
Hari pernikahan kami akhirnya tiba, Mulai hari ini dan seterusnya semua orang akan lupa dengan nama masa kecilmu dan memanggil mu dengan sebutan Ibu yang diikuti dengn Namaku, Saat itu pula kamu resmi menjadi Istriku Ny Sofyan Hadi.
Untuk pertama kalinya aku mencium kening wanita yang begitu jutek dan sekarang resmi menjadi Istriku. Aku berjanji akan membahagiakan dia seumur hidupku. Itu janjiku kepadanya.
Suasana pesta semakin ramai banyak kerabat yang berdatangan dan ada beberapa Letingku yang saat itu turut hadir di acara pernikahan kami, Semua berbahagia pada hari itu kecuali Istriku, Kulihat kesedihan yang sangat dalam menyelimuti wajah cantiknya, Aku berjanji akan menggantikan setiap tetes air matanya dengan kebahagiaan.
Pukul 20.00 Waktu semakin larut aku melihat wajah istriku yang sudah lelah dan segera aku mengajak dia masuk kekamar untuk istirahat. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku, Bahagia, takut, dan juga canggung, Apa yang akan aku lakukan padanya setelah sampai dikamar nanti, Apakah aku harus memenuhi kewajiban pertamaku sebagai suami. Tidak!! aku tidak akan memaksa Istriku melakukan hal itu, Bisa Menjadi suaminya saja itu sudah membuat hidupku terasa sempurna, Jadi aku tidak akan menuntut hal itu sampai dia benar-benar siap lahir dan batin.
Istriku meminta ijin untuk berganti pakaian dan ia memintaku membalikan badan, Aku tidak keberatan dengan hal itu. Setelah berganti pakaian aku mendekati mendekatinya, Aku tau dia lelah dan aku ingin memijitnya.
" Bunda lelah ya sayang, Sini Abi pijitin kakinya." Aku coba duduk mendekati Istriku.
"Tidak perlu Bang Nana mau istirahat saja sebelumnya Nana mau minta maaf sama Abang kalau malam ini Nana belum bisa melakukan kewajiban Nana sebagai istri."
"Gak masalah Bunda Abi gak akan maksa sampai Bunda benar-benar siap. Lagian Abi juga ngantuk ayo kita tidur. Satu permintaan Abi belajar ya manggil Abi karna mulai sekarang susah senang akan kita hadapin bersama."
"Nana coba ya, Tapi jangan paksain sampai Nana benar-benar siap."
Aku langsung mencium kening Istriku dan memeluknya untuk pertama kali, Aku tidak perduli dengan masalalu Istriku mau berapa lama ia mencintai mantanya dulu tapi tugasku sekarang membahagiakan Istriku sampai dia benar-benar lupa dengan masalalunya, Semua itu tidak mudah dan aku akan menunggu sampai Istriku benar-benar bisa mencintaiku dan melupakan mantanya.
Ini pagi pertamaku setelah menjadi seorang suami, Aku bangun dan solat berjamaah dengan istriku, Setelah solat dia langsung kedapur membuatkanku sarapan. Aku kagum dengan Istriku dia tetap melayaniku dengan iklas walau kutau hatinya sedikitpun belum mencintaiku tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Setelah sarapan paman menelepon dan menyuruhku bersiap karena hari ini kami akan jalan-jalan satu keluarga kedaerah wisata yang ada di Kota medan. 4 mobil yang akan pergi ke tempat wisata itu dan aku meminjam mobil sepupuku untuk kami pakai berdua hanya dengan Istriku. Aku ingin menikmati moment berdua sebelum kami balik ke Pekanbaru.
3 jam perjalanan menuju ketempat pemandian air panas kami hanya diam tanpa ada satu katapun dan aku mencoba membuat suasana menjadi hangat dengan membuka percakapan.
"Bunda kenapa diem aja ngobrol donk temenin suaminya, Tanyakan apa yang perlu bunda tanyakan tentang Abi. Perlahan kugenggam tangan Istriku, Begitu hangat dan lembut telapak tanganya dan desiran-desiran hangat juga mengalir didadaku. Aku benar-benar mulai mencintai Istriku. Sesekali kulirik Istriku dia sama sekali tidak menunjukan expresi bahagia tapi aku tetap menggenggam tanganya.
Sampai di lokasi wisata kulihat terlalu banyak yang mandi di air panas itu sampai penuh, Aku mengajak Istriku turun untuk sekedar menikmati hangatnya air kolam tapi lagi-lagi dia menolakku dan memilih duduk dipinggiran kolam.
Kulihat Istriku melamun dengan pandangan kosong ke arah kolam yang saat itu terlihat Ibu mertuaku sedang mebasahi kakinya di dalam kolam air hangat itu. Apa yang ada dipikiran Istriku saat itu, Aku melihat kesedihan yang sangat mendalam dari matanya, Apakah dia tidak bahagia dan menyesali pernikahan kami. Apapun yang ada dipikiranya saat ini semoga segera berlalu dan dia bisa membuka sedikit ruang hatinya untukku.
Hampir seminggu sudah kami berada di Medan hari ini saatnya aku istri dan orangtuaku balik ke Pekanbaru. Aku akan memulai satu kehidupan baru dengan Istriku membuka lembaran baru dan menutup rapat masalalunya, Aku tau hal itu berat tapi aku yakin perlahan Istriku pasti bisa melupakan mantannya.
Ibu mertua hanya mengantarkan kami sampai dibandara saja, tangisnya pecah pada saat pamit dengan Ibunya, Dia terus memeluk erat Ibunya.
Setelah berpamitan pesawat kamipun lepas landas meninggalkan kota Medan.
__ADS_1
3 hari setelah kami sampai di Pekanbaru aku mulai Dinas karena cutiku sudah selesai, Istriku masih belum tinggal diasrama denganku karena dia harus menyelesaikan kuliahnya lagi dan sebelum menikah aku sudah mempersiapkan Rumah buat aku tinggalin bersama Istri dan anak-anakku kelak.
Rumah yang kami tempati jaraknya lumayan jauh dari batalyon sekitar 4 jam dari kota. Sebelum menikah aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk rumah beserta isinya dan kendaraan supaya Istri dan anak-anakku tidak kepanasan nantinya. Setiap hari senin sampai jumat aku Dinas dan sabtu minggu pulang kerumah, Begitu seterusnya sampai Istriku menyelesaikan Kuliahnya nanti.
1 minggu usia pernikahan kami aku belum menyentuhnya sama sekali, Aku akan selalu menunggu sampai Istriku benar-benar siap dan ikhlas melakukan kewajibanya sebagai istri.
Semua keperluan Dinasku sudah dimasukan kedalam mobil oleh Istriku dia benar-benar melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik kecuali satu hal itu. Sudah semua siap aku hanya tinggal berangkat saja, tiba-tiba kudapati suara ponsel istriku berdering di saku celananya, Expresi kepanikan sangat terlihat jelas diwajahnya pada saat aku bertanya pesan dari siapa yang masuk sampai dia berubah expresi seperti itu. Istriku tak lantas manjawab pertanyaanku ini benar-benar membuat aku penasaran, Segera kuambil ponsel yang masih ia pegang dan membaca isi pesan tersebut.
"Assalamualaikum sayang lagi apa Mas rindu."
Begitu isi pesan yang kubaca. Dadaku penuh sesak amarahku memuncak darahku mendidih tak kala membaca pesan laki-laki lain yang tidak lain adalah mantan pacar Istriku. Aku langsung masuk kedalam mobil membawa ponsel itu dan pergi, Tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah konter pulsa untuk mencari kartu perdana yang baru tapi sebelum itu aku menyalin nomor ponsel laki-laki itu dan mencoba meneleponya.
"Hallo Assalamualaikum," Jawab suara dari seberang sana.
"Hei kau pakai Otak untuk berfikir, Prajurit baru beraninya kau main-main dengan Istri senior. Udah siap mati kau, Belum cukup hadiah yang saya beri waktu itu untuk membuat kau jera. Ini peringatan terakhir buat kau ya sampai kau ganggu Istri saya lagi bakal susah nanti Kedinasanmu disana. Paham kau."
"Siap Paham Bang." Cuma 1 kata itu yang dia jawab dan aku segera kembali kerumah untuk memberikan nomor baru keistriku.
"Ganti kartu kamu sekarang juga serahkan nomor lama ke saya."
Dan Istriku langsung mengganti kartu di depanku saat itu juga.
Pernikahan kami memasuki bulan kelima, hari ini bertepatan weekend jadi aku menghabiskan waktu libur dirumah bersama istriku. Kulihat Istriku senyum-senyum sedaritadi. Sifat manjanya yang membuat aku semakin hari semakin menyayanginya.
"Abi sini deh ada yang mau Bunda kasi ke Abi."
"Apa Bunda sayang, Tumben mau ngasih kado ke Abi biasanya ngambek mulu setiap hari, Apa sayangku kadonya."
Dia langsung menyodorkan kotak kecil yang di dalamnya ada hasil tes kehamilan dan aku langsung membuka kotak itu.
"Ini apa bunda Abi gak ngerti beginian." Aku bingung ku bolak-balik hasil tes kehamilan itu.
"Abi ini namanya tespek alat tes kehamilan, Jadi Bunda kan udah telat mens, Bunda sekarang suka lelah kalau di kampus terus sering mual juga , Makanya Bunda tes ini."
"Intinya aja Bunda jangan muter-muter Abi bingung maksudnya gimana?" Aku semakin penasaran dengan ini dan sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Istriku.
"Abi...Bunda hamil kita bakal jadi orangtua sekarang."
__ADS_1
"Ya Allah terimakasih Aku sebentar lagi akan jadi seorang ayah, Terimakasih Bunda telah menjadi Istri yang baik buat Abi, Abi janji gak akan sedikitpun menyia-nyiakan bunda.
Aku memeluk istriku dan air mata bahagia terus turun dari mataku mangetahui aku bakal jadi seorang ayah.
Kehamilan Istriku benar-benar merubahku kini aku menjadi suami yang lebih bertanggung jawab dan segera kabar bahagia ini kami umumkan kepada kekuarga besar terutama kedua orangtua kami.
Betapa bahagianya Ibu mengetahui kalau dia akan mendapatkan cucu dari kami ditambah lagi Nana adalah menentu kesayangan Ibu.
Siang ini kunjungan PANGDAM 1 BB ke batalyon kami, Tiba-tiba pesan dari Istriku mengabarkan kalau Ibu jatuh dari kamar mandi tapi alhamdulilah sudah dibawake RS. Awalnya istriku meminta izin untuk merawat Ibu selama beberapa hari sampai Ibu benar-benar sembuh tapi Allah berkehendak lain, Penyakit Ibu semakin parah dan fungsi tubuh Ibu mulai melemah dan sulit digerakan.
Istriku benar-benar wanita yang kuat dan luarbiasa, Dia mampu menjalankan tugasnya sebagai Istri dan mampu menjadi menantu yang baik dengan merawat Ibu padahal dia sendiri sedang mengandung. Tapi cintanya terhadap Ibu benar-benar membuatku semakin menyayangi Istriku.
Malam ini seperti biasa kalau weekend aku selalu pulang kerumah kecuali kalau piket aku tidak pulang. Pukul 21.00 kulirik Ibu sedang tidur dikamaranya dan Istriku juga sudah pamit tidur karena kutau dia begitu lelah seharian mengurus rumah dan Ibu. Tiba-tiba ponselku berbunyi pesan masuk dari nomor yang tidak kuketahui siapa.
" Malam Fyan ni kak Beti tetangga sebelah boleh tidak kakak minta tolong?"
Segera kubalas pesan dari Kakak sebelah.
"Iya kak mau minta tolong apa?"
"Kucing kakak sicomot masuk sumur daritadi meong-meong terus Bisa gak dek tolongin Kakak tapi kalau bisa tunggu istri kamu tidur dulu takutnya dia salah paham."
Aku berfikir lama sebelum membalas pesan dari Kak Beti.
"Baik Kak nanti kalau Istri sudah tidur saya kesana."
Betapa bodohnya aku tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan permintaan Kak Beti.
Pukul 00.10 kulihat Istriku sudah terlelap tidur, Perlahan aku mengendap-endap keluar melalui pintu garasi mobil dan sengaja membiarkanya sedikit terbuka untuk celah masukku nanti dan dengan pelahan aku melompati tembok pembatas antara Rumah Ibu dengan rumah Kak Beti. Kuketuk pelan pintu Kak Beti dan 5 detik kemudian pintu terbuka. Terdengar jelas suara meong-meong kucing yang sedaritadi sudah masuk kedalam sumur, segera kumasukan ember sedang dan seutas tali panjang supaya kucing itu bisa naik keatas. Dan setelah beberapa kali percobaan akhirnya kucing itu berhasil naik.
Sungguh ini diluar perkiraanku Kak Beti benar-benar menggunakan busana yang sangat mini mengundang nafsu setiap pria yang memandang, Aku tidak tau maksud dia apa berpakaian seperti itu karna niatku benar-benar hanya ingin menolong walaupun waktunya tidak tepat.
"Makasih ya Dek akhirnya sicomot bisa selamat naik keatas. Dia kedinginan butuh kehangatan."
Ucap Kak Beti sambil merebahkan tubuhnya disofa.
"Maaf Kak kalau sudah selesai saya Izin pulang karna kalau dilihat warga yang lain bakal timbul fitnah nantinya karena status Kakak janda dan saya suami orang."
__ADS_1
Aku benar-benar takut khilaf saat itu tidak dipungkiri aku laki-laki normal yang melihat wanita dalam keadaan seperti itu dimalam hari bisa membangunkan birahi, Tapi kembali lagi ke iman aku terbayang wajah Istriku dan aku gak tega kalau sampai mengkhianatinya.
Pukul 01.40 teleponku berdering panggilan dari Istriku, ya Allah tamat sudah riwayatku aku panik bingung apa yang harus aku lakukan bagaimana kalau dia tau dini hari suaminya sedang berada dirumah orang lain yang bersetatus janda. Tapi apapun yang terjadi aku harus pulang dan menjelaskan semua kepada Istriku. Begitu aku akan membuka pintu depan kulihat sosok wanita yang tidak lain adalah Istriku, Dia berdiri didepan Rumah Kak Beti dengan keadaan yang benar-benar menyedihkan, Ya Allah aku ingin memeluknya dan menjelaskan semua yang terjadi tidak seperti yang dia pikirkan, Tapi apapun penjelasanku tidak akan membuatnya percaya karena posisiku memang salah malam-malam berada dirumah seorang janda. Kuurungkan niatku pulang dan menunggu beberapa saat sampai istriku benar-benar pulang.