Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 18 - Raffa Kembali


__ADS_3

Aku meringkuk, menangis, menyendiri, dan frustrasi. Kejadian itu, benar-benar menyisakan trauma dalam hidupku. Aku menatap nanar pintu kamarku yang rusak didobrak kedua penjahat yang tidak memiliki hati nurani. Aku berusaha melupakan kejadian hari ini, namun gagal. Aku berharap semua ini adalah mimpi! Mimpi dan mimpi.


Ketika ada kejadian indah, mengapa semua itu hanya mimpi? Ketika ada kejadian buruk, kenapa semua itu nyata? Takdir! Iya, takdir. Apa dosaku, sampai harus merasakan ujian berat seperti ini?


"Arghh!!" aku melempar sebuah pigura begitu saja. Sampai akhirnya aku tersadar, ternyata itu adalah pigura yang berisi satu-satunya foto saat aku menikah dengan Raffa.


"M-maafkan aku, mas!" sesalku, dengan buliran air mata. Aku meraih pigura yang sudah pecah itu.


"Mas..." lirihku, sambil membersihkan serpihan kaca yang berada di atas foto kami berdua.


"Ahk!" tidak sengaja jariku tergores serpihan kaca, membuat darah segar mengalir di ujung jariku.


***


Setelah beberapa saat aku menangis, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Namun, aku masih tak menghiraukannya. Sampai suara menggelegar membuat jantungku hampir tidak berdetak.


"Shella!!!"


"S-suara itu??" gumamku, dengan segera kuhampiri sumber suara itu.


Aku menatap wajah yang selama ini aku rindukan, hampir saja aku tersenyum. Namun, aku melihat seorang wanita tengah bergelayut manja pada tubuh suamiku.


"M-mas..." lirihku sambil menatap matanya.


Plak!


"Jadi ini kelakuanmu, selama aku tidak ada di sini, hah?!"

__ADS_1


"M-maksud mas, apa?" tanyaku memberanikan diri sambil memegang sebelah pipiku yang berdenyut.


"Sayang, wanita ini benar-benar sok polos. Padahal aslinya... ah, sayang sebaiknya kamu tinggalkan wanita ini!"


Aku menatap wanita itu, mengapa? Mengapa dia memanggil suamiku seperti itu? A-apa dia pacar Raffa, yang pernah diceritakan, Eka padaku?


"Pergi dari rumahku!" ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya. Aku terpaku, kenapa dia begitu marah padaku? Apalagi kesalahan yang kuperbuat?


"Mas, k-kenapa kamu mengusirku, mas?" Raffa terdiam, namun dilihat dari sorotan matanya, dia begitu marah.


"Hei, jal*ng! Apa kamu tuli, hah? Raffa bilang, pergi dari sini! Siuh... siuh!"


"Kamu! Kamu siapa? Kamu gak ada urusan sama aku," kataku sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.


Dia tersenyum sinis, "Hah? Gak ada urusan? Ck!" dia menyentuh wajah suamiku. "Yang berurusan dengan, Raffa. Akan berurusan denganku. Lagian, ya! Kamu itu cuma wanita kere, yang berharap jadi Cinderella dan dicintai oleh pangeran," dia melangkah, lalu memegang pergelangan tanganku dengan sangat erat.


"Dan itu semua gak akan pernah terjadi. Raffa tidak pernah mencintaimu!" lanjutnya membuat dadaku semakin sesak.


"DIAM, SHELLA!!"


"Dia bukan anakku! Jangan menjadikan anak dari pria lain sebagai alasan untuk tetap berada di sini!" lanjut, Raffa. Membuat kesedihan di hatiku teramat sakit.


"Dia anakmu, mas!" belaku.


"Kau!" Raffa hendak menamparku, namun entah apa yang membuatnya menahan tangannya yang keras itu.


"Tampar aku, mas! Tampar! Bila itu bisa membuatmu percaya padaku!" kataku bersungut-sungut.

__ADS_1


"Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!"


"Tapi, mas---"


"Sudahlah, Raffa sudah mengusirmu. Lebih baik kau pergi dan hidup bersama pria yang telah menghamilimu!" ucap wanita itu memotong kata-kataku.


"Ini anak, mas Raffa! Dan aku tidak akan pergi!" aku mendekati Raffa.


"M-mas... tolong percaya padaku. Tidak mungkin ini anak orang lain. Ini anakmu, mas. A-aku tidak pernah berkhianat. Tolong percaya padaku..." lanjutku.


Plak!


"Dasar wanita murahan! Pergi dari sini!" wanita itu menamparku, membuatku semakin marah padanya.


Plak!


Aku membalas tamparan wanita itu. "Kau!! Beraninya!!" bentak wanita itu.


"Sayang! Lihat! Wanita ini berani menamparku!" lanjutnya, terlihat menangis. Namun aku yakin itu hanya sandiwaranya saja untuk mendapat simpati dari Raffa.


Raffa melirik wanita itu, lalu menghampiriku. "Jangan pernah menyakiti wanita yang kucintai, Shella! Pergi! Aku tidak ingin melihatmu! Dan, ya! Setelah anak itu lahir, aku akan segera menceraikanmu!"


"Mas... nggak! Mas, aku tidak mau!" aku menggelengkan kepalaku, lalu memegang tangannya.


"Mas, tolong percaya padaku!" lanjutku.


"Pergi wanita j*lang! Dia bukan anakku!" Raffa melepas kasar tangannya dari peganganku.

__ADS_1


***


...Bersambung...


__ADS_2