Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 11 - Asisten Hasan


__ADS_3

Hari ini, perusahaan kedatangan seorang pria tampan. Mereka memanggilnya sebagai Hasan. Dia begitu disegani, hampir sama dengan suamiku. Meski begitu, harapanku tetap satu. Yaitu melihat Raffa, suamiku. Namun, Raffa tidak kunjung kembali.


"Shella, dipanggil pak Hasan, sana!" Sinti menatapku dengan sinis. Entah apa yang membuatnya begitu tidak menyukaiku.


Aku segera memasuki ruangannya. Tentu saja aku tahu, bahwa Hasan ini adalah asisten pribadi Raffa sebelum aku datang di kehidupannya sekarang.


"Nona Shella, silahkan duduk!" aku menuruti perintahnya.


"Maaf, nona. Apa nona tahu, di mana tuan Raffa?" aku menggelengkan kepala.


"Nona, maaf jika saya lancang menanyakan hal ini. Saya harap nona mau menjawab pertanyaan saya."


"Baik," jawabku sambil mengangguk. Entah apa yang akan ditanyakan olehnya. Namun itu membuat jantungku berdegup kencang.


"Nona, saya adalah sahabat sekaligus asisten pribadi tuan Raffa. Saya sangat mengenal dia dan saya tidak ingin melihatnya tidak bahagia."


"Apa maksudnya? Kenapa dia berkata seperti itu?" batinku.


"Nona, apa tujuan nona menikahi tuan Raffa?"


Deg!


"D-dia tahu pernikahan kami? Apa Raffa memberitahunya?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyaku balik.


"Nona, jawab saja pertanyaan saya!"


"Ini hal pribadi. Saya tidak bisa menjelaskan!" jawabku.


"Apa mungkin benar? Nona menikahi tuan Raffa hanya untuk mengambil hartanya? Karena yang saya tahu, kalian tidak saling mengenal."

__ADS_1


"Itu tidak benar! Kami saling mengenal. Dan aku sangat mencintainya!"


"Nona, anda pintar sekali berbual," Hasan menatapku sinis. Dia benar-benar tidak percaya denganku.


"Nona, tuan Raffa tidak mengenal anda. Dan kalian bertemu saat kalian menikah. Lalu, bagaimana bisa anda menikahi tuan Raffa karena cinta?"


"Tidak! Aku dan Raffa adalah sahabat sejak kecil. Dan aku sangat mencintai Raffa. Tujuanku menikah dengannya murni karena cinta dan karena keinginan mendiang bu Kayla."


"Nona, apa anda menghasut mendiang nyonya Kayla? Maka dari itu, beliau memaksa agar tuan Raffa menikahinya."


"Cukup!" bentakku.


"Sudah cukup! Jika anda tidak tahu apa-apa tentang saya, tolong jangan menuduh saya seperti itu! Saya permisi!" kataku dengan bersungut-sungut, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Aku tidak habis pikir, mengapa Hasan berkata demikian padaku? Seburuk itukah aku di matanya? Dia bahkan tidak jauh beda dengan Raffa. Selalu menuduhku yang bukan-bukan!


"Cewek ganjen! Buatin gue kopi!" aku menoleh, ternyata itu Sinti. Dia selalu seenaknya padaku semenjak Raffa tidak ada di sini.


"Jangan dibawa hati omongan Sinti. Dia emang suka seenaknya dan sok berkuasa di sini," suara tidak asing itu membuatku mengerutkan dahi.


"Eka? Kamu di sini?" tanyaku, heran.


"Emang gak boleh, ya?" tanyanya balik sambil tertawa ringan.


"Ya ... boleh..."


"Shella, aku minta maaf."


"Maaf untuk apa?"


"Maaf karena selama ini aku tidak bersikap baik padamu," tuturnya sambil menunduk.

__ADS_1


"Tidak apa, Eka. Aku mengerti alasanmu melakukan itu," ucapku sambil tersenyum.


"Serius kamu maafin aku? Kamu gak dendam sama aku?" tanyanya meyakinkan.


"Iya, Eka. Aku tahu kamu suka sama Bagas, kan? Kamu bersikap seperti itu karena kamu cemburu melihat kedekatanku dengannya. Benar?" tanyaku agak menggoda, Eka.


"Maaf..." lirihnya.


"Beberapa hari yang lalu aku melihat kalian berdua di tempat parkir. Apa benar yang kamu katakan padanya? Kalau kamu sudah memiliki suami?" tanyanya, membuatku membulatkan mata. Ternyata Eka melihat dan mendengar semuanya.


"Aku memang sudah menikah. Jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku akan merebut Bagas darimu!" jelasku sambil menuangkan air panas.


"Kalau boleh tahu, siapa nama suamimu?"


Deg!


"Aku harus jawab apa?!" batinku.


"D-dia... Raffa," lirihku.


"Raffa?!" katanya dengan nada cukup tinggi, membuatku menelan salivaku.


"Namanya sama dengan pak Raffa, ya? Keren sekali! Sangat kebetulan!" ucapnya santai.


"Hah? Jadi dia mengira seperti itu, ya?" batinku terkejut.


"I-iya... iya. Sangat kebetulan!" jawabku membenarkan perkataannya.


***


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2