
***
Pagi yang cerah, menyeruakan sang mentari sehingga cahaya memantulkan melalui celah-celah kaca, hal itu cukup membangun Dirga dari tidurnya, dengan sedikit kepala berat dan pusing dirga mengosok matanya sembari berusaha mencari ponsel nya,
"jam berapa sekarang, kepalaku berat sekali," gumam Dirga
Dirga melebarkan pandangannya, ia melirik jam dinding, disana ia tertera pukul 09.00. Dirga berkali-kali mengucek kedua matanya, kemudian terperanjat.
"Astaga, aku kesiangan," ujar Dirga sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Dirga meraih ponselnya, disana terdapat beberapa pesan, namun ia tidak langsung membukanya melainkan ia memilih pergi ke kamar mandi karena tak kuat ingin buang air kecil.
"Ah, tak kuat aku menahannya," gumam Dirga sambil memegang kepalanya dan berjalan menuju ke kamar mandi serta tak lupa meraih handuk terlebih dahulu.
Ketika di dalam kamar mandi, Dirga pun melucuti pakaiannya dan menghidupkan showernya. Selesai dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan menggosok menggunakan handuk, tiba-tiba ponselnya berbunyi panggilan, Dirga pun meraihnya dan mengangkatnya.
"iya, ada apa ?" tanya Dirga sambil mengeringkan rambutnya.
"Ga, kau tidak terjadi apa-apa ? soalnya dari tadi saya hubungi, tidak ada respon," ucap Rama khawatir.
"Tenang saja kau, aku tidak terjadi apa-apa, hanya sedikit sakit kepala, karena pengaruh mabuk semalam sepertinya," jawab Dirga.
"Syukurlah, saya malam langsung pulang, karena ada yang harus ku selesaikan, jadi tidak menemanimu." Ucap Rama
"Santai, saja. aku tidak terjadi apa-apa," ujar Dirga.
"Baiklah, jika kau belum pulih sebaiknya istirahat terlebih dahulu," ucap Rama.
"Sepertinya saya akan masuk hari ini, bukannya Sekarang ada meeting dengan klien, ?" tanya dirga.
"Jika kau belum sehat, aku bisa mengganti waktu pertemuanya" jawab Rama.
"Saya bukan tipe orang yang mudah meng-cancel agenda apalagi hal penting. Bukankah kamu tahu itu ?" ucap Dirga memberikan penegasan.
Huh, salah lagi. padahal aku khawatir saja denganmu, Batin Rama
"Baiklah, kalau begitu," jawab rama yang mengetahui bahwa Dirga agak sedikit marah karena ia orangnya sangat disiplin.
"Oke, tunggu saya disana, terus siapkan untuk meeting hari ini, belikan aku sarapan juga" ucap Dirga.
"Ok, siap !" jawab Rama.
Sambungan telepon pun terputus, Dirga kembali memakai pakaian kantoran dengan menggunakan kameja dan jas dengan sangat elegan, sehingga terlihat gagah dan tampan, karena Dirga merupakan seorang Pemimpin perusahaan yang masih terlihat muda tetapi usianya sudah kepala tiga.
***
Suasana dikantor seperti biasanya, Aisya sudah datang lebih awal dan sudah mulai bekerja diruangan barunya, namun Aisya merasakan keheningan dalam kesendirian. Di sebuah ruangan yang begitu privasi, meskipun mewah tetapi tidak ada teman yang menemani terasa hampa, karena Aisya terbiasa diruangan yang ramai dan bersenda gurau dengan teman yang didekatnya, kini dia merasakan kesendirian.
"hmm, rasanya menempati ruangan ini, serasa berada di dalam gua" gumam Aisya
"ah, gimana nanti aku ke amerika berbarengan kedua petinggi itu, mana aku tak akrab lagi, pasti sangat kesepian dan membosankan," gumam Aisya.
"Antara bahagia sama bahaya !" gumam Aisya
__ADS_1
suasana yang begitu membosankan, membuatnya lebih cepat mengerjakan tugas tugasnya,
"ya, sudahlah aku harusnya bersyukur, orang mungkin menginginkan posisi seperti diriku," gumam Aisya.
"Aku nih, tak tahu berterima kasih, yaa Tuhan.. maafkan aku," gumam Aisya sambil memukul mukul kepalanya sendiri namun tiba-tiba pintu terketuk dan langsung dibuka, ternyata pak Rama datang menghampiri nya. setengah terperanjat karena dari tadi dia sembari mengerjakan tugas dan berkhayal selalu menggunakan headset mendengarkan musik.
"Maaf, pak " sambil berdiri dan melepaskan headphonenya.
"Kamu sedang apa ? saya sudah mengetuk pintu dari tadi tidak ada jawaban, rupa nya kamu senang senang dengan headphone mu itu, bukannya kerja, jangan gunakan kesenangan pribadi di kantor ini,"Ucap Rama sambil mengomel.
Aisya pun sedikit membela, "Iya, maaf pak, saya dari tadi sedang mengerjakan tugas, hanya saja saya menggunakan headphone agar menghilangkan rasa kesendirian saya disini." ucap Aisya
"Ah, sudahlah jangan banyak alasan, jangan diulangi lagi, apa lagi kalau kau bertemu dengan Tuan besar, kau pasti sudah di pecat, jika ditemukan kau sedang seperti ini. Aku masih berbaik hati kepadamu." ancam Rama
Aisya berdiam menundukan kepalanya karena mengakui kesalahannya seraya berkata, "Maaf pak, silahkan duduk" ucap Aisya sambil menunjukan ke tempat duduk.
"Tidak perlu, saya kesini mau menyuruhmu memberikan sarapan buat Tuan Besar, kamu beli makanan ini !"perintah Rama menyodorkan catatan makanan yang harus di beli dan memberikannya uangnya.
Huh, Makanan Apa ini ? kenapa tidak memesan online saja, sungguh merepotkan, batin Aisya.
"Mohon maaf pak, apakah boleh pesan via online ?" tanya Aisya
"Ya terserah, yang penting jam 09.30 itu sudah ada, dan saya tidak mau tahu," ujar Rama penuh penekanan.
kemudian Aisya melihat jam yang menunjukan pukul 09.15.
hah, Apa, ini tidak mungkin 15 menit, heran nih orang batin aisyah
"Kalau kamu berdiam diri disini saja, tak akan sampai makanan kesini. Segera laksanakan tugasmu, saya tunggu di ruangan Tuan Besar ! perintah Rama.
"Baik, pak" jawab Aisya sambil melihat jam dan mencari toko makanan ternyata toko makanan tersebut ada disebelah kantornya.
"Aduh ternyata dekat toh," batin Aisya sambil berjalan seraya berlari.
"Jangan sampai aku telat dan di skorsing lagi" gumam Aisya berlari ke toko makanan yang dimaksud.
Sesampainya di toko, Aisya kebingungan cara membelinya harus bagaimana ? karena ia belum pernah membeli makanan ditempat seperti itu. Tak mau pikir panjang ia segera menuju kasir dan menyodorkan catatan tadi.
"Mba, saya mau beli ini, take away ya !" ucap Aisya menyodorkan catatannya.
"Baik, Mba. Silahkan ditunggu. Sekarang pembayaran terlebih dahulu, jadi totalnya tiga ratus ribu rupiah." Ucap sang kasir dengan senyuman ramahnya.
Aisya menyodorkan uang sesuai dengan permintaannya, ia pun mendapatkan nomor antrian. Untung nya hari ini belum jam makan siang jadi toko tersebut tidak terlalu ramai. setelah selesai Aisya segera berlari menuju kantornya.
***
Mobil Dirga sudah terpakir dia sedang berada di lift menuju Ruangannya, sementara Rama sedikit cemas karena makanan tak kunjung datang, menelpon Aisya berkali-kali tak ada jawaban. sesampainya di kantor Rama sudah menunggu di depan ruangan nya.
"Rama, masuklah !" Ajak Dirga.
"baiklah, " jawab Rama sambil melirik mencari ke berbagai sudut disana, namun tak kunjung datang.
"hmm, kemana nih orang belum dateng juga, kalau ketemu aku akan beri pelajaran," batin Rama.
__ADS_1
"O..iya mana sarapan pesananku" ucap Dirga.
"Sebentar saya ambilkan," jawab Rama seraya meninggalkan ruangan nanun dirga mencegahnya
"kamu, mau kemana Rama, suruh saja yang lain mengantarnya !" ujar dirga.
"Baiklah saya akan menghubungi nya terlebih dahulu, " jawab Rama dengan merasa kesal, kemudian dia mengirim pesan kepada Aisya.
heh, kamu kemana saja, cepat saya tunggu kalau telat, mati kau !~Rama
Aisya baru saja tiba di depan ruangnya, ia meraih ponselnya karena bergetar pertanda ada pesan masuk.
Astaga, ini banyak panggilan dari Pa Rama, Batin Aisya.
Ia pun sambil membalas pesan, saya sudah didepan ruangan bapak ~ Aisya
Masuklah~ Rama
Menghela nafas karena akan berjumpa dengan dua harimau ganas di ruangan itu,
"hmm..tenanglah, Aisya," gumam Aisya sambil mengetuk pintu.
tok..tok..tok
"Masuk" jawab Dirga dari dalam ruangan.
"Maaf pak, saya mengantarkan pesanan bapak," sambil membawa makanan.
"o, iya silahkan taruh saja di meja" jawab Dirga dingin.
Aisya berjalan menuju meja dan segera berjalan keluar, namun sebelum keluar tiba-tiba dirga mengenalinya
"o, iya sepertinya keberangkatan kita, di undur mungkin bulan depan, jadi kamu lebih banyak lagi untuk belajar persiapan kesana, nanti jadwal fixnya saya beritahukan," ujar Dirga
sedikit kaget, namun berusaha tetap tenang.
"Baik pak, terimakasih, saya boleh undur diri pak." ucap Aisya.
"oke silahkan" jawab Dirga sambil melambaikan tangannya seperti mengusirnya
.
.
.
.
.
.
To be continued
__ADS_1