Aku Kau Dan Kenanganku

Aku Kau Dan Kenanganku
Pov Fyan


__ADS_3

Pertemuan dengan Nana


Satu bulan lebih foto wanita muda itu kuabaikan, Aku tidak mengerti kenapa Ibu sangat semangat menyuruhku berkenalan dengan Wanita itu, Padahal sama sekali aku tidak tertarik dengannya. Aku masih sangat menyayangi Novi meskipun dia sudah mengkhianatiku.


Hari ini jadwal rutin seminggu sekali Piket Mayon, Tadi pagi aku sengaja menyelipkan foto gadis itu kedalam dompet dan entah kenapa siang ini aku kepikiran omongan Ibu yang selalu menyuru nelfon gadis itu. Dan aku nekat menghubungi gadis itu.


"Assalamualaikum, Selamat siang dengan siapa ini?" Suara jutek gadis itu menjawab teleponku dari seberang sana.


"Walaikumsalam saya Fyan nama lengkap saya Sofyan Hadi." Aku coba untuk tetap ramah walaupun rada kesal dengan sikapnya.


"Iya ada apa ya nelfon saya dan keperluanya apa?"


"Ini dengan dek Nana ya?"


 


"Iya saya Nana maaf ada keperluan apa ya kalau tidak ada yang penting silahkan matikan karena saya sibuk."


 


"Tunggu dulu dek emmm ini ada yang mau saya katakan."


"Ya silahkan katakan segera jangan betele-tele saya sedang sibuk!"


Aku kehabisan kata-kata menghadapi sikap gadis itu, Segera aku menyudahi percakapan kami, Dia benar-benar sangat jutek dan kasar tapi itu membuatku semakin tertantang untuk terus mendekatinya, Sampai dimana dia akan bersikap jutek terhadapku.


Kupandangi foto gadis itu ternyata dia memiliki senyum yang manis, Walaupun dia terlihat seperti gadis yang manja tapi aku mulai tertarik padanya dan ambisiku sekarang ingin segera mendapatkanya dengan cara apapun.


Beberapa hari sejak telepon pertama itu aku mencoba menghubungi dia kembali dengan harapan semoga sifatnya lebih baik dari kemarin.


"Hallo ada apa ya kenapa telepon lagi? Tanpa basa-basi dia menjawab teleponku dengan ketus.


"Dek Nana lgi apa? Jangan jutek-jutek dek jadi wanita harus kalem."


"Saya gak perduli intinya saya tidak suka ya di teleponin terus begini. Saya sudah punya pacar jadi jangan ganggu."


"Yang mau ganggu itu siapa Dek saya hanya ingin ngobrol baik-baik. Yang sudah menikah saja bisa cerai apalagi yang masih pacaran,"


" Terus hak anda apa pak? Kalau saya tidak mau kenapa memaksa."


Dia langsung memutus telepon saat itu juga padahal masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, Wanita yang punya kesetiaan luarbiasa sampai-sampai tidak tergoda dengan pria lain, Aku ingin mempunyai calon istri seperti dia. Terdengar egois dan mau menang sendiri tapi untuk masa depan aku tidak akan sembarangan memilih, Sosok seperti Nana lah yang ingin aku jadikan PERSITKU nanti. Juteknya dia membuatku semakin tertantang untuk bisa mendapatkanya walau kutau dia sudah mempunyai pacar tapi aku tidak perduli akan hal itu.


Aku mencaritau semua tentang Nana dari Bude Erna, Dia kuliah dimana nama lengkapnya siapa dan yang paling penting siapa pacar dia sekarang dan ternyata pacarnya junior saya jauh. Sepertinya tidak sulit bagiku bersaing dengan pacaranya Nana karena dari segi pangkatku jauh lebih tinggi daripada pria itu. Dan aku akan mencoba mendekati Ibunya Nana terlebih dahulu.

__ADS_1


Dalam Satu minggu ini aku sudah beberapa kali ngobrol lewat telepon dengan Ibunya Nana dan sepertinya beliau sangat respek denganku, Ini akan lebih mudah untuk mendekati Nana karena sudah ada lampu hijau dari Ibu.


Minggu depan cuti tahunanku keluar aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Nana, Segera ku urus Tiket pesawat untuk terbang ke Medan. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu ke Nana kalau aku akan ke Medan bertemu dengan Nana.


Pukul 22.30 malam kuraih ponselku untuk nelepon Nana.


"Halo siapa ini ada perlu apa malam-malam. Jawab Nana begitu ketus dan sepertinya dia tidak mengetahui siapa yang sedang menelepon.


 


" Dek Nana bangun ini Bang Fyan."


 


Aku mencoba membangunkannya mungkin dia sedang tidur jadi tidak mengetahuin siapa yang nelepon.


"Ya Allah harus berapa kali saya bilang tolong jangan ganggu saya lagi Bang. Saya sudah punya pacar jangan telepon-telepon lagi."


"Maaf Dek Nana bukan maksud saya mau ganggu, Sebenernya saya juga berat kalau harus memaksakan hati seseorang."


"Sudah tau begitu kenapa masih nelponin aja.


" Ini semua demi Orangtua saya Dek. Ibu saya mau kita ketemu, Masalah nanti Nana tolak saya itu urusan belakangan yang penting kita ketemu dulu satu kali aja. Saya janji setelah pertemuan kita nanti Nana mau blokir nomor saya juga gak masalah." Besok cuti tahunan saya keluar Dek jadi rencananya Besok saya mau ke Medan Naik pesawat dan tidur di Rumah Paman saya kebetulan Batalyonnya tidak jauh dari Rumah Nana.


"Oke kita buat kesepakatan, setelah pertemuan kita nanti saya mohon jangan pernah hubungin saya lagi dan bilang ke orangtua kamu kalau kamu tidak menyukaiku."


"Terserah intinya ini bakal jadi pertemuan kita yang pertama dan terakhir.


Setelah bernegosiasi lagi-lagi dia menutup teleponya sepihak, Begitulah dia yang selalu membuat aku penasaran.


Waktu yang kutunggu tiba aku berangkat ke Medan dan segera bertemu dengan Nana. Setelah bertanya dengan paman lokasi kampus Nana Ku pacuh Motor Matik milik paman menelusuri jalan-jalan perkotaan di Medan, Perasaanku tidak karuan rasa debaran yang dulu sering aku rasakan ketika bersama dengan Novi sekarang datang lagi. Bagaimana sosok Nana apakah dia sama persis seperti yang di foto atau sebaliknya, Biarlah aku tidak perduli setidaknya aku sudah bertemu dengan dia.


45 menit kutempuh perjalanan dari Asrama batalyon paman akhirnya aku sampai di depan Universitas Negri yang cukup terkenal di Kota Medan. Ku lihat sekeliling kampus tidak kudapati sosok Nana yang seperti aku lihat di foto.


Kemana Dia apa dia membohongiku. kuraih ponselku untuk memastikan kalau dia tidak membohongiku.


"Dek sudah keluar belum ini saya ada di depan kampus Naik motor Vario kaos biru dan jeans warna senada. Adek pakai baju apa?"


Belum selesai aku bicara dia sudah mematikan teleponku. Apa maksudnya. Dia benar-benar wanita yang misterius dan sulit ditaklukan. Masih terus menunggu tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara wanita dari belakang menyebut namaku.


"Sofyan Hadi." Sapa suara itu dari belakangku dan segera aku melihat kearah belakang, Kulihat seorang wanita dengan tinggi 165 postur tubuh yang tidak begitu langsing dan tidak gendut memakai kaos lengan panjang dan jeans hitam yang sangat cocok dipadu padankan dengan wajahmya yang manis, Dia berdiri tepat dibelakangku, Dialah Nana wanita jutek yang selama ini selalu Ibu sebut terus namanya dan memaksaku untuk mendekatinya.


" Dek Nana ya." Sapa ku sambil mengulurkan tangan mencoba untuk seramah mungkin dan memberikan kesan baik waktu pertama ketemu.

__ADS_1


"Iya. Jadi sekarang udah tau kan wajah Nana seperti oranganya bagaimana, Sekarang tepatin janjinya ya bang setelah ini jangan gangguin atau nelepon Nana lagi." Dia langsung menegaskan kalau ini pertemuan kami yang pertama dan terakhir, Tapi jujur aku tidak rela kalau ini menjadi pertemuan yang terakhir karna aku jatuh cinta denganya pada pandangan pertama. Apapun yang terjadi dia harus menjadi Istriku nanti. Segera kualihkan pembicaraan agar suasana lebih relax lagi.


"Dek Nana sudah makan belum? Ayo kita cari makan dulu Abang laper Dek belum makan daritadi." Cobaku mengalihkan fokus Nana.


"Maaf bang Nana sudah makan tadi sekarang Nana mau balik karna urusan kita sudah selesai."


"Yasudah biar Abang anter Nana balik ya."


Nana menolak ajakanku tapi aku tidak kehabisan akal dan aku terus mencoba sampai dia mau dan ternyata benar akhirnya dia mau mengikuti permintaanku.


Di tengah perjalanan Aku terus bertanya hal-halyang tidak penting agar waktu perjalanan terasa lebih lama . Aku melihat di sebelah kanan jalan ada warung Seafood yang kelihatanya cukup ramai sepertinya itu enak.


4 porsi aku pesan kepiting saus Padang untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk Ibunya Nana.


Pukul 17.30 kami sampai dirumah Nana, Ibu Nana menyambutku dengan hangat dan sangat ramah, Setelah mempersilahkan aku masuk Nana langsung pergi masuk ke kamar meninggalkanku berdua ngobrol dengan Ibu, Tidak jadi masalah buatku karna aku lebih banyak waktu ngobrol dengan Ibu untuk mengenal sifat Nana.


Satu jam lebih Nana berada dikamar dan aku tidak melihat dia kembali keluar menemuiku sampai kudengar perdebatan antara Ibu dengan Nana, Aku merasa canggung saat itu, Tapi aku harus bersikap dewasa dan menengahi perdebatan itu.


"Maaf sebelumnya kalau kedatangan saya membuat kegaduhan antara Ibu dan Nana tapi maksud saya baik. Maka dari itu Izinkan saya menyampaikan maksud baik saya. Sebelumnya saya minta maaf beribu maaf terutama untuk Nana karna sikap saya yang kurang berkenan tapi percayalah maksud dan tujuan saya baik. Awalnya saya dapat nomor ponsel Nana dari Ibu saya lalu saya bertanya nomor ponsel siapakah ini Bu lalu Ibu saya menjawab kalau ini nomor ponsel ponakan Bude Erna. Bude Erna itu tetangga kami di asrama dan beliau temen baik Ibu. Sebelumnya saya menolak keinginan Ibu untuk menghubungi Nana karna sebelumnya Ibu menjelaskan kalau Nana sudah punya pacar dan saya sendiri saat itu sudah mempunyai pacar juga. Tapi nasib saya kurang beruntung karena pacar saya lebih memilih pria lain, Saya sempat ragu untuk menghubungi Nana karena takut di tuduh merebut pacar orang tapi saat itu Ibu memohon dan meyakinkan saya bahwa tidak ada yang namanya merebut sebelum janur kuning melengkung. Tidak ada kata mundur sebelum mencoba. Akhirnya saya coba untuk menghubungi Nana pada malam hari dan ternyata respon Nana ketus. Sejak saat itu saya merasa harus mencoba terus sampai cuti tahunan saya tiba dan saya nekat untuk berangkat kesini bertemu dengan Ibu dan Nana.


"Malam ini saya Sofyan hadi dengan kerendahan hati meminta ijin kepada Ibu untuk melamar Nana sebagai Calon Istri saya." Mulutku bergetar saat mengucapkan kata itu di depan Ibu dan Nana.


"Saya terima lamaran Nak Fyan." Begitu lantang Ibu langsung menerima lamaranku dan kulirik ke arah Nana dia Menangis menyeka Air matanya.


Dan terjadi kembali perdebatan antara Nana dan Ibunya dihadapanku.


" Ibu apa yang saat ini Ibu pikirkan, Nana masih kuliah Bu perjalanan Nana juga masih panjang lagian Nana juga sudah punya pacar kenapa Ibu tega sama Nana apa salah Nana bu. Dari awal Nana kuliah Ibu juga merasa keberatan buat biayain tapi siapa Bu yang akhirnya bantu bayar Kulian Nana, Semua biaya dari Mas Rudi Bu. Tolonglah Bu buat kali ini dengerin kemauan Nana. Gak banyak yang Nana minta sama Ibu kali ini aja biarlah Nana menentukan masa depan Nana sendiri."


Saat itu aku benar-benar bingung dengan sikap Nana terhadapku, Tapi aku tetap berusaha meyakinkan Ibu kalau saya bakalan bertanggung jawab penuh terhadap Nana setelah menikah nanti.


"Apa yang kamu harapkan dari hubungan mu dengan Rudi 4 tahun hubungan yang sia-sia. Dia yang jauh disana belum pasti jelas buktinya sampai sekarang sudah berapa tahun pacaran dia sama sekali tidak menunjukan keseriusan sama sekali, Gak perlu nikah dulu minimal di ikat bukti keseriusanya tapi sampai sekarang kamu hanya di janji-janjikan saja."


"Tapi kan Mas Rudi sedang berusaha Bu disana bukannya dia tidak nabung buat nikah kami tapi untuk saat ini masih banyak biaya yang harus Mas Rudi kumpulkan buat bantu Bapaknya.


"Ibu tidak ingin berdebad lagi intinya Ibu terima Lamaran Nak Fyan dan mulai sekarang kamu harus belajar melupakan Rudi."


"Ibu benar-benar tega sama Nana, Kuliah Nana juga belum selesai Bu gimana mau nikah."


Tangis Nana kulihat semakin pecah dan emosinya meledak-ledak.


Aku tidak mau perbedatan Ibu dan anak ini semakin panjang, Segeraku tengahi perbebatan ini.


"Dek Nana jangan khawatir soal Kuliah karena itu bukan Masalah buat saya, Semua biaya saya yang nanggung dan sudah menjadi kewajiban saya nantinya. Setelah menikah Nana tetap lanjut kuliah nanti kita cari kampus Baru di Pekanbaru."

__ADS_1


"Bulan depan saya akan balik lagi dengan orangtua saya dan melamar Nana secara resmi Bu. Setelah itu kami akan melakukan proses pengajuan nikah kantor."


Tanpa berkata apa-apa Nana pergi meninggalkan kami. Yasudah kubiarkan saja dia menanangkan diri sejenak dan aku pamit pulang.


__ADS_2