
Aku benci saat-saat seperti ini, Dimana LDR akan di mulai kembali. Entah berapa lama kami bisa bertemu lagi , Andai hubungan kami bisa normal seperti banyak pasangan diluar sana yang setiap hari minggu bisa ketemu jangankan setiap minggu 1 bulan sekali aku sudah bersyukur, Tapi kami tidak bisa berbuat banyak, Untuk sementara ini kami mangalah dengan keadaan sampai waktunya tiba nanti pasti semua akan indah.
Sepulang nemenin Mas Rudi nunggu Bis, Ibu manggilku.
"Iya Bu ada apa, Sepertinya ada yang penting Bu."
"Sini duduk Ibu mau bicara, "Mau dibawa kemana hubungan kalian sekarang?"
"Maksud Ibu bagaimana Bu Nana gak paham, Hubungan Nana dengan Mas Rudi ya tetap seperti ini Bu dijalanin aja, Toh Mas Rudi jauh jadi Ibu gak Perlu khawatir tentang hubungan bebas Bu, "Insyaallah Nana bisa jaga diri Bu."
"Tapi bukan itu maksud Ibu nak, Maksud Ibu apa mungkin Rudi disana setia sementara kamu disini tetap menjaga cinta yang tidak pasti, Sekuat apapun Laki-Laki menjalin hubungan jarak jauh pasti ada aja wanita yang ingin coba masuk memberi perhatian."
"Tapi kan Mas Rudi bukan tipe Laki-laki seperti itu bu, Maaf Bu bukanya Nana ingin durhaka sama Ibu tapi kan Ibu sendiri yang awalnya ngenalin Mas Rudi kepada Nana tapi Ibu juga yang sekarang meragukan Mas Rudi. Terus sekarang Nana harus gimana Bu, Apa yang ibu mau, Tolong Bu untuk kali ini Biarkan Nana bahagia dengan Hubungan ini."
"Hubungan apa.! Hubungan yang di bodoh\-bodohi. Seketika Ibu meninggikan suaranya, Aku gak tau apa yang buat Ibu semarah ini, Padahal sebelumnya semua baik\-baik saja dan Mas Rudi di sambut baik dengan Ibu".
"Laki-laki yang sudah mapan punya pekerjaan tetap karir yang bagus tidak manjamin dia akan setia dengan pasanganya," Apalagi dia jauh dan beda kota lagi, Ibu cuma gak mau anak Ibu di bodoh-bodohi disini nungguin yang tidak pasti Setiap Hari cuma bicara sama Telfon aja,. Udah kaya dipelet kamu sekarang sama Rudi, "Apapun yang dia suru semua kamu turutin, " Balik ngajar suru masuk kamar masuk, "Teleponan sampai malam, Sementara Ibu yang melahirkan kamu yang susah payah cari uang buat biaya kuliah kamu slalu di abaikan.
Aku gak ngerti kenapa Ibu jadi semarah ini, Semua emosi dia luapkan seakan-akan punya dendam tersendiri dengan Mas Rudi. Saat itu aku cuma bisa nangis, Aku tidak berani membantah omongan Ibu takut dibilang Durhaka, Setelah puas meluapkan omosinya Ibu Pergi begitu aja tanpa memperdulikan perasaan ku.
Setelah kejadian itu aku jadi lebih banyak diam, Karena apapun yang aku lakukan sepertinya semua salah dimata ibu dan lagi-lagi setiap kesalahanku ujungnya-ujungnya di sangkut pautkan dengan Mas Rudi. Padahal Mas Rudi sama sekali Tidak tau apapun.
Setiap Telfon Mas selalu tanya
" Sayang Ibu apa kabar.? Perasaan sudah lama Mas gak pernah telepon sama Ibu, kangen juga denger suara Ibu." Di saat Mas Rudi menanyakan Kabar Ibu, Aku selalu bilang kalau kabar Ibu sehat dan Ibu sudah tidur jadi tidak bisa telfonan, Padahal Mas Rudi sangat ingin mendengar suara ibu.
Netapa berdosanya aku selalu membohongi Mas Rudi, Padahal aku tau kalau Ibu sudah tidak menginginkan Mas Rudi lagi.
Mungkin aku salah satu orang yang gak bisa menyembunyikan Air mata, Disaat nangis otomatis hidungku sumbat Gak bisa bernafas dan itu membuat suaraku menjadi sengau dan Mas Rudi sudah hafal.
"Sayang kenapa kok nangis,? Begitulah pertanyaan yang sering Mas Rudi tanyakan dan aku selalu mencari-cari alasan supaya Mas Rudi gak Tau.
Semakin hari rasa sayang Mas Rudi semakin besar kepadaku dan begitu juga aku sangat-sangat menyayanginya. Tapi beda halnya dengan Ibu, Iya setiap hari mencari cari kesalahan Mas Rudi tujuanya cuma Untuk menjauhkanKu dari Mas Rudi.
Sampai suatu ketika masalah besar terjadi.
Sudah 2 bulan aku tidak lagi menjadi guru les di Bimbel yang selama ini aku bekerja, Mas Rudi sudah tau alasanya kenapa, Aku sudah cerita semuanya kepada Mas Rudi dan Mas Rudi merasa senang Karena waktuku sudah tidak banyak tersita lagi dan otamatis istirahatku cukup jadi gak harus pulang malam lagi.
__ADS_1
Tapi hal itu berbeda Dengan Ibu, Beliau merasa aku yang memutuskan pekerjaan itu sepihak padahal aku sudah menjelaskan alasanku tidak bekerja tapi ibu gak percaya. Yang Ibu pikirkan setelah tidak bekerja lagi aku akan semakin banyak waktu untuk teleponan setiap malam dengan Mas Rudi, Padahal itu semua tidak benar, Sejak saat itu Ibu benar-benar membenci Mas Rudi dan Mas Rudi tidak mengetahui itu karena selama Ini aku selalu bilang Kepada Mas Rudi kalau Ibu selalu titip salam dan bilang Mas Rudi selalu jaga kesehatan disana.
Kata Mas Rudi aku tidak perlu memikirkan lagi biaya apapun karna dia janji akan membantuku, Inilah kesempatan dia karena selama ini aku selalu menolak bantuan darinya, Uang 1 juta yang terakhir Mas Rudi kasi juga masih utuh karena aku bingung mau dipakai apa uang itu.
Sementara dipikiran Ibu saat ini, Ibu ngerasa semakin banyak biaya yang harus di keluarkan untuk kami bertiga karena Adik nomor duaku sudah kelas 3 SMA dan adik Nomor 3 sekarang sudah kelas 1 SMA jadi otomatis biaya bertambah banyak.
Jujur selama aku bekerja Ibu Sudah tidak pernah lagi memberiku uang saku untuk ongkos naik angkutan, Palingan ibu cuma ngasih uang semester aja selebihnya aku punya gajih buat memenuhi kebutuhanku semua,. Tapi setelah Tidak bekerja lagi ibu benar-benar merasa sangat terbebani dan saat itu aku berfikir untuk berenti kuliah aja, Tapi lagi lagi Mas Rudi melarangku dan Berjanji akan membantuku sampai aku Lulus Nanti.
Jujur pengeluaranku yang paling banyak untuk Tugas-tugas kampus karena saat sekarang aku lagi banyak tugas yang harus dikerjakan diwarnet ataupun rental komputer buat cari materi karena aku tidak punya laptop saat itu.
Aku dipaksa Mas Rudi untuk buka rekening tabungan supaya aku tidak pinjam sana sini kalau Mas Mau teransfer uang. Dan mau tidak mau aku emang harus menuruti Mas Rudi saat itu karena sudah tidak ada Pilihan yang lain.
Bulan pun berganti Mas Rudi mulai Mentransfer beberapa Gajihnya untuk keperluanku dan Mas Rudi berpesan supaya Ibu jangan sampai tau. Padahal aku bener-bener ingin memberitahu Ibu bahwa saat beginilah bentuk keseriusan Mas Rudi, Dia menyisihkan beberapa gajihnya buatku, Tapi ibu semakin Hari semakin membenci Mas Rudi dan setiap hari dirumah yang ada hanyalah keributan yang ujung-ujungnya mengarah ke Mas Rudi.
Ibu benar-benar merasa berat membiayaiku kuliah padahal Biaya terbesar selama ini dari Mas Rudi tapi seakan Ibu menutup mata akan hal itu.
Tidak pernah lagi kulihat sekarang Ibu sabar, Setiap hari yang ada hanyalah omelan omelan dan omelan yang ujungnya tetap ke Mas Rudi padahal Mas Rudi gak salah apa-apa.
Hari ini aku sengaja bilang ke Ibu kalau aku berangkat siang kekampus, Keadaan Rumah pagi ini sudah Sepi aku pun bergegas membereskan beberapa baju dan keperluanku lainya kedalam tas besar, Aku gak tau mungkin keputusanku ini salah. Tapi mungkin dengan cara ini aku sedikit bisa menenangkan diriku sementara waktu, Dengan berbekal ingatanku saat kecil aku pernah di ajak Ayah kerumah Kakek Ato, Kek ato itu adik dari Ibu nya ayah, Beliau adalah pensiunan TNI dan sekarang Beliau mempunyai usaha Rumah Makan dan saat ini yang ada Dipikiranku cuma mau kesana dan kerja dengan kakek Buat tambahan uang kuliahku, Aku tidak mau menjadi beban Ibu dan setiap hari mendengar Ibu selalu menyalahkan Mas Rudi atas ini semua.
Bermodal uang yang selalu dikasi Mas Rudi aku nekat pergi saat ini juga.
Sebelum pergi aku sengaja mematikan ponselku karena nanti bakal ketauan dan Ibu terus neleponin aku.
Saat ini posisiku sudah dibecak motor dan aku menjelaskan secara detail ke Abang becak tentang Kakek ku. Di awal sebelum aku naik si Abang becak yakin kalau tau di mana rumah Kakek tapi setelah di jalan dia ternyata tidak tau lokasi rumah Kakek.
2 jam kami muterin Kota cuma nyari Rumah kakek dan akhirnya mataku tetuju pada satu Rumah makan di dekat kawasan industri yang pada saat itu cukup Ramai orang makan.
"Berapa Bang ongkos becaknya," Tanyaku ke Abang becak.
"200 Ribu dek,"
"Haaaaahhhh,!!! " Apa tidak salah Bang kenapa Mahal sekali."
"Ya emang sudah segitu Dek, 2 jam kita keliling cari alamat abis minyak saya,"
Dengan kesal aku pun membayar ongkos tersebut, Gak ada untungnya juga debad dengan Abang becak, Padahal kan salah dia sendiri tadi dia bilang kalau tau Alamatnya ehhh ternyata aku di ajak Keliling-keliling, Mungkin dia cuma modus suoaya aku membayar mahal.
__ADS_1
800 ribu lagi sisa uangku dari Mas Rudi hufftttt aku benar benar harus hemat sekarang.
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam, Ehh inikan anaknya Diran,"
"Iya kek saya Nana anaknya Ayah yang dulu sering di ajak Ayah ke sini," Tapi dulu belum sebesar ini Kek Nana sampai Nyasar cari alamat kakek.
"Sama siapa Na kesini,?"
"Nana sendiran Kek." Aku pun menjelaskan maksud dan tujuan ku ke sini untuk bekerja bantu-bantu di Rumah makan kakek apapun aku mau aku lakuin, Dan setelah kesepakatan dengan kakek aku minta upah 20.000 sehari dan Kakek mengijinkanya Dan bilang kalau aku gak perlu kerja Tinggalah disini selama dan semau yang aku Mau.
Alhamdulilah ya allah kau begitu baik.
Perjanjian awalku dengan Kakek adalah setiap hari aku bangun jam 4 untuk bantuin pegawai kakek ngiris ngiris sayuran yang akan dimasak nanti, Tapi aku heran kenapa mereka semua canggung dan tidak mengijinkanku mengerjakan itu semua, Tapi aku tetap memaksa.
Jam 8 aku Berangkat keKampus dan ternyata benar kampusku jaraknya hanya 2 kilo meter dari Rumah Kakek, Naik angkutan umum dari rumah Kakek ke kampus cuma bayar ongkos 2000 rupiah, Ini Benar-benar berbanding terbalik denganku saat masih tinggal sama Ibu, Aku harus 2x naik angkot untuk menuju ke kampus ku dan setiap Hari biaya transport ku 20.000 pulang pergi setiap harinya .
Kakek Selalu memperlakukanku dengan baik, Aku tau kenapa kakek begitu, Semenjak Nenek wafat dan 3 orang anak-anak kakek yang berprofesi sama dengan kakek TNI.
Sekarang mereka sudah punya keluarga masing-masing dan semuanya jauh, Mas Robi sekarang di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Mas Dwi di Bandung dan Mas Heri di Padang. Begitulah kehidupan TNI, Mereka tidak pernah tau bakal di tempatkan di mana dan sejauh apapun jarak dengan orang-orang yang mereka sayang.
Mereka telah bersumpah akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Bersumpah untuk tunduk kepada hukum dan memegang teguh disiplin keprajuritan.
Tatat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan.
Akan menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada Tentara dan Negara Republik Indonesia.
Akan memegang segala rahasia Tentara sekeras-kerasnya.
Begitulah sumpah mereka di awal memilih jalan hidup sebagai seorang Prajurit TNI.
1 Minggu berlalu setelah meninggalkan Rumah sampai detik inipun aku sama sekali belum menghidupkan ponsel ku, Aku takut kalau Ibu menelfon ku dan yang paling aku takutnya bagaimana caraku menjelaskan semua dengan Mas Rudi.
Tapi rasanya aku benar-benar egois kalau tidak memberi tau ini dengan Mas Rudi, Biar bagaimanapun dia berhak tau.
__ADS_1