
Hari mulai menjelang sore, saat ini juga aku sudah bersiap untuk pulang. Kulihat mobilnya sudah tidak ada di tempat parkir. Itu artinya aku kembali pulang sendiri. Apa segitu tidak pedulinya kamu terhadapku? Kamu benar-benar tidak ingin hubungan kita diketahui oleh orang lain.
"Shella! Ayo pulang!" panggilan itu membuatku tersadar dari lamunanku.
"Tidak, kamu duluan saja, Bagas!" kataku.
"Aku antar kamu, ya? Please jangan nolak!"
"Maaf, Bagas. Tapi aku sudah memesan ojek online," kataku beralasan, aku takut Raffa tahu dan menuduhku yang tidak-tidak dengan Bagas.
"Hah... sayang sekali! Kalau begitu, aku temani kamu sampai tukang ojek itu datang."
"Apa? Bahkan aku belum memesannya! Bagaimana ini?" dengan tegang aku berpura-pura mengecek handphoneku. Namun, sialnya Bagas melihat itu.
"Kamu belum pesan?"
"A-aku sudah pesan, tapi sepertinya tidak ke klik tadi. Aku akan coba lagi!" jawabku gugup.
"Shella, sebaiknya kamu pulang bersamaku. Lihat! Sepertinya sebentar lagi hujan," benar kata Bagas. Lagi pula, aku sudah tertangkap basah telah berbohong, meski aku tidak tahu Bagas percaya dengan kata-kataku tadi, atau tidak?
Dengan terpaksa, hari ini kembali diantar pulang oleh Bagas. Sepanjang perjalanan, hatiku terus berdoa, agar Raffa tidak tahu hal ini. Sungguh aneh, tidak ada hubungan apapun di antara aku dan Bagas, namun aku berdoa seperti orang yang ketakutan tertangkap sedang berselingkuh.
***
__ADS_1
Aku telah sampai di rumah. Hujan pun mulai turun. Namun, aku tidak melihat keberadaan Raffa. Apa dia belum pulang? Ke mana dia? Saat itu juga, aku mendengar suara mobil. Mungkin itu Raffa. Dengan segera aku membukakan pintu. Kulihat, wajah Raffa memerah. Kenapa lagi dia ini?
"Ikut!" Raffa menarik tanganku dengan kasar, membawaku ke dalam kamar.
"Mas, lepas!" pintaku, sambil meronta-ronta.
Plak!
Jantungku seakan berhenti berdetak. Rasa sakit di pipiku membuat air pipiku mengalir begitu saja. Aku tidak berani melihat ke arahnya.
"Dasar ja**ng! Apa ini wajah aslimu, hah?!"
"Katakan padaku, pria mana saja yang sudah kau kencani?!"
"Jawab aku, Shella!" bentaknya. Aku tidak bergeming. Hatiku semakin teriris ketika mendengar makiannya. Apa aku begitu rendah di matanya?
Plak!
"Kenapa kamu hanya diam?! Apa jangan-jangan benar, kalau kau benar-benar wanita j*l*ng! Dasar s*mp*h!"
"Cukup Raffa! Aku bukan wanita seperti itu!" jawabku dengan nada tinggi.
"Kau! Berani membentakku, hah?!"
__ADS_1
Plak!
"Wanita j*l*ng! Akan kutunjukkan seberapa rendah dirimu!"
"Ahk! Tidak! Lepas Raffa!"
(Yang merasa di bawah umur harap skip bagian ini)
Raffa mendorongku ke atas ranjang. Membuka paksa pakaianku sampai menyisakan kain kecil nan tipis di tubuhku.
"Raffa! Jangan seperti ini! Ahk!" Raffa mulai menyentuhku dengan kasar. Sesekali dia menggigitku dan meninggalkan banyak tanda di tubuhku. Air mataku tidak berhenti mengalir ber-irigan dengan suara hujan.
Raffa mulai bermain di daerah tumpukan kenyal milikku, dia mer*mas dan mengh*s*p p*t**gku dengan rakus. Bibirku mulai mengeluarkan *******, namun entah mengapa aku merasa jijik! Meskipun aku melakukannya dengan suamiku sendiri. Aku berusaha untuk menahan d*sahan laknat yang keluar dari bibirku. Seketika itu pula, Raffa kembali mel*mat, mengecap dan melakukan gigitan kecil di daun bibirku.
"Emhh!!"
Apa ini takdirku? Menyerahkan kehormatanku untuk orang yang bahkan tidak mencintaiku sama sekali. Bahkan Raffa memperlakukanku dengan sangat kasar. Apa aku sangat rendah sehingga diperlakukan seperti wanita m*ra*han?
"Sudah berapa pria yang mencicipi tubuhmu, ha?!" Raffa mulai menc*um bibirku lagi, dan kembali membuatku kesakitan. Bibirku terasa perih dan kaku dibuatnya. Apa seperti ini rasanya berc*nta? Penuh kekasaran dan kesakitan.
"Rasakan ini j*l*ng!"
"Argh!!" rintihku saat merasakan benda asing menghujami milikku. Ternyata sedari tadi Raffa telah melepas satu-satunya kain yang tersisa di tubuhku.
__ADS_1
***
...Bersambung...