
Waktu telah berlalu, Raffa benar-benar membuatkanku bubur yang baru. Namun, entah mengapa, aku tidak ingin menyentuhnya sama sekali. Apa mungkin selera makanku sudah hilang?
"Shel, ayo makan. Ini sudah kucicipi. Rasanya tidak asin seperti tadi," ujarnya sambil berusaha membujukku.
"Aku gak mau, mas! Gak lapar!" tolakku, ketus terhadapnya.
Dia terdengar menghela nafasnya, "Baiklah, aku harap nanti kamu mau memakannya. Sekarang aku harus pergi ke kantor. Aku sudah sangat terlambat!"
"Mas, aku ikut!" pintaku, seraya memegang tangannya.
"Tidak, kamu tidak boleh bekerja! Kamu sedang hamil, aku tidak ingin anakku kenapa-kenapa nanti!"
"Tapi aku rindu temanku, mas. Kerjaanku juga kan nggak angkat yang berat-berat, mas!"
"Teman? Siapa temanmu itu? Apa yang kamu maksud adalah Bagas?!" sorot matanya berubah, aku benar-benar melakukan kesalahan. Kenapa aku harus berkata seperti itu, coba?
"M-maksudku, Eka, mas. Dia temanku, aku juga pernah ada janji bakal main ke rumahnya, mas. Please, izinkan aku ikut, mas..." pintaku, lirih, aku sangat berharap Raffa menyetujui keinginanku. Karena sebenarnya aku sangat bosan terus berada di rumah sendirian. Apalagi, aku takut wanita itu mengganggu suamiku! Aku harus selalu berada di dekatnya.
"Nggak bisa. Kamu di rumah saja, perbanyak istirahat!" Raffa benar-benar kukuh dengan ucapannya, sekali tidak, ya tidak!
"Mas, kamu rese!" umpatku, amat pelan. Tiba-tiba Raffa mendelik ke arahku. Membuatku menelan saliva, takut kalau Raffa mendengar ucapanku barusan. Namun, ternyata Raffa melanjutkan langkahnya untuk pergi bekerja.
***
Raffa sudah pergi, tinggallah aku di sini seorang diri bersama, bi Ani saja. Aku benar-benar merasa bosan. Aku merasa butuh angin segar.
Tiba-tiba aku mendapatkan ide, "Bagaimana kalau aku belanja kebutuhan dapur? Seharusnya Raffa mengizinkanku, bukan?" gumamku. Dengan segera, kuhubungi Raffa.
"Ada apa?" tanyanya dari seberang telepon.
__ADS_1
"Mas, aku ingin pergi belanja, apa boleh?"
"Tidak, suruh saja bi Ani jika kamu ada keperluan!"
Mendengar itu, mulutku komat-kamit, aku benar-benar kesal dengannya! Ini gak boleh, itu gak boleh, memangnya aku lagi sakit? Kan aku cuma lagi hamil saja. Raffa benar-benar menyebalkan!
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, aku tutup teleponnya!" lanjutnya, membuatku terlonjak.
"Ehh... mas, jangan ditutup dulu! Mas, aku merasa bosan di sini. Aku mohon, mas. Aku ingin pergi berbelanja. Bi Ani bakal ikut aku, kok, mas!" ucapku terburu-buru seperti orang yang tengah mengejar maling.
"Ya sudah, tapi bi Ani beneran ikut kamu, ya?"
"Yes!" seruku dalam hati. Akhirnya, aku bebas juga!
"Beneran, mas! Makasih, ya, mas! Aku sayang kamu, mas!" seruku bersemangat, sambil berjingkrak-jingkrak kecil.
"Jangan kecapekan, aku lanjut kerja. Nanti aku telepon kamu, ya?!"
"Bi!" panggilku.
"Iya, nyonya?" sahutnya dari kejauhan.
"Bi, ikut aku ke pasar, ya?"
"B-baik, nya!"
***
Di dalam mobil, aku merasa masih tidak mendapat kebebasanku. Sejak kapan Raffa punya seorang supir? Bahkan saat aku harus berangkat bekerja saja, aku harus menunggu taksi online atau ojek online yang aku pesan.
__ADS_1
"Apa supir ini seorang mata-mata?" mataku menyipit melihat gerak-gerik sang supir.
"Bi, apa bibi tahu, ini mobil siapa? Kok tiba-tiba bisa ada di depan rumah?" tanyaku, pada bi Ani. Namun, pandanganku tetap mengawasi sang supir.
"Lho, ini mobil tuan Raffa, nyonya. Bukankah, pak Ahmad sudah memberitahu, nyonya tadi?" tanyanya balik, membuatku merasa tersudut.
"E-eh... siapa pak Ahmad, bi?" tanyaku gugup, karena aku memang tidak tahu siapa orang yang bernama pak Ahmad itu.
"Saya, nyonya!" sahut sang supir.
"Oh... rupanya namanya pak Ahmad..." gumamku sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Pak, apa suami saya beli mobil baru?" tanyaku, lagi.
"Saya rasa, tidak, nyonya," sahutnya.
"Tapi saya baru lihat mobil ini, pak! Iya, kan, bi Ani?" ucapku, seraya meminta dukungan pada bi Ani.
"Mohon maaf, nyonya. Ini mobil lama tuan Raffa. Mobil ini memang sudah sangat jarang dipakai olehnya," tutur pak Ahmad.
"Bapak banyak tahu, ya. Tapi bukannya bapak supir baru, ya?" apa ada yang aneh? Kulihat bi Ani tengah menahan tawa, begitu pula dengan pak Ahmad. Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?
"Saya sudah sepuluh tahun bekerja pada tuan Raffa, nyonya. Dan sebenarnya, bukan hanya saya saja yang bekerja sebagai supir, tapi ada pak Ehsan. Dulu dia sering mengantar ke manapun nyonya Kayla pergi, namun setelah beliau meninggal, beberapa dari kami termasuk saya sendiri, diminta untuk tidak bekerja sementara waktu oleh tuan Raffa," tutur pak Ahmad. Sekarang aku tahu, mengapa penghuni rumah menjadi sangat sepi ketika aku menginjakkan kaki ke rumah itu sebagai istri. Namun, aku masih tidak tahu, apa alasan Raffa memberhentikan mereka bekerja.
"Tapi, nyonya. Meskipun kami tidak bekerja, tuan Raffa tetap membayar kami. Tuan sangat baik, nyonya. Nyonya sangat beruntung menjadi istri tuan Raffa," tutur bi Ani, membuatku semakin terkejut dengan fakta yang baru aku ketahui.
Aku hanya membalas mereka dengan anggukan kepala. Rasanya aku tidak bisa berkata-kata lagi, sudah cukup dulu kejutan hari ini. Atau, aku akan terkena serangan jantung di usia muda, bila mendengar hal yang membuatku terkejut lagi.
***
__ADS_1
...Bersambung...