Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Perjanjian


__ADS_3

"Ikut denganku !" Perintah Dirga sambil menyeret tangan dengan kasarnya.


Aisya tidak bisa menolak, ia pun mengikuti keinginan Tuannya. Dirga dengan cepat menyeret Aisya membawanya ke Basement. keberuntungan sedang memihak kepadanya karena suasana di sekitar begitu sepi sehingga tidak sempat berjumpa dengan karyawan lain.


Dirga membuka pintu mobilnya sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


"Masuklah !" Titah Dirga.


Aisya Lagi lagi menurut perkataan Dirga. Ya, Saat ini Aisya memang sedikit ada rasa ketakutan.


Aisya segera masuk dan duduk disampingnya. Dirga pun segera memasukinya dan duduk di belakang kemudi. Dirga segera melajukan kendaraannya. Sepanjang Perjalanan hanya keheningan tidak ada pembicaraan. Aisya sedikit gusar karena ternyata Dirga seperti sedang membawa ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi.


Aisya dengan sedikit keberanian mencoba untuk menanyakan, "Kita Mau kemana ?" Tanya Aisya melirikan ke arah Dirga.


"Suatu tempat." Ucap Dirga singkat


Sepertinya dia mood nya sedang kurang baik. Aku harus berjaga-jaga, aku tak ingin kejadian kelam itu terulang kembali akibat ulahnya, batin Aisya.


"Baiklah, jika kau tidak mau memberi tahuku, setidaknya kau bisa menjamin keamanan ku," ucap Aisya dengan pasrah.


Dirga melirik ke arah Aisya dengan tatapan tajam, "Apakah aku begitu menakutkan bagimu !" ucap Dirga menaikan alisnya.


Jelas kau begitu menakutkan Tuan. Kau tidak bisa diprediksi, Diamnya dirimu itu sungguh ada maksud lain, ucap Aisya dalam hatinya.


"Jawablah", perintah Dirga karena Aisya tidak menjawabnya. Hal itu pula mengakibatkan Aisya terbangun dari lamunan.


"Tidak Tuan, Saya Hanya ingin memastikan saja. Tuan akan membawaku kemana ?" Ucap Aisya


Dirga hanya menyunggingkan mulutnya ,"Apakah kau tidak mengerti, apa yang ku ucapkan tadi."


Anda hanya bilang ke suatu tempat, tempat apa ? sungguh menyebalkan, batin Aisya.


"Baiklah, Aku tidak akan bertanya hal itu kembali. Aku hanya ingin memastikan keselamatan ku saja."


"Apakah aku terlihat akan berbuat jahat padamu, hah !"


"Ti..Tidak Tuan," jawab Aisya gemetar.


"Hah, Jangan mencoba berbohong kepadaku."


Sial, ternyata dia jauh lebih tahu tentang apa yang ada di pikiranku.


hening


"Aku akan membicarakan hal penting denganmu," Ucap Dirga membuyarkan keheningan.


"Maaf Tuan"

__ADS_1


"Aku akan membawamu ke tempat dimana nanti kau tinggal," ucapnya tegas.


Kendaraan pun terus melaju membelah jalanan pusat kota. Aisya tak tahu akan dibawa olehnya. Dia hanya tak henti berdoa untuk menjaga keselamatannya.


Tibalah disebuah tempat, komplek perumahan elit yang tidak begitu ramai. Suasana yang begitu tenang dan damai tanpa hiruk pikuk keramaian pada umumnya.


Mobil itu kini seeang ebrada di halaman sebuah rumah yang sedikit unik, cukup untuk di tinggali, mengingat itu dikawasan elit, jelas sudah dengan kemewahannya namun tidak terlalu besar bak istana, tetapi cukup nyaman dan damai.


"Keluarlah" perintahnya membuyarkan lamunan Aisya.


Aisya hanya menganggukan kepalanya dan segera turun, ada sedikit kagum melihat pemandangan yang ia saksikan saat ini.


"Cepatlah, jangan terlalu lama kau mematung disana. Waktuku tidak banyak." Perintah nya sambil melangkahkan kaki menuju rumah tersebut.


Aisya pun menganggukan dan mengekor mengikuti Dirga yang memasuki rumah tersebut.


Dirga mengambil kunci dan membukakan pintu.


Ceklek


Nampaknya rumah tersebut masih kosong, seperti baru. Bahkan barang barang pun terlihat masih baru karena sebagian masih di tutupi kain putih.


Dirga menuju tempat duduk, dan mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa. sedangkan Aisya masih mematung berdiri dan melihat sekeliling, ia pun Ada sedikit perasaan was-was. Namun Kali Ini Aisya sudah terlebih dahulu berjaga-jaga.


"Duduklah, waktu sangat berarti." Perintah Dirga


Aisya pun segera duduk dan sedikit ada kecanggungan, karena di rumah harus berduaan dengan orang yang pernah merenggut kehormatannya. Ya, ia memang sedikit khawatir kejadian tersebut terulang kembali.


"Bagaimana Tuan ?" ucap Aisya yang sedari tadi tidak fokus karena terlalu banyak pertanyaan dibenaknya.


"Saya Akan Menikahimu !" ucap Dirga dengan tegas dan datar.


deg


Seketika Aisya sedikit tersentak, ia hanya sedikit tidak percaya. Apakah benar yang berhadapan dengannya ini adalah Tuan yang galak itu. Bahkan ia pun sempat meragukannya.


"Apakah Tuan Yakin ?" tanpa sadar mengucapkannya.


Ah, kenapa aku menanyakannya. Bukankah itu keinginan ku, batin Aisya meronta.


Dirga menautkan alisnya, "Ya, aku tak pernah ingkar dengan apa yang aku katakan, Aku akan bertanggung jawab, tapi ada sebuah syarat"


Aisya menautkan alisnya, "Apa itu Tuan syaratnya ?"


"Aku akan menikahimu tanpa ada pesta meriah, dan orang lain tak perlu mengetahui bahwa kita adalah suami isteri, bagaimana ?" Tanyanya.


Aisya menghela nafas kasarnya, "Saya rasa itu bukan syarat yang berat untukku," ujar Aisya.

__ADS_1


"Baiklah, satu hal lagi kau harus segera resign dari kantorku. Mulai sekarang kau tinggal di tempat ini saja, anggap rumah ini sebagai mahar dariku."


Aisya hanya mengangguk, "Bagaimana saya menghidupi diri saya sendiri Tuan. Kalau saya tidak bekerja ?" sanggah Aisya.


"Kau bisa memulai usaha sendiri, sekarang pikirkanlah olehmu. Jika sudah menemukan usaha yang tepat, kau beritahuku, Nanti saya akan memberikan modal untukmu" Ujar Dirga.


huh, padahal saya hanya menguji dia, harusnya dia tahu fungsi suami itu untuk menafkahi isterinya. Akan kah aku menjadi seperti isteri terlantar ? ah tidak, kenapa aku memikirkan hal itu. Harusnya aku bersyukur dia sudah bertanggung jawab dan memberikan tempat tinggal. batin Aisya yang mencoba menenangkan diri.


"Untuk pernikahan nya saya sudah mempersiapkan semuanya dan akan di lakukan di sini."lanjutnya yang membuyarkan lamunan Aisya.


"Tuan bolehkah saya meminta suatu hal ?"


"Apa itu ?"


"Bolehkah orangtua ku tinggal disini ?"


Dirga diam sejenak, "Terserahlah."


"Satu hal lagi saya menikahimu sebatas tanggung jawab saja. jangan harap seperti suami istri lainnya. Mungkin suatu saat nanti aku memiliki jalan yang lain. Kau bisa mengerti ?"


Aisya mengangguk, "iya Tuan saya mengerti"


"Mulai sekarang kau urus surat pengunduran dirimu di perusahaanku. dan ingat jangan sampai ada yang tau hubungan kita" Ancam Dirga.


Aisya hanya mengangguk menyetujuinya, setidaknya Aisya tidak terlalu khawatir dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. ia sudah siap dengan apa yang akan terjadi mengingat persyaratan yang diajukan oleh Dirga.


"Baiklah, sekarang kau pikirkan apa usaha mu, besok kita akan melangsungkan pernikahan kita," ucap Dirga.


"Baik Tuan, sepertinya saya sudah memikirkan usahanya, sepertinya saya berjualan saja," ucap Aisya


Dirga menautkan alisnya, "Baiklah, nanti saya urus untuk tempatnya."


Mungkin ini keputusan yang sangat cepat untuk Aisya. Sekarang yang menjadi Acuannya dia harus menjadi seorang wirausaha, untuk bertahan hidup. Ia tidak terlalu berharap dengan pemberian dari Dirga karena sewaktu-waktu Dirga akan membuangnya.


Aisya sudah memikirkannya untuk membuka Toko perlengkapan mainan. Hal itu juga dia melihat pasaran yang yang sedang ramai. Modalnya tidak terlalu besar. Aisya cukup tahu diri, sudah beruntung dia mendapatkan pertanggungjawaban dari Dirga. Dia tidak ingin memanfaatkan situasi seperti ini untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2