
Mungkin seperti inilah perasaan orang yang sedang kalut, Putus asa dan tidak tau apa yang akan dilakukan, Tapi seperti apapun keadaanku saat ini aku tidak akan berfikir mau bunuh diri seperti yang di lakukan orang-orang yang sedang putus asa. Kulihat jam didinding kamarku sudah pukul 02.00 aku berfikir saat ini apa yang akan kulakukan selanjutnya, Aku benar-benar menolak perjodohan ini.
Ku buka pintu kamarku dan melangkah kearah dapur melihat keadaan sekitar tak lupa kubuka pintu kamar Ibu perlahan dan melihat Ibu lagi tertidur dengan nyanyak. Aku berjalan perlahan menuju kekamar dan saat itulah pikiran nekatku muncul. Kumasukan beberapa lembar baju kedalam ransel loreng milik mas Rudi yang sengaja ia tinggalkan saat itu. Lumayan besar untuk membawa baju-baju dan keperluanku yang lain, Setelah merasa cukup semua baju dan keperluan yang lain kumasukan dalam ransel dan segera aku keluar kamar, Perlahan kulewati ruang TV dengan mengendap-endap menuju dapur. Bagaimana caraku keluar sementara kunci pintu dapur disimpan Ibu dikamar. Saat itu aku tidak hilang akal aku langsung menuju kamar mandi kebetulan ventilasi udara di kamar mandi lumayan lebar dan sepertinya tubuhku cukup masuk di lubang itu. Perlahan-lahan kunaiki sumur yang tepat di bawah Lubang itu, Kulemparkan ransel terlebih dahulu lalu pelan-pelan aku juga lompat turun dari lubang ventilasi itu.
Aku segera berlari menjauh dari rumah karena aku tau Ibu sering bangun tengah malam untuk minum atau sekedar buang air kecil. Keadaan diluar benar-benar sepi dan luarbiasa dingin, Aku berlari menuju jalan Raya takut ada tetangga yang melihatku dan laporan ke Ibu. Pikiranku benar-benar kalut, tidak tau kemana harus pergi apalagi sekarang sudah pukul 02.30 pagi. Setengah jam menunggu Bis yang biasa lewat ke Aceh tapi sampai sekarang belum ada yang lewat satupun dan aku mulai putus asa karena sebentar lagi subuh dan kalau sampai subuh aku belum Juga berangkat ini sudah pasti bakal ketauan Ibu. Kalau sampai ketauan aku kabur dari rumah lagi dan kali ini Fyan juga pasti masih ada di Medan entah apa yang bakal Ibu lakukan kepadaku. Aku berdoa sama Allah semoga ada jalan keluar untuk ku menemui Mas Rudi.
Tinn...Tin...Tin terdengar suara klakson Bis Pelangi yang akan menuju ke arah Aceh segera aku naik Bis itu dengan perasaan campur aduk. Aku sudah tidak memikirkan kuliah lagi tidak memikirkan usaha cokelat lagi saat ini fokus utamaku hanyalah Mas Rudi.
Aku yang notabenya seorang pemabok kalau diperjalanan jauh kali ini bener-bener kutahan. Tapi sekuat apapun aku menahan tetap gak bisa. Segeraku minta tolong ke kondektur Bis meminta kantong pelastik buat muntah. Ya Allah ini benar-benar cobaan terberatku saat ini, Aku sudah tidak memperdulikan bentuk wajahku saat ini. Aku hanya ingin segera sampai agar cepat bertemu dengan Mas Rudi.
Perjalanan masih panjang 12 jam harus ku tempuh untuk bertemu dengan Mas Rudi dan saat ini baru 3 jam perjalanan yang sudahku lalui masih tersisa 9 jam lagi buat sampai ditempat tujuan. Kira kira nanti aku sampai sekitar pukul 14.00 siang.
Sudah hampir 11 jam perjalanan dan selama itu pula aku terus muntah di jalan sampai keadaanku sangat-sangat lemas. Seperti sudah tidak ada tujuan hidup aku nekat berhenti di Terminal Bis padahal jarak dari Terminal dan Batalyon Mas Rudi masih setengah jam lagi.
Aku duduk di bangku tunggu yang ada di Terminal tersebut, Kulihat orang-orang pada melirik sinis ke arah ku, Mungkin karena kondisiku yang berantakan. Tapi aku sudah tidak memperdulikan apapun lagi. Kuambil ponsel disaku celana segera ku aktifkan ponsel tujuanya hanya ingin menghubungi Mas Rudi. Kulihat bertubi tubi pesan dari Mas Rudi dan Fyan. Ada juga pesan dari adikku tapi tidak ada yang kubuka satupun. Segera aku menelepon Mas Rudi karena aku benar-benar merasa sudah tidak kuat lagi.
"Hallo Mas bisa jemput Nana gak sekarang. Nana udah gak kuat Mas."
"Ya Allah alhamdulilah sayang lagi di mana, sayang jawab Mas katakan sekarang sayang di mana tadi pagi Ibu nelepon Mas marah-marah katanya Mas bawa kabur sayang. Sebenarnya apa yang terjadi sayang?"
"Nanti Nana jelaskan semuanya Mas intinya sekarang Nana ada di Terminal Bis dekat Batalyon Mas. Tolong jemput Nana sekarang Mas."
"Sayang tunggu ya disana jangan kemana mana."
Segera Mas Rudi menutup telfonya. 30 menit kemudian muncul lah seseorang berseragam PDL lengkap dialah sosok yang aku sayangi laki-laki yang saat ini sedang aku perjuangkan aku rela ngelakuin apapun asalkan tetap bisa sama-sama dengan Mas Rudi.
Saat itu Mas Rudi langsung memelukku didepan Orang banyak tanpa memperdulikan siapapun. Dia melihat keadaanku yang benar-benar memprihatinkan karena kebanyakan muntah di Bis tadi. Aku belum cerita apapun dengan Mas Rudi tapi Melihat kondisiku saat itu Mas Rudi langsung menangis dan Memelukku erat.
__ADS_1
"Sayang apa yang terjadi kenapa sayang jadi begini." Tanya Mas Rudi dengan berlinangan air mata.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Mas Rudi aku mengusap pipi Mas Rudi. Kuhapus air Matanya yang terus mengalir membasahi pipi Mas Rudi. Kupegang tangan Mas Rudi kemudian kuciumin tanganya, Inilah tangan yang selalu berusaha bekerja keras membahagiakanku. Terus ku ciumi sampai tangan Mas Rudi basah oleh air mataku.
"Nana sayang Mas, Nana ga Mau kehilangan Mas, Bisakah kita terus sama-sama Mas. Ajak Nana pergi jauh Mas kita tinggalkan semua yang menghalangi hubungan kita." Mas Rudi terus memelukku.
"Sayang ada apa sebenanrnya cerita ke Mas. Kenapa keadaan sayang jadi seperti ini?"
Sambil terus memeluk Mas Rudi aku Menceritakan semua secara detail tentan Fyan dan asal usul Fyan sampai dia bisa dapat nomorku dan Melamarku secara tiba-tiba.
Saat itu tubuh Mas Rudi bergetar wajahnya tertunduk dan kulihat butiran-butiran air mata semakin deras keluar dari Matanya. Dua kali aku melihat Mas Rudi nangis seperti ini yang pertama pada saat dia gagal Tes pertama masuk TNI dan yang kedua saat ini. Mas Rudi benar-benar terpukul setelah mendengar penjelasanku dia langsung memeluk erat diriku.
"Sayang kenapa semua bisa seperti ini, Kenapa takdir begitu tega sama Mas, kenapa Mas harus dipertemukan dengan sayang kalau pada akhirnya kita gak bisa sama-sama. Sayang tau betapa besar cinta sayang Mas ke Nana Mas rela ngelakuin apapun demi Nana tapi tidak dengan membawa kabur karena itu satu kejahatan. Mas gak tau apa yang buat Ibu meragukan Mas mungkin karena Mas berasal dari keluarga yang sederhana makanya Ibu gak suka sama Mas." Mas Rudi terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Sayang ingat gak waktu itu sayang bilang apa sama Mas, saat itu sayang bilang kalau jodoh bisa kita yang tentuin sendiri dan sayang mau jodohnya Mas aja. Allah marah sayang karena kita melebihi batas sebagai Manusia, Jodoh maut semua ada ditangan Allah. Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita berdua dan setelah ini lepas tanggung jawab Mas buat nyayangin Nana lagi. Tarimakasih buat Empat setangah tahun kebersamaannya terimakasih sudah buat Mas jadi laki-laki yang sabar dan bertanggung jawab."
"Mas Nana gak mau nikah sama dia, Ayo ajak Nana pergi dari sini kita lari."
"Sayang kalau itu permintaannya Mas berat ngelakuinya sayang, yang pertama Mas pasti bakal bermasalah dengan kedinasan Mas dan sangsi pemecatan sudah pasti yang kedua setelah kita lari dan Mas sudah tidak lagi jadi anggota TNI terus sayang mau makan apa nanti yang ada sayang bakalan menderita hidup dengan Mas lalu bagaimana dengan hutang Bapak."
"Cuma ada satu cara Mas supaya pernikahan Nana gagal. Mas datang kerumah bawa orangtua Mas lamar Nana saat itu juga karena Ibu hanya butuh kepastian Mas.
" Belum bisa sayang Hutang bapak di BANK masih banyak bagaimana Mas bisa ngelamar sayang."
Aku semakin menangis mendengar penjelasan Mas Rudi karena seakan tidak ada usaha sama sekali yang dia lakukan jadi sia sia aja aku datang kesini.
Tiba-tiba ponsel Mas Rudi berdering dan langsung dia mengangkat telepon tersebut. Tidak banyak yang dia jawab saat itu selain kata "siap Bang Siap salah bang."
__ADS_1
"Siapa Mas yang nelepon?" Tanyaku penasaran.
"Senior Mas ,sepertinya dia sudah Menghubungi Letingnya yang ada di sini dan akan segera memproses Mas."
"Mas mau diapain sama letingnya Fyan kenapa ada manusia sejahat itu ya Allah."
"Sayang ayo makan Mas gak tega liat sayang begini Mas belikan sayang makanan yang banyak ya biar sayang selalu ingat Mas gak akan biarin sayang kelaperan. Mungkin ini saat terakhir kita sama-sama, Mas mau lihat sayang makan yang banyak didepan Mas."
Aku udah pasrah dengan takdir karena sepertinya Mas Rudi juga sudah tidak bisa memperjuangkan cinta kami.
Kuturuti kemauan Mas Rudi mungkin ini untuk yang terakhir kalinya kami jalan ber dua. Sedikitpun dia tidak melepaskan gandengan tanganya dan selama aku makan dia selalu menyuapin aku.
Pukul 20.00 malam aku di antar Mas Rudi keterminal Bis, Aku dipulangkan kembali keMedan dengan perasaan yang hancur dan nyawa yang sudah tidak Lagi utuh dalam jiwaku.
"Sayang Maafin Mas ya karena gagal memperjuangkan cinta kita. Terimakasih sudah menjadi wanita yang paling sepesial buat Mas. Jadilah wanita yang kuat seperti batu karang walaupun sering terkena air tapi dia selalu cantik dan semakin kuat di dasar laut. Semua kenangan kita gak bakal Mas lupain."
"Setelah ini apa yang bakal Mas lakuin apakah mas mau cari pengganti Nana?"
"Bagaimana Mas bisa mencari hati yang lain sementara hati Mas saat ini sudah hancur bahkan tidak ada lagi tempat yang tersisa buat hati yang baru."
Mas Rudi memelukku erat. Ya Allah begitu berat cobaan mu .
"Sayang jaga diri disana jaga kesehatan karena Mas udah tidak ada disamping sayang lagi. Kali ini biarlah Mas yang menjaga hati mas untuk Nana. Biasa diakhir telepon kita Mas selalu bilang jaga mata jaga hati hanya buat Mas. Kali ini hati Mas sudah hancur biarlah hati sayang yang selalu Mas jaga."
Diantarkan aku naik kedalam Bis sampai benar-benar duduk. Kali ini Mas Rudi menyuru duduk di dekat supir supaya aku tidak muntah lagi.
Kali ini bukan Mas Rudi yang berada di Bis tapi aku. Ku lihat dia menyeka air matanya sambil melambaikan tangan kearah Bis yang semakin lama semakin menjauh pergi meninggalkan Terminal.
__ADS_1