
Kamis 9 Februari adalah hari yang paling kuingat dalam sejarah hidupku dimana pada hari ini untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan Fyan.
Sofyan Hadi laki-laki asing yang belum pernah kukenal sebelumnya, Laki-laki yang telah mengusik hubunganku dengan Mas Rudi. Siapakah dia kenapa dia hadir di antara kami apakah sebelumnya dia tidak punya pacar sama sekali jika ingin bermain-main carilah wanita lain jangan aku.
Sampai di kampus pukul 08.00 aku langsung masuk kelas dan seperti biasa Herza selalu menanyakan apakah tidurku nyenyak tadi malam, Aku heran kenapa ada laki-laki konyol seperti Herza yang selalu buat aku ketawa setiap hari.
"Na coklat pesananku sudah kamu bikin belum, Jangan pacaran mulu inget jualan Na." Ledek Herza.
"Za kamu kan pesen cokelat buat minggu depan ini kan masih hari kamis. Please Za diriku jangan di uber-uber nanti juga bakal aku buatin."
"Yo kan aku cuma ngingetin aja manatau kamu lupa Na."
"Ga akan aku lupa Herza pesenan 200 coklat yang minta diskon itu kan."
Seketika punggungku di pukul buku sama Herza.
"Ihh sakit Za. Kamu ni bener-bener deh."
Herza kembali ketempat duduknya dengan tertawa terbahak.
__ADS_1
Aku semakin takut melewati hari, Aku takut bagaimana nanti ketemu dengan Fyan apa yang harus ku lakukan. Semakin siang jantungku semakin berdebar tapi ini bukan debaran cinta tapi debaran amarah yang akan segera aku luapkan ke Fyan.
Aku bingung apa yang bakal aku katakan dengan Mas Rudi nanti, Bagaimana kalau disaat bersama dengan Fyan Mas Rudi tiba-tiba Vidio call pasti Mas Rudi bakal salah paham. Saat itu aku berniat matikan ponsel agar saat bertemu Fyan nanti Mas Rudi tidak nelfon. Mas maafin Nana ini hanya sementara sampai Fyan benar-benar menjauh.
Sebelum menonaktifkan ponselku aku sengaja kirim pesan Whatshapp ke Mas Rudi.
"Assalamualaikum Mas, Mas Nana mau ngabarin kalau hari ini Nana ada tugas tambahan jadi Nana baliknya mungkin malam. Sayang jangan nungguin Nana ya karena handphone Nana sudah mau lowbet nanti kalau udah dirumah Nana kabarin Mas ya."
Begitu pesan yang kukirim ke Mas Rudi. Dan tidak berapa lama Mas Rudi membalas pesan ku.
"Walaikumsalam sayang, Iya gak masalah kalau sayang mau ngerjain tugas. Yang penting sayang makan dulu terus jangan lupa solat ya hati-hati sayang jangan nakal jaga mata hati hanya buat Mas."
Tidak lama berselang ponselku berdering, Untung aku belum mematikan ponsel ternyata telepon dari Fyan.
"Dek sudah keluar belum ini saya ada didepan kampus Naik motor Vario kaos biru dan jeans warna senada. Adek pakai baju apa?"
Tanpa menjawab aku langsung matikan telepon dari Fyan.
Siapa sih dia udah kaya orang penting saja dengan perasaan kesal aku keluar kampus.
__ADS_1
Harusnya tadi aku ajak Herza buat nemuin Fyan tapi si Herza tengil itu malah lebih milih jemput pacarnya. Semakin dekat jarak ku dari gerbang kampus aku melihat sosok laki-laki bertubuh tegap kulitnya sedikit lebih terang daripada Mas Rudi dan tingginya tidak jauh beda hanya saja Fyan lebih rendah 2 atau 3 cm. Dia duduk atas motor Vario segera ku dekatin dia.
"Sofyan Hadi." Sapaku dari belakang langsung dia berbalik kearah ku.
" Dek Nana ya." Sapa dia sambil mengulurkan tangan.
"Iya. Jadi sekarang udah tau kan wajah Nana seperti oranganya bagaimana, Sekarang tepatin janjinya ya bang setelah ini jangan gangguin atau nelfon Nana lagi."
Seakan mengabaikan kata-kataku Fyan langsung menanyakan hal lain.
"Dek Nana sudah makan belum? Ayo kita cari makan dulu Abang laper Dek belum makan daritadi."
"Maaf bang Nana sudah makan tadi sekarang Nana mau balik karna urusan kita sudah selesai."
"Yasudah biar Abang anter Nana balik ya."
Aku menolaknya tapi Fyan tetap memaksa dan akhirnya aku Nurut.
Di tengah perjalanan Fyan terus bertanya hal-hal tidak penting. Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah warung Seafood dan menanyakan apakah Ibu menyukai kepiting. 4 porsi dia pesan kepiting saus Padang untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk Ibu.
__ADS_1