Aku Kau Dan Kenanganku

Aku Kau Dan Kenanganku
pernikahan


__ADS_3

Setelah pertemuanku dengan Mas Rudi kami berdua tetap menjalani komunikasi seperti biasa tanpa perubahan sama sekali aku yang selalu menunggu kabar darinya dan dia yang selalu memberiku perhatian. Sampai tibalah waktu yang sangat aku takutkan yaitu hari pernikahanku dengan Fyan, Pagi hari sebelum ijab Qabul pernikahan aku meminta ijin ke Mas Rudi untuk merelakanku dengan Fyan. Alhamdulilah Mas Rudi bisa menerima dan dia bilang sampai kapanpun sayangnya ke aku tidak akan pernah bisa berubah dan posisiku tidak akan tergantikan oleh wanita manapun. Saat itu aku juga minta Mas Rudi untuk tidak menghubungiku selama 1 bulan kedepan karena aku takut bakal terjadi salah paham nantinya dengan suamiku.


Saya terima nikah dan kawinnya Karina Dwi Putri binti Sadiran dengan Mas kawin Emas seberat 20 Gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai. Begitu tegas dan lantang Fyan mengucap ijab Qabul didepan penghulu dan para saksi.


Sofyan hadi laki-laki pilihan Ibu yang aku tidak pernah kenal sebelumnya sekarang telah resmi menjadi suamiku, Untuk pertama kalinya dia mencium keningku dan berkata "Abi janji akan membahagiakan bunda selamanya itu janji Abi. Aku terkejut ketika panggilan itu dia buat pas dihari aku sah menjadi istrinya.


Suasana pesta begitu ramai banyak tamu undangan yang datang dan saudara dari pihak Fyan juga datang ke pernikahan kami.


Waktu semakin larut dan aku sudah merasa lelah duduk di pelaminan dari pagi sampai malam, Pukul 20.00 aku meminta ijin ke Ibu Masuk ke kamar karena aku sudah lelah, Ibu yang saat itu sedang sibuk dengan para tamu undangan segera mengiyakan permintaanku. Langsung Fyan menggandeng tanganku menuju ke kamar.


Sampai di kamar keadaan menjadi canggung. Untuk pertama kalinya aku merasa asing dikamarku sendiri. Aku meminta Fyan duduk di sofa kamar dan membalikan badanya karena aku mau melepas gaun pengantin.


Setelah berganti pakaian aku naik ke ranjang pengantinku hanya ingin meluruskan pinggang karna terasa sangat sangat lelah. Perlahan Fyan beranjak mendekatiku, Aku panik apa yang akan di lakukan Fyan kepadaku.


" Bunda lelah ya, Sini Abi pijitin punggungnya."


Fyan semakin mendekatiku seketika aku panik dan langsung duduk.


"Tidak perlu bang Nana mau istirahat saja sebelumnya Nana mau minta maaf sama abang kalau malam ini Nana belum bisa melakukan kewajiban Nana sebagai istri."


"Gak masalah bunda Abi gak akan maksa sampai Bunda benar-benar siap. Lagian Abi juga ngantuk ayo kita tidur. Satu permintaan Abi belajar ya manggil Abi karna mulai sekarang susah senang apapun akan kita hadapin bersama."


"Nana coba ya, Tapi jangan paksain sampai Nana benar-benar siap."


Saat itu Fyan mencium kening ku dan memelukku. Saat ini fikiranku sama sekali tidak berada di sini, Tubuhku memang di sini tapi hatiku masih tetap memikirkan Mas Rudi. Aku gak tau bagaimana aku akan menjalani Rumahtangga seperti ini kalau hatiku sama sekali tidak mencintai suamiku. Sungguh besar dosaku karna masih memikirkan laki-laki lain sementara suamiku ada di samping.

__ADS_1


Ini pagi pertamaku setelah menjadi seorang Istri, Tidak banyak yang berubah untuk saat sekarang karna aku masih berada di Rumah Ibu. Yang membedakan hanya pada saat bangun aku melihat laki-laki asing tidur di sebelahku. Biasa aku tidur dengan berbagai gaya tapi tadi malam aku tidur dengan posisi miring dan sampai pagi gaya tidurku sama sekali tidak berubah dengan posisi guling di tengah menjadi pembatas antara kami.


Aku bergas bangun mandi dan solat setelah itu menyiapkan sarapan untuk suamiku.


Suasana di rumah masih ramai karna beberapa saudaraku masih tidur di rumah.


Sedang membuat sarapan tiba-tiba sepupuku Cici nyamperin di dapur.


"Ehhh pengantin baru pagi-pagi udh bangun hayoo habis ngapain?" Ledek Cici saat itu.


"Apaan sih sebelum nikah juga aku bangun jam segini."


"Tapi kok rambutnya gak basah Na. Tadi malam gak ngapa-ngapain gitu."


"Ihh pertanyaan kamu ini aneh-aneh aja Ci pakai nanyain rambut yang gak basah lagi. Kepo."


Hari ini pamannya Abi mengajak kami Liburan ke salah satu tempat wisata yang cukup teekenal di kotaku. Hemm aku harus membiasakan mamanggilnya dengan panggilan Itu.


Seluruh keluarga ikut pada saat itu ada Empat mobil yang berangkat. Tiga mobil di isi keluarga Fyan dan keluargaku dan 1 mobil lagi cuma ada aku dan Fyan pada saat itu, Entah apa alasan dia kenapa mau hanya berdua denganku.


Tiga jam perjalanan menuju tempat pemandian air panas itu dan aku hanya berdua di mobil dengan suamiku.


"Bunda kenapa diem aja ngobrol donk temenin suaminya, Tanyakan apa yang perlu bunda tanyakan tentang Abi."


Aku gak tau apakah begini sifat suamiku yang sebenarnya, Dia begitu lembut dan sangat-sangat perhatian padaku. Dia terus menggenggam tanganku tapi hatiku tetap tidak bisa dibohongi. Aku merindukan Mas Rudi.

__ADS_1


Sampai di lokasi wisata kulihat terlalu banyak yang mandi di air panas itu sampai penuh, Aku menolak ajakan suamiku mandi dan memilih duduk di tepian kolam.


Aku melihat kebahagian yang terpancar jelas di wajah Ibu, Tawa lepas yang sudah lama aku rindukan, Tapi hari ini Ibu sangat bahagia, Aku ikhlas bu menjalani takdir yang sudah Allah gariskan melalui campur tangan Ibu. Aku sayang ibu.


5 Hari berlalu hari ini aku akan meninggalkan kota Medan dan segera menetap di Pekanbaru mengikuti dimana suamiku Dinas. Ibu mengantarku sampai di bandara, tangisku pecah pada saat Ibu memelukku dan meminta maaf atas semua yang sudah terjadi.


"Nana terimakasih karna sudah menjadi kebanggaan Ibu, Maafkan semua kesalahan Ibu selama ini. Ibu sudah terlalu keras ke Nana tapi ini semua demi kebaikan kamu Nak."


"Jangan pernah meminta maaf kepada anak Bu karna orangtua tidak pernah salah, Nana udah ikhlas Bu karena tidak ada orangtua yang mau membuat anaknya susah, Nana sayang sama Ibu. "


"Jadilah istri yang baik Nak, Istri yang selalu takut murkanya Allah sehingga tidak melakukan hal-hal yang merugikan rumahtangga kalian. Begitulah nasehat-nasehat ibu sebelum kami berangkat.


3 hari setelah kami sampai di Pekanbaru suamiku mulai Dinas setelah cutinya selesai, Rumah yang kami tempati jaraknya lumayan jauh dari batalyon sekitar 4 jam dari kota. Sebelum menikah denganku Abi sudah mempunyai Rumah di kota dan sebelumnya rumah ini di biarkan kosong karna Abi lebih memilih tinggal bersama Ibu, Setelah melakukan perundingan kami sepakat LDR. Setiap hari senin sampai jumat Abi Dinas dan sabtu minggu Abi akan pulang kerumah, Begitu seterusnya. kenapa kami harus LDR kenapa aku tidak memilih ikut tinggal di asrama bersama dengan Abi? Itu semua karna aku harus melanjutkan kembali kuliahku di sini, begitu janji Abi sebelum menikah aku diijinkan melanjutkan kuliah ku di sini.


Pagi ini menjadi pagi yang paling sibuk karna aku harus masak dan menyiapkan bekal makanan buat Abi disana selama 5 hari kedepan. Setelah semua selesai Abi mencium keningku dan berpesan jaga diri baik-baik ya bunda selama Abi tinggal jangan lupa kunci pagar jangan pernah di buka ya bunda, Abi takut bunda kenapa napa nanti.


Satu minggu lebih usia pernikahan kami aku dan suamiku sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri. Abi pernah bilang dia akan menunggu ku sampai aku benar-benar siap menjalankan kewajibanku sebagai istri.


Setalah semua dibawa ke dalam mobil aku bergegas membuka pagar untuk Abi, Tiba-Tiba ponselku berdering pesan whatshapp dari Mas Rudi. Aku panik kenapa Mas Rudi mengingkari janjinya padahal aku bilang selama 1 bulan jangam pernah hubungin aku dulu.


" Pesan dari siapa Bunda?" Tanya Abi saat itu.


Aku bingung harus menjawab apa, Wajahku tiba-tiba memerah dan Abi langsung melihat ponselku dan membaca pesan itu.


"Assalamualaikum sayang lagi apa Mas rindu."

__ADS_1


Begitulah pesan yang di baca oleh Abi dengan suara keras. Wajahnya memerah seketika.


__ADS_2