Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 12 - Dia Lagi!


__ADS_3

Setelah hari itu, aku jadi memiliki seorang teman. Tentu saja Eka. Namun, di sisi lain Bagas begitu mengacuhkanku. Dan mungkin, memang inilah keinginanku daripada kedekatan kami berdua menimbulkan kesalahpahaman lagi?


Aku memang tidak pandai bergaul dengan orang yang baru kukenal. Apalagi, mereka semua seperti tidak menyukaiku. Makanya selama ini hanya Bagas saja yang dekat denganku. Namun setelah kejadian itu kami tidak pernah berbicara ataupun saling sapa.


"Boleh aku mengunjungi rumahmu?" tanyanya.


"Hmm... sebenarnya---" kataku menggantung. Aku bingung harus bagaimana? Mana mungkin aku membiarkan Eka mengunjungi rumahku. Tidak, maksudku rumah suamiku. Sedangkan, Raffa tidak ada di rumah dan dia sangat melarang keras agar tidak ada yang tahu hubungan kami berdua.


"Kenapa diam? Gak boleh, ya?!" Eka memanyunkan bibirnya, sepertinya dia kecewa.


"Bukan begitu, hanya saja rumahku sangat jauh. Berada di Bandung!"


"Hah?!" dia terkejut.


"Jadi kamu pulang pergi Jakarta-Bandung?" tanyanya.


"Ehh... eum... rumahku memang di Bandung. Tapi di sini aku tinggal di sebuah kontrakan kecil!" jawabku, sedikit bohong.


"Nah gitu dong, aku kan jadi ngerti. Jadi aku boleh mampir ke kontrakanmu?" tanyanya lagi, membuat kepalaku berputar (pusing).


"Aduh, jangan! M-maksudku, kontrakanku sangat kecil dan kotor. Aku tidak ingin kamu tidak merasa nyaman di sana. Bagaimana kalau aku saja yang mengunjungi rumahmu?"


"Hmm... padahal aku sangat ingin lho.... Ya sudah, kapanpun kamu mau kamu bisa mampir ke rumahku!"

__ADS_1


"Pasti! Kapan-kapan aku pasti mampir!" jawabku, bernapas lega.


"Eka!" kami berdua menoleh, ternyata itu Ineu.


"Ya?" sahut Eka.


"Sini!" perlahan Eka menjauh dan mendekat ke arah Ineu.


"Kamu kenapa jadi dekat sama si Shella? Bukannya kamu gak suka sama dia?" bisik Ineu namun masih bisa terdengar olehku.


"Shella gak seperti yang kita pikir, kok. Dia baik, kamu harus mencoba membuka mata kamu Ineu."


"Apa maksudmu, Eka? Kau malah membela wanita yang jelas-jelas suka ganjen sama cowok-cowok? Pertama pak Raffa yang dia dekati lalu Bagas, cowok yang kamu suka, entah siapa lagi yang akan dia dekati! Padahal dia orang baru di sini tapi sok kecantikan banget!" benar dugaanku selama ini. Entah pikiran dari mana mereka bisa menyimpulkan hal itu padaku. Hatiku terasa sakit, kalau saja aku bisa jujur, maka aku akan memberitahu mereka tentangku, tentang aku dan Raffa.


"Ineu, jangan bicara seperti itu. Shella gak kayak gitu kok!"


"Eka, seharusnya kamu tidak perlu membelaku," lirihku.


"Tapi---"


Aku memotong kata-katanya, "Temuilah Ineu. Jangan sampai persahabatan kalian berakhir hanya gara-gara aku!"


"Maaf, Shella..." Eka terlihat sedih.

__ADS_1


"Aku akan coba membujuk Ineu!" lanjutnya, lalu pergi mengejar Ineu.


Aku berjalan, hendak pergi dari tempat ini. Sampai akhirnya suara tidak asing bagiku, memanggil namaku.


"Nona Shella!"


"Dia lagi!" batinku.


"Sebaiknya anda tidak perlu bekerja di sini lagi!"


"Apa? Tapi kenapa?" tanyaku terkejut dan tidak terima.


"Karena saya sudah kembali, Nona."


"Tapi Ra--- maksudku, hanya pak Raffa yang bisa memecatku!"


"Nona, anda tidak dipecat. Hanya saja, anda tidak perlu bekerja lagi."


"Apa maksud anda? Tidak dipecat tapi tidak boleh bekerja lagi?"


"Nona, tolong jangan membantah!"


"Aku akan tetap bekerja di sini!" kataku, kukuh. Aku membalikkan badan, lalu pergi dengan amarah di dada.

__ADS_1


***


...Bersambung...


__ADS_2