Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 21 - Penasaran


__ADS_3

Dia terlihat gugup, namun seketika dia terlihat sangat santai seolah tak ada beban maupun masalah.


"Dia mantanku!" jelas, singkat dan padat. Begitulah jawaban yang dia berikan. Namun, aku masih meragukan jawabannya. Mengapa? Tentu saja, sulit untukku mempercayainya. Sedangkan, beberapa waktu lalu dia sangat membela wanita itu di hadapanku. Mengingat kejadian tadi, aku kembali tersenyum getir. Entah harus 'ku ungkapkan rasa kecewaku, atau aku pendam saja seperti rasa cintaku padanya yang selama ini aku pendam.


Aku menatapnya, mengapa setiap jawaban yang dia berikan selalu membuatku merasa ada banyak hal yang berusaha dia sembunyikan. Bila aku bertanya lagi pun, apa dia akan jujur? Dan menjelaskan secara rinci jawaban dari pertanyaanku.


"Sudahlah, aku tidak perlu bertanya lebih lagi!" batinku.


"Mas, aku tahu hubungan kita selama ini tidak baik. Bila, mas Raffa tidak bisa mencintaiku. Bisakah kita berteman seperti dulu, mas? Aku janji tidak akan meminta hal lebih," ucapku, setelah dipikir-pikir aku merasa sedikit terkejut dengan perkataanku sendiri. Mengapa aku bisa berkata seperti itu? Tentu saja sebagai seorang wanita aku berharap dicintai, apalagi oleh suamiku sendiri.


"Apa maksudmu, Shella?"


"K-kamu, nggak mau, ya?" tanyaku gugup.


"Baiklah kita bisa berteman, Shella."


Senyumku mengembang, "B-benarkah? Kamu mau berteman lagi denganku? K-kamu sudah nggak benci sama aku, kan, mas?" kata-kataku dibalas anggukan olehnya. Meskipun pernikahan ini hanya sebatas rasa teman, biarlah. Mungkin ini adalah awal yang baik untuk hubungan kami.


***


Hari-hari telah berlalu, Raffa melarangku untuk bekerja. Karena Hasan telah kembali ke Indonesia, dan karena kondisiku yang tengah hamil, Raffa membatasi kegiatanku.

__ADS_1


Hari ini aku merasa bosan, tidak ada siapapun yang bisa kuajak bicara. Bahkan menonton tv malah membuatku mengantuk saja. Tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Aku segera membukakan pintu.


"Siapa?" tanyaku, rasanya aku tidak asing dengan wajah wanita di hadapanku.


"Permisi, nyonya. Nama saya, Ani. Saya diminta tuan untuk kembali bekerja di sini," ucapnya, aku mulai teringat bahwa dia adalah ART yang pernah kulihat dirumah ini sebelumnya.


"Oh, ya bu Ani. Silahkan masuk!" kataku.


"Terima kasih, nyonya!" serunya, agak membungkukkan badan.


Aku menyuruhnya untuk menyimpan barang-barangnya di kamar yang sebelumnya pernah ia tempati. Aku sangat penasaran, mengapa bu Ani pergi dari rumah ini? Apa sebelumnya dia dipecat? Atau bagaimana?


"Nyonya, apa ada sesuatu yang nyonya inginkan?" tanyanya, sedikit membuatku kaget karena tak menyadari kedatangannya yang tiba-tiba.


"Aku ingin es krim!" lanjutku.


"Ada hal lain, nyonya? Bibi akan membelinya."


"Oh... iya, dan... kalau bibi tidak keberatan, tolong belikan bahan-bahan untuk memasak kue," kataku.


"Baik, nya!"

__ADS_1


Bu Ani, atau mungkin memang lebih enak kupanggil, bi Ani saja. Karena beliau tadi memanggil dirinya sendiri dengan sebutan bibi. Sepulangnya nanti, tidak ada salahnya, kan? Bila aku bertanya tentang keberadaannya selama ini. Dan mengapa beberapa bulan ini dia tidak bekerja di sini? Bila tidak kutanyakan, ini akan terus mengganggu pikiranku.


Aku mulai merebahkan diri pada benda empuk di bawah tubuhku. Hubunganku dengan Raffa, memang mulai membaik, meskipun Raffa tidak mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai teman dan... ibu dari anaknya.


Bel rumah berbunyi lagi, siapa itu? Apa itu, bi Ani? Tapi dia baru saja keluar, kan? Lagi pula, pintu tidak dikunci, dan bi Ani bisa masuk kapan saja ke rumah ini tanpa harus menekan bel. Karena penasaran, aku kembali membukakan pintu.


"Kau!" kataku, dengan nada kesal.


"Ada apa kemari?" tambahku.


"Tentu saja untuk mencari, Raffa, pacarku!" ucapnya dengan pede, sambil tersenyum sinis padaku.


"Bukannya kalian hanya sekadar mantan, hem? Lagi pula, mas Raffa tidak ada di sini. Dia belum pulang!"


"Mantan?" dia terkekeh.


"Tidak ada yang lucu ---" aku menghentikan kata-kataku. "Tunggu! Siapa namanya? Kenapa aku tidak menanyakannya pada Raffa waktu itu, ya? Arghh... menyebalkan!" batinku kesal.


"Tentu saja lucu, karena aku dan Raffa masih bersama!"


"Kalau kalian masih bersama, kenapa kau datang ke sini? Seharusnya kau tahu di mana dia sekarang, bukan? Atau menelpon di mana keberadaannya!" kataku sambil mengejek wanita yang ada di hadapanku ini. Wanita itu terlihat kesal, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


***


...Bersambung...


__ADS_2