatnya.
"hallo, " tanya Aisya
"Jangan lupa, hari ini saya tunggu di Lobby Pukul 13.00, Mohon tepat waktu ! " suara pak Rama tanpa salam langsung begitu saja.
"Baik pak" jawab Aisya.
tuuut... telepon langsung di tutup.
Huh, dasar tidak ada etika, batin Aisya menggerutu kesal.
Ia melanjutkan kembali makan siangnya, sesekali diselingi oleh obrolan hangat diantara mereka. Ya, mereka yang paling mengerti dan bisa untuk diajak berbicara untuk saat ini.
"Bi, Mulai besok aku pindah ruangan, Aku jadi di lantai 6, ruangan ku dekat dengan Tuan besar. Semoga saja Bibi sering ke ruangan itu," ucap Aisya dengan nada sedikit kecewa.
"Syukurlah, tidak terlalu jauh dengan lantai dasar," ucap Bi Mina terkekeh.
"Iya, Bi lebih dekat ke Bumi daripada ke langit," jawab Aisya asal.
"Ah, Neng bisa saja. Oh iya, neng Naik Jabatan ya, ?" tanya Bi Mina serius.
"Engga Bi, ini sementara saja, mungkin ada yang harus diselesaikan oleh Tuan besar, saya mau membantu tuan besar ke luar negeri Bi," jawab Aisya tersenyum.
"Alhamdulillah, ternyata neng dipercaya sama Tuan besar bibi ikut bahagia, pokoknya doa terbaik buat neng," tutur Bii Mina dengan bahagianya.
"Iya, Bi, semoga aku bisa melewatinya dengan baik. Oh, iya Bi, Aku mau pamit dulu ada yang harus aku selesaikan." Pamit Aisya sambil beranjak untuk segera menemui Asisten Tuan besar.
"Iya neng, doa bibi yang terbaik buat Neng, hati-hati yaa," ucap Bi Mina tersenyum tulus.
"Iya bi, makasih, jaga kesehatan ya bi," ucap Aisya sambil meninggalkan bi Mina setelah berpamitan.
Aisya segera menuju Lobby luar, sesuai dengan perjanjian. Aisya akan dijemput oleh Rama sehingga ia harus menunggu di Lobby luar atau pintu keluar. Selang beberapa menit muncul sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping Aisya berdiri. Awalnya Aisya merasa keheranan, Namun setelah dibuka kacanya ternyata ia adalah Asisten Tuan Besar yang tak lain adalah Rama.
"Masuk !" Seru Rama dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Aisya.
Aisya sedikit kaget, namun mencoba tenang ia pun segera membuka pintu bagian belakang. Namun ia merasa kebingungan saat membuka pintunya.
Ah, sangat memalukan sekali aku tidak bisa membukanya, batin Aisya
"Bisa dipercepat. Waktu kita tidak lama !" Bentak Rama dengan kesalnya.
"Maaf, Tuan. Pintunya tidak bisa kebuka," jawab Aisya hati-hati.
Rama menggeleng kan kepalanya dan langsung keluar membukakan pintu untuk Aisya.
"Terimakasih, Tuan," ujar Aisya.
Rama kembali masuk ke mobil bagian kemudi, tanpa sepatah kata pun. namun tiba-tiba ia bertanya.
"Kamu tidak bisa membuka pintu mobil ini ?" tanya Rama.
Eh, apa dia bilang kamu, bukankah tadi menyebutku sebutan nona ? ah sudahlah ini lebih enak di dengar, Batin Aisya tersenyum.
"Iya, Tuan. Maklum saya biasanya naik angkot, kan pintunya berbeda," ucap Aisya polos dan merasakan malu yang luar biasa.
"Aku sudah menduganya," jawab Rama dengan senyuman simpulnya.
Seketika pipi Aisya langsung memerah, menahan rasa malunya.Rasanya ingin sekali menggali lubang untuk mengubur dirinya, pikirnya.
Hening
Tak lama, Mobil mereka telah sampai di tempat tujuannya.
__ADS_1
"Segera keluar !," perintah Rama dengan suara yang cukup mengagetkan.
Huh, ganteng-ganteng galak lagi, cepet tua nanti. Eh, tunggu ! aku tidak bisa membukanya, matilah aku !!! batin Aisya menggerutu.
Aku masih mencoba membuka namun tak kunjung terbuka, tiba-tiba pintu itu pun terbuka. Ternyata yang membuka adalah Asistennya.
Lagi-lagi ia merasakan malu yang teramat dalam. Ah biarkan saja, anggap saja itu pelayanan untuk Tuan Puteri, pikirnya.
Mereka masuk kedalam, kemudian Rama berbincang dengan seseorang. Tak lama Aisya mendapat kan prioritas utama. Ya, karena memiliki kekuasaan yang penuh, apapun bisa mudah melakukannya. Aku mengurus data tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama, kami pun beranjak pergi kembali.
Kini Aisya sudah bisa membuka pintu mobil tersebut, karena ia mempelajarinya agar tidak terihat norak.
Begini saja masa tidak bisa Aisya, untung otakku sedikit lancar, jadi aku dengan cepat mempelajarinya, batin Aisya.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, hanya keheningan yang dirasakan. Aisya mencoba bertanya memecah keheningan, "Tuan, pengambilan paspor kapan ?"
"Nanti juga di kirim, kamu tidak perlu mengambil nya !" Seru pak Rama singkat.
Aisya melingkarkan mulutnya, "Baik, pak."
Saya setiap jawaban baik pak mulu, ribet banget urusan sama orang-orang petinggi, batin Aisya.
Tak lama mobil yang ditumpangi sudah sampai di perusahaan. Sebelum bergegas, Pak Rama menyuruhnya untuk mengikuti beliau.
"Kamu ikut denganku," ajaknya.
Aisya mengangguk, "baik, Tuan." Ia langsung mengikuti Rama daei belakang.
***
Rama mengajaknya ke sebuah ruang yang sedari tadi diperkenalkan oleh Pak Heru. Rama pun segera memberikan beberapa penjelasan aturan untuk di ruang tersebut. Ya, meskipun buat pribadi tapi semuanya harus mengikuti aturan.
"Oh, Iya Tuan Besar menitipkan untuk keperluan akomodasi, " ucap Rama sambil menyodorkan sebuah kartu sejenis ATM beserta Nomor pin.
"Kau terlalu banyak bicara, Gunakan dengan bijak, nanti akan ada pelaporannya, dalam penggunaan kartu ini, dan mulai hari ini kamu harus sudah bekerja di ruangan baru, dan ini berkas yang harus kamu pelajari, ada yang mau ditanyakan Aisya ?" tanya Rama dengan tegas sambil menyodorkan dokumen kepada Aisya.
"Sudah cukup pak, nanti selebihnya jika ada yang kurang di pahami saya akan bertanya," ucap Aisya.
"Baiklah, jika tidak ada yang ingin kau tanyakan saya undur diri !" ucap Rama.
"Baik pak, terimakasih," ucap Aisya sembari memberikan penghormatan berupa membungkukkan badannya..
Rama pun keluar dari ruangannya. Aisya segera menduduki kursinya sedikit menyadarkan badannya yang kelelahan.
sulit sekali menjadi orang kaya, terlalu banyak aturan, batin Aisya sambil memandangi kartu debit tersebut.
***
Sejenak ia mematung di tempat tersebut, tiba-tiba teringat ibunya, ia pun segera Menghubungi nya melalui sambungan telepon.
tuuut,
Assalamualaikum, bu, bagaimana kabarnya ? ~ Aisya
waalaikumsalam, Alhamdulillah nong, gimana kabar kamu, sudah lama tidak menghubungi. ~ ibu
Alhamdulillah bu, iya maaf bu, kemarin Aisya sibuk maklum masih pegawai baru, ~ Aisya
Iya, Aisya semoga kamu betah, kamu kerja disini ibu jadi sejahtera, ~ ibu
Ibu, Aisya nanti akan ada tugas keluar negeri, mohon doanya yaa... ~ Aisya
Jauh sekali Aisya !! ibu pasti doakan yang terbaik untukmu, jaga kesehatan, ~ Ibu
Iya ibu, tapi.... semoga kita bisa segera melunasi utang.~ Aisya
__ADS_1
iya Aisya, kamu jadi ikut terbebani dengan utang itu. Tapi....tidak ada lagi yang bisa membantu melunasi utang, hanya berbagi denganmu, sepeninggal ayahmu hanya kamu harapan ibu, maaf ibu menjadi merepotkan mu,~ Ibu
Tidak apa-apa ibu, itu sudah kewajiban seorang anak, Aisya juga akan berjuang keras untuk segera melunasi utang itu. ~ Aisya
Terimakasih Nak, kai anak yangs angat berbakti. kita sama-sama untuk melunasi utang kita. eh Aisya kan kamu harus kerja, ibu juga uda di panggil sama majikan ibu, udah dulu yaa... ibu doakan yang terbaik untukmu. assalamualaikum Ujar ibu
iya ibu, waalaikumsalam~ Aisya
Telepon ditutup, seolah olah menjadi beban bahwa Aisya tidak boleh menyerah dengan keadaan, sekarang fokus untuk kerja menghasilkan uang yang banyak untuk melunasi utang utangnya dan bisa membeli rumah kecil untuk ibu nya.. karena sejak kecil Aisya sudah ditinggal oleh ayahnya dan ibu nya tidak menikah lagi. Ibunua seorang buruh cuci panggilan, untuk menghidupi sehari-hari, sampai suatu ketika harus membayar kontrakan pun harus utang ke rentenir yang akhirnya sampai sekarang belum lunas pula..
untungnya Aisya tidak menyerah begitu saja, Aisya anak yang rajin dan pintar sehingga dia selalu mendapatkan beasiswa, begitupun ketika kuliah beliau mendapatkan beasiswa full selama tepat waktu.
Waktu menunjukan pukul 17.00 Aisya segera merapikan dan menata ulang kantor baru nya selanjutnya memperlajari berkas yang disampaikan oleh asisten pa Dirga.
"Nyaman sekali kantor baru ini, tapi aku ga nyaman dengan pekerjaanya, masa hanya menghapal apa saja yang dibutuhkan tuan muda itu, jadi selama disana aku intinya jadi pembantu dia, pekerjaan macam apa ini" ucap Aisya sendiri
"ah, sudahlah yang penting dapet duit dan kerjanya halal, gini doang mah gampang lah" ucap Aisya
Enak sekali hidupku ini ya, semua akomodasi selama disana ditanggung semuanya ditanggung, batin aisyah
Aisya meraih ponselnya dan mengetik pesan kepada Sinta.
Sin, kamu lagi senggang ga, Video callan yuk ?~Aisya
trung
ayok~ Sinta
Tiba-tiba ponsel Aisya berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk, Aisya segera mengangkatnya.
hai, Aisya.. kamu lagi dimana mewah banget, kamu sekarang jadi bos yaa ~ Sinta
hai sinta, aamiin, semoga aja aku mendapatkan tuan muda nan yang kaya raya, haha, nih ruanganku sekarang, ucap Aisya sambil memamerkan ruangannya.
aamiinn pake banget deh...wow amazing, keren banget kamu, kok, bisa sih sya ? tanya Sinta.
iya, aku terpilih sama Atasanku untuk melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, jadi aku sementara diberikan ruangan ekslusif sendiri, ucap Aisya.
Wah, hebat kamu Aisya, selamat yaa. Semoga saja Atasanmu menjadi suamimu,, haha~ Sinya
Hus, sembarangan kamu, ketemu dimana bagaikan bumi dan langit ! Sinta aku tutup dulu ya, aku hanya ingin memamerkan saja ruang baru ku.~Aisya
Ah, aku belum puas menyaksikannya, ya sudahlah ~ Sinta
Maaf, Ruangan ku terlalu dekat dengan Atasanku. Alu tak mau berurusan dengannya. Nanti Malam kita lanjut lagi ya !~ Aisya
"Baiklah, kalau begitu. Bye ! seru sinta
assalamualaikum, sinta tutup Aisya
waalaikumsalam, Aisya tutup sinta
Akhirnya mereka pun berpamitan, dan hari ini Aisya pulang lebih cepat jam 06.00 sudah bisa pulang karena semenjak kontrak Aisya bisa pulang lebih awal, setelah semua pekerjaan selesai semua, ia bergegas pulang ke Asrama.
_
_
_
_
_
To be continued
__ADS_1