
Dengan segera aku memasuki ruangan suamiku, mencari sesuatu yang sudah dia perintahkan. Setelah menemukannya, aku segera bergegas ke luar dengan terburu-buru.
Bruk!
"Maaf, aku tidak sengaja!" kataku sambil mengambil tasku yang terjatuh ke lantai.
"Shella? Ini kamu, kan?"
Aku mendongkakkan kepalaku, ternyata dia Bagas. Pria semalam yang telah menolong sekaligus mengantarkanku pulang.
"Maaf, saya harus segera pergi!" kataku, dengan cepat berjalan ke arah pintu keluar.
***
"Permisi, maaf saya sedikit terlambat!"
"Duduklah!" kata Raffa.
"Siapa dia?" tanya pria asing berperut buncit.
"Dia asisten pribadiku."
"Bukannya Hasan asistenmu? Ternyata ada asisten lainnya. Aku baru tahu!"
"Dia hanya asisten sementara. Sampai Hasan kembali ke Indonesia."
"Oh begitu..." jawab pria itu.
"Oh ya, bagaimana Tuan? Apa anda setuju dengan rencana tadi?"
"Sebenarnya apa yang sedang mereka bahas?" tanyaku dalam hati.
"Permisi!" kata seorang pelayan, mengantar minuman untuk kami.
__ADS_1
Saat mereka mengobrol aku hanya bisa menyimak pembicaraan mereka. Tak lama, dering suara handphone Raffa berbunyi.
"Maaf, saya akan segera kembali!" kata Raffa, sambil menjauh.
"Namamu siapa?" kata pria itu.
"Shella, pak!" jawabku.
"Kamu cantik!" kata pria itu sambil mengedipkan matanya, membuatku merasa tidak nyaman.
"Apa kamu sudah memiliki pasangan?" tanyanya lagi.
"Hem... maaf, saya permisi. Mau ke toilet!" kataku beralasan menghindari pria itu.
"Ya ampun! Apa pria tadi berusaha menggodaku?"
***
"Kamu mau pesan apa?"
"Bakso saja."
"Ya sudah, aku pesankan!" kata Bagas.
Bakso itu sudah berada di depan mataku. Sudah lama sekali aku tidak memakan ini. Bahkan, sepertinya ini adalah bakso pertama yang aku makan setelah tinggal di kota ini.
"Makannya pelan-pelan," kata Bagas, lalu mengusap sudut bibirku dengan jarinya. Dan hal itu membuatku terkejut dengan perlakuan Bagas padaku.
"Apa kamu tidak makan, Bagas? Nanti baksonya keburu dingin lho..."
"Lihat kamu makan saja aku udah kenyang!"
"Ish! Apa sih, Bagas!" kesalku sambil refleks memukul tangan Bagas.
__ADS_1
Aku kembali melanjutkan makan siangku, namun tiba-tiba Sinti datang menghampiriku dengan tatapan benci.
"Heh! Dipanggil, pak Raffa tuh!"
"Bagas, maaf aku duluan!" kataku, lalu pergi terburu-buru ke ruangan Raffa.
"Permisi," kataku sambil mengetuk pintu.
"Masuk!" aku masuk, namun perasaanku menjadi tidak enak. Entah kenapa, melihat Raffa yang membelakangiku sembari mengepalkan kedua tangannya membuatku takut.
"Ada hubungan apa kamu bersama pria itu?!"
"P-pria siapa?" tanyaku, gugup.
"Pria yang makan siang denganmu!"
"Maksudnya, Bagas, pak?"
"Hem!"
"Tidak ada apa-apa di antara kami," tiba-tiba Raffa membalikkan badan dan langsung mencengkram daguku dengan erat.
"Bohong!!" bentaknya. Seketika hatiku menjadi sakit. Entah terbuat dari apa, hatiku ini. Setiap Raffa membentakku, rasanya sakit. Dan ingin segera menangis. Apa aku serapuh itu?
"Aku gak bohong. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Mana mungkin aku ada hubungan dengannya."
Raffa melepas kasar cengkramannya, dan mendorong tubuhku sampai membentur dinding. "Jaga batasanmu, Shella! Kamu adalah wanita bersuami!" kata Raffa sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajahku.
Dia pergi begitu saja, apa dia sangat tidak mempercayaiku? Ke mana Raffa yang dulu? Raffa, kenapa kamu jadi seperti ini?
***
...Bersambung....
__ADS_1