
"Hah... hah... hah..." aku menyentuh dada, lalu memejamkan mataku.
Flashback On
"Kalian semua benar-benar tidak berguna!! Tidak becus! Payah! Argh!!" dia melempar semua lembaran kertas ke arah wajah kami.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya hari ini kalian harus memperbaiki kesalahan kalian! Bila perlu kalian tidak usah pulang sampai besok! Dan saya ingin, besok pagi semuanya harus selesai! Kalau perusahaan ini sampai merugi! Aku tidak akan memperkerjakan kalian lagi!" dia pergi dengan penuh emosi.
Hari pertama bekerja yang sangat menyeramkan. Aku bahkan baru datang, dan ikut kena marah atasanku, yang mereka sebut, pak Kevin.
"Aduh, bagaimana ini? Kenapa bisa banyak sekali kesalahan? Dan ini! Aduh! Pantas saja pak Kevin sangat marah! Ayo semua, kalau kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan, kita harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini!" kata seorang wanita yang lebih tua dariku, dia adalah, bu Kinan.
"Kamu Shella, kan? Sekretaris baru, pak Kevin. Kamu mau kan? Membantu kami?" pinta bu Kinan. Semua orang menatap harap padaku. Bahkan, aku tidak tahu apa masalahnya.
"Boleh saya lihat?" tanyaku, bu Kinan langsung memberikan lembaran-lembaran kertas itu padaku.
"Ini tidak terlalu buruk, aku ada saran!" kataku pada mereka.
Kami bekerja sama, dengan waktu cukup singkat kami telah memperbaiki kesalahan itu. Bu Kinan menatapku dengan mata berkaca-kaca, dia memelukku.
"Terima kasih, Shella! Pak Kevin akan sangat menyukai ini! Aku akan segera memberikannya! Aku yakin dia tidak akan marah lagi!" ucap, Bu Kinan sangat senang.
"Shella, kamu sangat pintar! Idemu sangat brilliance! Kami benar-benar berterima kasih padamu. Kalau tidak, mungkin kami akan sangat kebingungan dan mungkin tidak dapat menyelesaikan semua ini dalam waktu yang cukup singkat!" kata salah satu wanita di sana.
"Benar, terima kasih, Shella!" tambah salah satu pria.
__ADS_1
"Ini semua bukan karenaku. Ini berkat kerja sama kita. Sekarang, kita hanya bisa berharap bahwa pak Kevin tidak marah lagi pada kita semua."
***
"Kalian luar biasa! Berkat kalian semua, perusahaan tidak jadi merugi. Bahkan kita mendapatkan keuntungan yang besar!"
"Sebagai rasa terima kasih, kalian semua akan mendapat bonus!" lanjutnya, membuat wajah mereka ceria. Kebahagiaan, dan senyuman ini membuatku lebih merasa bahagia.
"Ini semua berkat, Shella, pak!" ujar Vivian.
"Shella? Siapa dia?" tanya pak Kevin.
"Dia sekretaris baru, bapak!" jawab, Bu Kinan seraya menepuk bahuku.
"Oh, jadi kamu yang bernama, Shella?" tanyanya padaku.
Setelah hari itu, pak Kevin selalu memujiku. Namun, semakin lama, dia terlalu berlebihan padaku. Dan membuatku merasa tidak nyaman.
"Shella, kamu mau makan siang bersama saya?"
"Hmm, tapi, saya tidak enak, pak!" ucapku menolak ajakannya.
"Kamu sudah berkali-kali lho, saya ajak kamu makan bersama. Tolong kali ini, kamu mau ya?"
"Tapi, saya---"
__ADS_1
"Saya mohon, apa yang kamu takutkan, Shella?" dia memegang tanganku. Membuatku gugup.
Meskipun pak Kevin, baik, tampan, pintar dan kaya. Entah mengapa aku sama sekali tidak tertarik padanya. Apa mungkin, rasa cintaku terhadap Raffa begitu kuat? Sehingga tidak ada siapapun yang bisa menggeser posisinya dalam hatiku.
Kami berdua makan bersama, dengan perasaan terpaksa. Aku tidak ingin mengecewakannya terus. Dia sudah baik padaku, dan aku harus sadar diri akan itu.
"Aku suka kamu, Shella."
"Uhuk!" seketika saja aku tersedak oleh makananku.
"Pelan-pelan, Shella," aku mengambil segelas air yang berada di depanku, dan langsung meneguknya.
"Bapak, bilang apa barusan?" tanyaku, memastikan.
"Aku suka sama kamu. Kamu adalah wanita yang mandiri, pintar dan... cantik." Dia terlihat menghela nafas, "Aku akan sangat beruntung bila kamu menjadi milikku," sambungnya, seraya menatap harap padaku. Namun, aku diam tak bergeming.
"Kamu, tidak mau, ya?" tanyanya dengan nada kecewa.
"M-maaf, pak. Tapi saya rasa bapak bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada saya." Dia mengangguk, seolah mengerti. Namun, beberapa saat kemudian dia pergi.
Sejak hari itu, aku merasa semakin canggung dengannya. Aku tidak ingin memberi harapan. Lagi pula, pak Kevin sangat layak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.
Flashback Off
***
__ADS_1
...Bersambung...