Aku Kau Dan Kenanganku

Aku Kau Dan Kenanganku
Perpisahan


__ADS_3

Minggu waktu yang ditunggu tiba dimana hari ini Mas Rudi mau balik kampung pamitan sama Ibu.


pukul 09.25 bunyi motor dari arah depan terdengar begitu keras bisa di bayangkan bunyi suara kenalpot yang di modivikasi.


saya juga tidak bisa menirukan suaranya intinya berisik.


Tidak lama suara motor itu semakin jelas semakin jelas dan semakin berisik.


Terdengar dari dalam Adikku Juju ngomel karena dia merasa terganggu dengan suara berisik motor itu.


"Haadehhh siapa lah yang naik motor suara kaya petir gitu.


kurang kerjaan sekali ihhh.


Dan seketika suara motor itu senyap.


kulihat ternyata Mas Rudi yang sedari tadi mengendarai motor tersebut.


"Assalamualaikum." Sapa Mas Rudi mengucap salam.


"walaikumsalam." Jawab Ibu sambil mempersilahkan Mas Rudi masuk.


"Silahkan masuk Rud, Dari mana." Tanya Ibu membuka pembicaraan.


"Dari rumah Wardi tadi Bu terus kerumah Irwan temen Wardi ambil motor ini, Maaf ya Bu kalau suara motornya berisik.


" iya ndak papa Rud."


"Sebelumnya Rudi minta maaf Bu kalau misalkan Rudi sudah buat ibu kecewa."


Sebelum Mas Rudi malanjutkan omongannya Ibu langsung memotong.


"Sudah tidak ada yang perlu di pikirkan dan di sesalkan Rud.


semua yang sudah terjadi ini adalah takdir."


Tanpa banyak basa basi aku segera menghampiri Mas Rudi supaya suasana tidak tegang lagi.


"Yasudah ngobrol dengan Nana ya Rud, Ibu mau lanjutin kerjaan Ibu dulu."


" iya baik Bu."


"Mas tdi naik motor siapa, Tanyaku penasaran.


"Kenapa sayang."


"Berisik tau Mas suara kenalpotnya. Emang itu motor siapa yang Mas bawa."


"Itu motor temenya Wardi, Tadi Mas mau pakai motor Wardi tapi Ayahnya pergi bawa motor yang kemarin Mas pakai buat jemput sayang, Jadinya Mas pakai motor ini. "Kalau sayang malu kita gausah pergi kemana mana kita dirumah aja mau."


Dengan hati yang kesal aku langsung manyun gak jelas karena kan janjinya bukan begini kami mau jalan kemanapun hari ini karena Mas Rudi hari ini pulang.


"Yaudah sayang kita jalan yuk."


Aku rada bingung antara iya dan tidak. Aku langsung memasang helm di kepalaku.


" Sayang mau kemana pakai helm tanya mas Rudi.


"ihhhhhh kan gimna Sih Mas katanya kita mau jalan sekalinya Nana udah pakai helem Mas bilang mau kemana. Udah gausah jadi aja deh sahutku dengen penuh rasa kesal.


"Ohh gini toh klau sayang Mas lagi ngambek, jelek sayang hidung peseknya keliatan kalau ngambek begini ledek Mas Rudi."

__ADS_1


"Sayang mau jalan kan ayo kita jalan." Jawabnya sambil melepaskan helm yang ada di kepalaku dan menuntunku kearah depan.


mas Rudi pun berpamitan ke Ibu.


"Bu saya ijin ngajak Nana jalan ya Bu tidak lama kok. Oh iya Bu saya titip motor ya Bu disamping.


"Iya Rud tidak apa apa. Emangnya tidak bawa motor tanya ibu.


" Tidak Bu motornya ditinggal saja karena suara kenalpotnya berisik takut nanti di kota ada razia.


"Yasudah hati-hati ya Nak.


"Baik bu."


Setelah pamit dengan Ibu kami langsung berjalan bergandengan tangan keluar dari gang rumahku menuju kearah simpang jalan Raya.


"Ini toh Mas jalan-jalan yang Mas maksud kita beneran jalan kaki tanyaku ke Mas Rudi.


"Sayang suka gak kalau kita jalan kaki begini biar sehat dan biar lebih banyak waktu kita ngobrol kan sayang.


Tidak lama berselang kamipun sampai di simpang jalan Raya.


dan secara mengejutkan Mas Rudi memberhentikan angkot dan dengan menarik tanganku pelan Mas Rudi bilang.


"Sayang naik duluan gih.


Akupun Nurut.


"Mas kita mau kemana. Baru x ini deh Nana naik angkot sama Mas ini bener bener romantis banget rasanya."


Mas Rudi tak sedikitpun melepas gandengan tanganya, Dia tetap memegang erat tanganku meskipun beberapa mata tertuju pada kami.


"Sayang kita ke taman kota ya, Tadi sebelum Mas kerumah ayank Mas ada tanya ke Wardi kalau taman kota lumayan bagus jadi kita kesana ya."


Dia memperlakukan aku begitu istimewa.


Setelah sampai di taman kamipun duduk di bangku yang terbuat dari batu-batuan, Saat itu taman lumayan sepi hanya ada kami dan beberapa ibu-ibu dengan anaknya dan beberapa penjual makanan.


"Maafin Mas ya sayang, Mas gak bisa bawa sayang jalan ketempat yang bagus malah ke taman."


"Suuusssttttt aku menutup bibir mas Rudi dengan jari telunjuk ku.


"Ini juga sudah bagus Mas Nana suka.


padahal Nana orang sini Mas tapi jarang banget ketaman ini baru ini duduk disini terus sama Mas pula orang yang Nana sayang."


"Belajar gombal dari mana sayang duhhh makin pinter." Jawab Mas Rudi sambil menarik hidungku.


"Mas Nana laper tadi dari pagi sengaja belum sarapan kirain Mas mau makan dirumah tapi ternyata Mas gak jadi makan.


"Yasudah sayang tunggu disini yah Mas kesiitu dulu belikan makanan sebentar."


Seketika Mas Rudi ngeloyor lari kepenjual yang gak jauh dari tempat kami duduk.


gak sampai dus menit dia kembali dengan membawa satu bungkus Roti dan 2 teh kemasan ukuran gelas.


"Sayang makan rotinya ya terus ini minum tehnya manatau lapernya sedikit berkurang. Maafin Mas ya yank cuma bisa belikan sayang Roti sama minuman ini.


Seketika Mas Rudi mengekuarkan dompetnya.


"Sisa uang Mas Tinggal 90.000 sayang udah ga ada lagi,

__ADS_1


Dia memberikan lembaran uang 20.000 dan 10.000 jdi 30.000 Uang 30.000 itu Mas Rudi lipat-lipat kemudian di berikan kepadaku.


"Sayang jangan lihat nominalnya ya tapi lihat dari keikhlasanya ini uang sisa Mas berjuang kemarin di Aceh. Ini buat sayang disekolah jajan ya manatau sayang mau beli makanan apa jadi gausah minta ke Ibu lagi buat dua hari.


Saat itu aku benar-benar menolak karena aku berfikir bagaimana Mas Rudi dijalan nanati dengan uang yang pas pasan bagaimana jika dia laper di jalan nanti.


" Nana gak mau Mas, Nanti Mas gimna dijalan mau makan apaa."


Mas Rudi pun menjabarkan uang sisa yang dia pegang.


"Uang Mas kan tadi 90.000 terus buat sayang 30.000 masih sisa 60.000 nanti kita naik angkot pulang 6000 terus mas naik Bis untuk kerumah mas 50.000 masih ada sisa 4000 sayang.


mas nanti beli roti aja udah mas ga bakalan turun-turun buat makan lagian Mas capek yank mau tidur aja di bis nanti."


begitulah alasan Mas Rudi dia bener bener kekeh untuk memberi aku uang saku untuk sekolah dan aku harus menghargai itu.


Satu jam lebih kami ngobbrol banyak di taman dan sekarang saatnya kami pulang takut terlalu siang Mas Rudi ketinggalan bis.


Sampai di rumah Mas Rudi pun pamitan ke Ibu bahwa hari ini dia bakal balik ke Kisaran dan mencoba memulai segala sesuatu yang baru disana.


setelah pamit aku pun ijin ke Ibu ingin mengantar Mas Rudi keterminal dan nanti baliknya aku dengan Bang Wardi.


dan ibu mengijinkan.


Sesampainya diterminal perasaan haru mulai menyeruak dihatiku entah kenapa air mata ini gak bisa berhenti mengalir.


"Sayang jangan nangis, Belum apa apa udah basah itu pipinya Mas gak tega liat ayank nangis gini."


Entah kenapa air mataku semakin deras keluar aku liat Mas Riki juga menitikan air mata dan dia buru buru menyekanya.


"sayang udah jangan nangis Mas pulang kan untuk kembali doain Mas sukses ya biar kita bisa jalan jalan ,


terus makan makanan yang enak gak makan Roti lagi."


"Tapi nanti kalau Mas udah jauh Mas lupa sama Nana, Nanti Mas punya pacar lagi disana yang dekat terus Nana ditinggalin."


"Sayang jangan mikir yang aneh aneh ya, Doain Mas sehat, terus sukses supaya bisa jadi kebanggaan buat sayang.


jaga hati jaga mata cuma buat Mas ya sayang belajar yang pinter jangan ngelawan sama Ibu jaga adik adik."


Aku semakin nangis dengar nasehat Mas Rudi, Seakan dia mau pergi jauh.


"Kalau sayang kangen sama Mas kan nanti bisa telfonan setiap malam.


terus kalau masih kangen juga sayang dengerin ya lagu Stinky yang judulnya Mungkinkah.


Mungkinkan kita kan selalu bersama walau terbentang jarak antara kita.


Biarkan ku peluk erat bayangmu dan melepaskan semua kerinduanku.


kau ku sayang selalu ku jaga takan ku lepas selamanya.


Hilangkanlah keraguanmu pada diriku disaat kau jauh dariku.


sepenggal lirik itu mewakili perasaan Mas Rudi.


Tidak lama berselang Bis yang ditunggu akhirnya datang.


dengan berat hati aku melepas Mas Rudi dengan secerca harapan.


aku berharap Mas Rudi akan kembali dan menemuiku lagi.

__ADS_1


Mas Rudi pun pamit, Tiba tiba dia mencium keningku dan berjalan masuk ke Bis.


akupun berdiri melambaikan tangan sampai aku tidak melihat Bis itu lagi dan aku pulang dengan Bang Wardi.


__ADS_2