
Aku menatapnya. Pria itu, suamiku yang sedang tertidur lelap di sampingku. Melihat wajahnya, aku kembali teringat perlakuan Raffa padaku. Aku hanya bisa tersenyum getir, mendapati nasib yang bahkan tidak pernah kumimpikan.
Aku mencoba berdiri untuk membersihkan diri, namun seluruh badanku terasa sakit. Bahkan aku hampir tidak bisa berjalan, karena rasa sakit di bagian intiku. Setelah selesai, kulihat Raffa sudah tidak ada di dalam kamar.
Sudah cukup lama aku diam di dalam kamar. Namun, tidak ada tanda-tanda Raffa akan ke mari. "Ke mana Raffa?" gumamku dalam hati. Aku mulai menyusuri setiap sudut rumah ini. Namun, tidak ada siapapun di sini, kecuali aku dan para penjaga yang berjaga di luar rumah.
"Raffa, kamu ke mana? Seharusnya kamu ada di rumah hari ini!" gumamku, lagi.
"Apa dia bekerja? Tapi ini kan hari libur! Apa pekerjaannya sebanyak itu?" tanyaku pada diri sendiri.
***
Dua minggu tanpa kabar dari suamiku. Di tempat kerja pun dia tidak ada. Bahkan, semua karyawan di sini juga tidak ada yang tahu ke mana Raffa.
Di sisi lain, Bagas semakin dekat denganku. Namun, itu semua membuatku tidak nyaman. Belum lagi, Eka. Wanita itu sepertinya menyukai Bagas. Dan tidak suka dengan kedekatanku dengannya.
Seperti hari ini, Eka menatap tajam ke arahku. Padahal saat ini aku tidak sedang bersama Bagas. Kalaupun Bagas mendekatiku, aku selalu berusaha menghindar. Semua kulakukan demi Raffa. Aku tidak ingin kembali mengecewakannya dan kembali salah paham padaku. Selain itu, aku merasa tidak nyaman dengan Bagas. Menurutku, dia terlalu sok akrab denganku. Bahkan dia sering memaksaku untuk pulang bersamanya. Ini memang salahku juga, mungkin jika dia tahu aku wanita bersuami, dia akan membuat jarak denganku. Tapi, Raffa tidak ingin status kami terbongkar. Di sini aku menjadi serba salah.
"Shell!" panggilnya.
__ADS_1
"Ayo pulang!" ajaknya.
"Tidak, Bagas!"
"Kenapa kamu selalu menolakku?"
Deg!
"Aku harus menjawab apa?" batinku.
"Aku tidak enak, Bagas. Maaf, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat denganku!" aku mulai berjalan meninggalkan Bagas.
Aku terdiam sejenak, "Bagas! Aku tidak suka candaanmu!"
"Aku tidak bercanda!" Bagas menghampiriku, dan meraih tanganku. Dengan tegas, aku melepaskan tangannya dariku.
"Bagas, aku bukan wanita single. Jadi, tolong jangan berharap lebih padaku."
"Apa? K-kamu bohong! Aku tidak pernah melihatmu dengan pacarmu! Aku bahkan selalu melihatmu sendirian!"
__ADS_1
"Aku tidak berbohong. Aku harap kamu mau mengerti. Dan tolong, jangan terlalu dekat denganku. Karena aku wanita bersuami!"
"Kamu pasti bercanda!" terlihat raut wajahnya tidak percaya.
"Terserah padamu, Bagas. Yang jelas, tolong jaga jarak denganku. Aku juga tidak ingin kamu terkena masalah karena aku," aku meninggalkan Bagas yang diam terpaku. Melihatnya seperti itu, aku menjadi tidak tega. Namun, inilah kenyataannya, dan dia harus belajar menerima kenyataan.
***
Hari-hariku tanpa kehadirannya. Tanpa kabar apapun tentangnya. Aku semakin khawatir, ke mana dia ini? Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia tidak pulang? Padahal sudah hampir satu bulan semenjak kejadian itu. Namun, masih tetap tidak ada kabar apapun darinya.
Keadaan perusahaan juga mulai sedikit kacau tanpa kehadirannya. Para karyawan mulai bermalas-malasan. Kenapa aku bilang seperti ini? Karena setiap hari aku melihat dan bertemu mereka.
"Mas, aku sangat berharap kamu pulang. Aku harap tidak terjadi apa-apa padamu."
***
...Bersambung...
Readers, maaf 2 hari ini gak update. Karena Author sangat sibuk akhir-akhir ini. Terima kasih yang masih setia membaca karya saya yang jauh dari kata sempurna ini :)
__ADS_1
°Happy Reading °