
"Lho, emangnya siang begini udah mau sore, masih ada tukang sayur di sini?" tanyanya lagi, membuatku gemas, ingin segera kabur darinya.
"E-eh... gak ada, ya?" tanyaku balik.
"Ya ampun, Shella, kamu polos dan lucu juga, ya!" ujar Kevin, membuatku mengerutkan dahi.
"Kamu yakin, gak mau ikut masuk?" lanjutnya.
"Umm... nggak! A-aku mau pulang saja!" jawabku.
"Mau pulang apa nyari tukang sayur?" tanyanya dengan nada mengejek, membuatku malu sekaligus kesal.
"Mm... aku---"
"Kevin!" panggil seseorang, membuat kata-kataku terpotong.
"Tante! Kevin kira tante gak ada di rumah! Baru saja mau aku ketuk pintunya! Ngomong-ngomong rumah tante sepi banget deh!" ujar Kevin, pada tantenya.
"Hah... syukurlah, tantenya sudah keluar, dengan begini perhatiannya teralihkan! Aku bisa segera pergi dari sini!" gumamku lega.
"Eh, kamu ini, ya?! Kebiasaan! Kalau datang itu ucap salam, nanya gimana kabar tante, kek!" ujarnya.
"Sebaiknya aku pergi sekarang!" gumamku lagi, mulai melangkahkan kakiku.
"Tunggu!" mendengar kata itu, langkahku terhenti, lalu menoleh ke belakang.
"Kamu wanita yang tinggal di rumah Raffa, ya?"
Deg!
__ADS_1
"D-dia tahu?" batinku.
"A-anu... i-iya..." jawabku sembari menunduk. Jemariku saling bertautan, kondisi ini sepertinya sama dengan adegan film seorang istri yang ketahuan selingkuh dengan pria lain. Sangat membuatku tegang.
"Saya sering melihatmu, apa kamu bekerja di rumahnya?" tanyanya lagi, membuat mataku membulat.
"Bahkan, tetangganya pun tidak tahu status aku dan Raffa..." batinku sedih.
"Tante, sudahlah!" kata Kevin, lalu ia menghampiriku yang tengah terdiam. "Shella!" lanjutnya, memanggilku.
"Kevin? Kamu mengenalnya?" tanya tantenya Kevin.
"Iya, tan. Dia pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaanku," jawabnya, sembari merangkulku. Membuatku merasa tidak nyaman.
"Maaf, Kevin..." ucapku sembari menjauh darinya.
"Tante, permisi saya pulang! Kevin!" kataku agak membungkuk, lalu pergi dengan perasaan tidak enak.
***
"Kenapa tidak mengangkat teleponku?"
"M-mas..." lirihku.
"Sedari tadi aku menelponmu, Shella!" ujar Raffa, lalu dia duduk tepat di sampingku. "Maaf, aku mematikan teleponnya begitu saja, tadi. Aku sedang ada rapat, makanya aku gak bisa bicara lama-lama sama kamu."
"Gak papa, mas," lirihku, tanpa melihat ke arahnya.
"Apa kamu marah? Kamu juga tidak mengangkat telepon dariku. Shella, aku benar-benar minta maaf soal itu!" ujarnya lagi.
__ADS_1
"Maaf, mas. Aku tidak mendengar suara telepon. Aku tidak marah, mas."
"Kamu yakin?" tanyanya meminta kepastian dariku, aku pun mengangguk. "Syukurlah kalau begitu, apa kamu sudah makan?"
Aku menghela nafasku, "Sudah tadi siang, mas..."
"Ayo makan lagi!" ajaknya sembari memegang telapak tanganku. Lalu, kami pun pergi ke ruang makan.
"Shella, aku perhatikan kamu banyak melamun. Apa sedang ada masalah?" pertanyaannya membuat perkelanaan di pikiranku terhenti.
"Aku tidak apa-apa, mas. Makan lagi saja!" ujarku.
"Shella, perhatikan piringku!" pintanya dengan nada sedikit keras, atau mungkin tegas? Entahlah yang jelas, nada itu mirip dengan nada ketika ia marah.
Aku memperhatikan piringnya yang kosong, apa makanannya sudah habis? Cepat sekali dia makan! Bahkan piringku masih terlihat penuh.
"Sekarang lihat ke arah jam!" pintanya lagi, membuatku melirik ke arah jam yang menempel di dinding.
"J-jam 9 malam, mas..." lirihku sembari menunduk.
"Biasanya kita makan jam berapa?"
"Jam 8 malam, mas... tapi---"
"Tapi, sampai jam 9 makananmu belum habis! Shella, jika kamu tidak apa-apa, tidak mungkin kamu banyak melamun seperti tadi! Bahkan, kamu tidak sadar dengan piringku yang sudah kosong, dan kamu tidak sadar dengan waktu yang terus berjalan!" Raffa bangkit dari tempatnya duduk, dan beralih ke samping tempat dudukku. Karena sebelumnya, kami duduk secara berhadap-hadapan.
Raffa mengambil piringku yang masih penuh dengan berbagai lauk dan nasi. "Mas, mau diapain makananku?" aku melihat wajahnya yang tengah menahan amarah.
"Aku akan menyuapimu!"
__ADS_1
***
...Bersambung...