
"Assalamualaikum."
"walaikumsalam." Jawaban salam dari dalam rumah.
"Ehhh kenapa kak rok kakak kok darah semua?"
"Suuuussstttttt udah nanti kakak jelasin itu Mas Rudi dibuatin minum ya dek kakak mau ganti baju bersih-bersih dulu."
"Masuk Mas." Sambut adikku ramah ke Mas Rudi.
"kenalin Mas ini adik Nana no 3 namanya Dinda dia masih kelas 1 SMP."
Seketika Juju pun keluar dari kamar karena kepo ingin melihat siapa yang datang. " Ini Juju Mas adik Nana juga dia kelas 3 SMP. Jangan heran ya Mas kami dirumah prempuan semua gak ada laki-laki Mas disini." Mas Rudi gak menjawab apa-apa kecuali senyum. Ohh senyum Mas Rudi begitu manis. Ya ampun pacarku.
Selesai Bersih\-bersih aku langsung nyamperin Mas Rudi dia duduk diruang tamu sambil minum kopi. Ntah kenapa si Juju buatin kopi siang\-siang bolong gini padahal kan ada Es.
"Mas ayok kita makan." Ajakku karena aku pikir saat itu udah jam 2 siang kasian Mas Rudi pasti belum makan.
"Nanti ya sayang klau boleh Mas mau ijin solat sebentar boleh Mas ijin ke toilet ya mau ambil wudhu."
Masyaallah pacarku udah manis gagah soleh lagi bener-bener calon suami idaman. Apaan sih pikiranku udah mikirin calon suami sekolah aja belum tamat perjalanan masih panjang.
"Iya mas silahkan sebentar Nana siapkan sajadah ya Mas."
Kurang lebih 7 menit akhirnya Mas Rudi selesai solat dzuhur akupun sudah menyiapkan makan siang buat aku dan Mas dan kami makan bareng untuk pertama kali. Semantara kedua adikku sibuk dengan PR'a dikamar.
Selesai makan Mas Rudi malah ikutan membereskan sisa makanan dan aku di suru duduk dia yang menggantikan pekerjaanku nyuci piring padahal aku sudah maksa dia untuk duduk diam didepan tapi dia malah balik memaksaku untuk diam aja tanpa protes.
Selesai membereskan semua kami duduk santai di teras sambil ngobrol. Aku masih kepikiran soal jawaban Mas Rudi tentang pertanyaanku kemarin yang belum dia jawab.
__ADS_1
"Mas gimna hasil tesnya?"
"Mas lulus ?"
Seketika dia menundukan kepala aku ga tau apa pertanyaanku salah.
"Mas maaf Nana gak ada maksud apa\-apa Mas." Kalau Mas belum siap jawab gak masalah Mas.
Seketika dia mangangkat wajahnya yang sedaritadi tunduk. Aku melihat ada tetesan air mata.
"Ya Allah Mas kenapa nangis?" Na minta maaf klau pertanyaan Nana menyinggung hati Mas, Na gak berniat buat Mas sedih."
Tiba-tiba Mas Rudi memegang tanganku.
"Maafin Mas ya sayang mas dan Wardi gagal. "Mas sudah berusaha sekuat dan semampu Mas tapi di pantuhir Mas kalah.
Mas kalah dari banyak pesaing padahal tinggal selangkah lagi Mas lulus, Mas malu sama sayang Mas malu sama Ibu sayang
Seketika aku juga ikut nangis dan aku gak tau apa yang saat ini Mas Rudi pikirkan sampai dia nangis sesenggukan reflex dia memeluk aku dan aku gak bisa menolak itu karna aku pikir saat ini Mas Rudi benar benar sedang ada di titik terendah hidupnya.
Dalam tangisnya dia selalu bilang. "Maafin Mas ya sayang maafin Mas, Mas udah gagal jadi kebanggaan ayang jadi kebanggaan Ibu kebanggaan orangtua Mas takut nanti sayang bakal ninggalin Mas."
Aku bener- bener tidak tega lihat Mas Rudi menangis seperti itu.
"Mas udah jangan nangis lagi, Mas mikir apa sih sampai begitu nangisnya."
Aku sambil menghapus air mata Mas Rudi yang sedaritadi mengalir terus.
" Apapun yang terjadi sama Mas, Nana tidak akan pergi apalagi sampai ninggalin Mas gak akan pernah, Mau jadi apapun nanti profesi Mas itu bukan masalah buat Nana yang penting Mas selalu ada buat Nana dan kita jalanin ini berdua ya mas semampun sebisa dan sekuat kita."
__ADS_1
"Makasih sayang,
makasih udah mau jadi yang terbaik buat Mas dan untuk saat seperti ini suport orang-orang yang paling mas sayang lah yang Mas butuhin.
" Jadi gimana Mas selanjutnya apa yang bakal Mas lakuin setelah ini."
"Mungkin saat sekarang Mas mau balik kampung aja dulu yank ke Kisaran mana tau ada dapat kerja disana.
" Yaudah apapun keputusan Mas Nana akan dukung yang penting Mas disana sehat-sehat aja.
" Tapi yank kemungkinan kita akan LDR lagi tapi kali ini Mas gak tau kapan lagi kita bisa ketemu tapi Mas janji secepatnya Mas akan kembali buat nemuin sayang ya.
"iya Mas gak masalah yang penting Mas tetep sayang kan sama Nana.
"Pasti sayang."
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.30.
"Sayang Mas pamit ya tidak enak kalau terlalu sore nanti tetangga liat juga gak baik.
"Mas gak nunggu sampai ashar aja."
"Gausah sayang nanti Mas solat Ashar dirumah Wardi aja.
sayang besok kan minggu mungkin Mas berangkat jam 2 siang dari sini kalau bisa besok kita ketemu ya. Jam 10 Mas jemput sayang sekalian Mas mau pamit sama Ibu."
" iya mas."
Dan aku pun mengantar Mas Rudi kedepan rumah.
__ADS_1
Ya Allah kenapa aku bisa sesayang ini sama Mas Rudi.