Aku Kau Dan Kenanganku

Aku Kau Dan Kenanganku
Kedewasaan Mas Rudi


__ADS_3

Keesokan harinya setelah balik kampus dan belanja bahan buat cokelat sampai dirumah aku disambut oleh Bude Erna beliau adalah Kakak kandung Ibu. Sangat jarang Bude datang kesini karena Rumah Bude yang sekarang sangat jauh Di Pekanbaru. Setelah menikah Bude Erna diboyong pindah ke Pekanbaru karena suaminya juga seorang TNI tapi sebentar lagi Pakde sudah Mau MPP (Masa persiapan Pensiun) dan mereka akan balik lagi keMedan.


"Assalamualaikum ehhh ada Bude."


"Walaikumsalam, Apa itu Na keliatanya berat sekali?"


"Ini bude bahan buat cokelat buat tambah-tabah uang jajan." Jawab ku.


"Yasudah Nak buruan ganti baju terus makan Ibu sudah masak."


Aku bingung kenapa Ibu jadi perhatian hari ini, biasanya Ibu sama sekali tidak pernah lagi nyuruku makan semenjak balik dari rumah kakek waktu dulu.


Selesai bersih-bersih dan makan aku langsung nyamperin Bude yang lagi ngobrol sama Ibu di ruang tamu.


"Bude kemari sama siapa?"


"Berdua aja Na sama Pakde kebetulan pakde ada urusan di KODAM 1 BB jadi Bude minta anterin ke sini. Bagaimana kuliahnya lancar kan sudah semester berapa?"

__ADS_1


"Alhamdulilah lancar Bude sekarang sudah semester 4 doain ya bude semoga Na lancar terus kuliahnya."


"Aminnn nanti selesai kuliah langsung nikah ya Na."


Deg jantungku rasanya mau lepas kenapa tiba-tiba Bude bahas pernikahan sementara aku sama sekali gak pernah cerita tentang Mas Rudi, Apa mungkin Ibu yang sudah menceritakanya ke Bude.


"Na kerja dulu Bude sambil Nunggu pacar Na naik pangkat nanti pelan-pelan semua butuh proses."


Seketika wajah Ibu berubah dari yang tadi senyum sekarang jadi diam tanpa expresi. Ada apa sebenarnya kenapa semua jadi palsu. Segeraku tinggalkan Bude dan Ibu biarlah mereka mereka dengan pola pikirnya sendiri intinya aku gak mau menikah dengan orang lain selain Mas Rudi. Aku bakal nunggu sampai Mas Rudi benar-benar siap.


Aku meraih ponsel samsung J1 ku pemberian dari Mas Rudi. Aku membuka Whatshapp berniat Vidio call dengan Mas Rudi kali aja sedang tidak sibuk.


"Assalamualaikum sayang".


Kali ini bukan hanya suara yang bisa kudengar tapi sosok yang selalu membuatku rindu sekarang benar-benar ada dihadapanku walaupun hanya dilayar ponsel tapi serasa ada di hadapanku.


"Walaikumsalam Mas. "Mas sekarang Nana sudah bisa lihat wajah Mas. Nana makin rindu kapan ya kita ketemu lagi Mas.

__ADS_1


" Alhamdulilah kalau sayang rindu Mas juga lebih rindu, Lagi ngapain sayang kenapa dikamar sore-sore biasanya sayang sibuk didapur bikin pesanan cokelat."


"Mas Nana mau cerita deh, Dirumah kan ada Bude yang dari Pekanbaru datang, Terus tadi Nana di tanya-tanya soal kuliah terus Bude masa bilang tamat Kuliah langsung Nikah. "Nana kan pengen kerja dulu Mas."


"Dengerin aja sayang yah jangan dibantah bilang aja iya nanti kan sayang Nikahnya sama Mas."


Seketika aku senyum-senyum dengerin Mas Rudi bilang begitu.


"Sayang nanti kalau kita udah nikah sayang bebas mau kerja atau tidak Mas gak akan melarang karena Mas tau perjuangan sayang gimana." Itu ngapain sayang Senyum-senyum begitu apa memang kebiasaannya begitu kalau lagi telfon dngan Mas."


"Nana malu Mas jangan digodain terus."


"Kalau bukan Mas yang goda trus siapa lagi sayang. Mas terlalu takut kehilangan sayang Mas selalu mikir gimana kalau senandainya ada laki-laki yang tiba-tiba datang terus ngerebut sayang dari Mas. Mungkin kaki Mas gak akan kuat lagi buat berpijak."


"Udah ih Mas jangan drama itu gak bakalan terjadi dan kalaupun itu terjadi Nana mau lari aja sama Mas."


"Sussttt makin ngawur sayang Mas ni. Intinya kita harus selalu berserah diri kepada Allah, Jangan pernah tinggalkan solat dan selalu berusaha yang terbaik untuk hubungan kita. Kalau jodoh pasti gak akan lari kemana. Sayang udahan ya teleponya Mas mau mandi persiapan ke masjid. Nanti malam Mas gak telfon ya sayang karena Mas Mau jaga jam 11 jadi selesai isya Mas istirahat tidur sebentar, Sayang gak marah kan?"

__ADS_1


"Enggak Mas!"


Kami menyudahi vidio call sore itu.


__ADS_2