
Pukul 17.30 aku dan Fyan sampai dirumah, Sesampainya dirumah kulihat Ibu sudah sampai terlebih dahulu, Segera aku berpamitan dengan Fyan tapi Ibu sudah terlanjur melihat keberadaannya.
"Temenya disuru masuk Na." Sambut Ibu dari dalam.
"Iya bu. Segera aku mempersilahkan Fyan masuk dan kulihat wajah Ibu sangat-sangat beda ketika menyambut Mas Rudi saat itu.
"Bu Nana ijin bersih-bersih dulu ya." Kutinggalkan Fyan ngobrol dengan Ibu keliatanya mereka begitu akrab padahal baru satu kali bertemu.
Sampai dikamar langsung kuhidupkan ponsel yang sedaritadi aku matikan. Tak ada pesan masuk sama sekali dari Mas Rudi karena sebelumnya aku sudah ijin akan pulang malam. Aku bingung setelah ini apa yang akanku lakukan apakah harus keluar lagi nemuin Fyan. Ditengah lamunanku tiba-tiba Juju datang.
"Kak suru Ibu keluar kalau sudah selesai solat, Jangan lama-lama kak nanti Ibu marah lagi sama Kakak."
"Dek Fyan udah pulang belum?" Tanya ku ke Juju.
"Belum kak itu masih ngobrol sama Ibu, Emang dia siapa sih Kak kok tiba-tiba bisa barengan sama Kakak. Hayo Kakak selingkuh ya, kasian Mas Rudi Kak jauh di sana sementara Kakak disini jalan sama Laki-laki lain."
Bahkan adikku sendiri mengerti kalau yang kulakukan ini salah dengan mengajak Fyan kerumah. Tapi ini semua demi hubunganku dengan Mas Rudi tapi sepertinya aku terjebak dengan ulahku sendiri.
Saat itu Ibu benar-benar kagum dengan sosok Fyan. Laki-laki yang menurut Ibu sudah mapan dalam hal materi pangkatnya juga jauh di atas Mas Rudi ditambah lagi usianya juga sudah cocok untuk menikah mempunyai latar belakang keluarga baik-baik dan menurut Ibu dialah sosok yang tepat buat calon menantu idamanya. Lalu bagaimana dengan Mas Rudi.
"Iya bu ada apa?"
"Lah kok ada apa sih Na, ini loh nak Fyan dibiarin daritadi ngobrol sama Ibu, Ayo ditemenin ngobrol."
"Nana sibuk Bu tugas kampus Nana juga banyak."
__ADS_1
Mendengar sedikit perdebatanku dengan Ibu tiba-tiba Fyan buka suara.
"Em... Maaf sebelumnya kalau kedatangan saya membuat kegaduhan antara Ibu dan Nana tapi maksud saya baik. Maka dari itu Izinkan saya menyampaikan maksud baik saya. Sebelumnya saya minta maaf beribu maaf terutama pada Nana karena sikap saya yang kurang berkenan tapi percayalah maksud dan tujuan saya baik. Awalnya saya dapat nomor ponsel Nana dari Ibu saya lalu saya bertanya nomor ponsel siapakah ini Bu lalu Ibu saya menjawab kalau ini nomor ponsel ponakan Bude Erna. Bude Erna itu tetangga kami di asrama dan beliau temen baik Ibu. Sebelumnya saya menolak keinginan Ibu untuk menghubungi Nana karena sebelumnya Ibu menjelaskan kalau Nana sudah punya pacar saya takut dituduh merebut pacar orang tapi saat itu Ibu memohon dan meyakinkan saya bahwa tidak ada yang namanya merebut sebelum janur kuning melengkung. Tidak ada kata mundur sebelum mencoba. Akhirnya saya coba untuk menghubungi Nana pada malam hari dan ternyata respon Nana ketus. Sejak saat itu saya merasa harus mencoba terus sampai cuti tahunan saya tiba dan saya nekat untuk berangkat ke sini untuk bertemu dengan Ibu dan Nana. Malam ini saya Sofyan hadi meminta ijin kepada Ibu untuk melamar Nana sebagai Calon Istri saya."
Seketika dadaku seperti disambar petir, Dunia seakan runtuh dan kakiku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menompang tubuh.
"Saya terima lamaran Nak Fyan."
Ya Allah air mataku tidak bisa dibendung lagi ketika mendengar jawaban ibu. Aku yang sedaritadi diam kini ku keluarkan semua yang ku pendam.
" Ibu apa yang saat ini Ibu pikirkan, Nana masih kuliah Bu perjalanan Nana juga masih panjang lagian Nana sudah punya pacar kenapa Ibu tega sama Nana apa salah Nana bu. Dari awal Nana kuliah Ibu juga merasa keberatan buat biayain tapi siapa Bu yang akhirnya bantu bayar Kulian Nana, Semua biaya dari Mas Rudi. Tolonglah Bu buat kali ini dengerin kemauan Nana. Gak banyak yang Nana minta sama Ibu kali ini aja biarlah Nana menentukan masa depan Nana sendiri."
Setelah mengeluarkan semua uneg-uneg kukira Ibu bakal berubah pikiran.
"Tapi kan Mas Rudi sedang berusaha Bu disana bukannya dia gak nabung buat nikah kami tapi untuk saat ini masih banyak biaya yang harus Mas Rudi kumpulkan buat bantu Bapaknya.
"Ibu tidak ingin berdebad lagi intinya Ibu terima Lamaran Nak Fyan dan mulai sekarang kamu harus belajar melupakan Rudi."
"Ibu benar-benar tega sama Nana, Kuliah Nana juga belum selesai Bu gimana mau nikah." Tangisku semakin pecah.
Mungkin Fyan juga bingung melihat kondisiku saat itu dan dia membuka suara lagi.
"Dek Nana jangan khawatir soal Kuliah karena itu bukan Masalah buat saya, Semua biaya saya yang nanggung dan sudah menjadi kewajiban saya nantinya. Setelah menikah Nana tetap lanjut kuliah nanti kita cari kampus Baru di Pekanbaru."
Gak ada yang bisa ku lalukan lagi saat itu selain menangis karena apa yang ku katakan gak akan di dengar oleh Ibu.
__ADS_1
"Bulan depan saya akan balik lagi dengan orangtua saya dan melamar Nana secara resmi Bu. Setelah itu kami akan melakukan proses pengajuan nikah kantor."
Ku tinggalkan Ibu dan Fyan aku tidak perduli apa yang dia pikirkan tentang ku karna hanya Mas Rudi yang ku inginkan saat ini. Kuraih ponsel yang sedaritadi ku tinggal ternyata ada beberapa pesan dari Mas Rudi dan panggilan tak terjawab.
Segera kutelepon balik Mas Rudi.
"Assalamualaikum sayang." Sapa Mas Rudi dari seberang sana.
Gak tau apa yang harus kukatakan dengan Mas Rudi tiba-tiba aku langsung nangis sesenggukan aku udah gak kuat nahan ini semua tapi aku belum bisa cerita semua ke Mas Rudi.
"Sayang kenapa nangis? Ya Allah sayang ada apa cerita sama Mas kenapa sayang sampai Nangis begini siapa yang jahatin sayang."
Aku terus manangis saat itu.
"Mas Nana sayang sama Mas Nana gak mau kehilangan Mas."
"Iya sayang Mas tau itu, Mas juga sayang banget, Jangan nangis lagi sayang ada apa cerita sama Mas."
"Mas besok Mas kemana?"
"Besok Mas lari aja sayang ga ada kegiatan. Sayang ada apa cerita aja Mas khawatir."
"Mas Nana mau tidur ya Nana udah gak kuat, Nana lelah Mas.
Aku langsung menonaktifkan ponselku.
__ADS_1