Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 4 - Asisten Suamiku


__ADS_3

Setitik luka di tubuh, tidak membuat bekas di kulit. Namun, apa jadinya jika luka itu tidak dapat dilihat? Tidak berdarah dan hanya si pemilik tubuh yang tahu betul di mana letak luka itu. Itulah yang dirasakan olehku. Sakit, tapi tidak berdarah. Tidak apa jika dia melampiaskan rasa sedih kehilangan seorang ibu padaku. Tapi apa harus dia menuduh apa yang tidak aku lakukan sama sekali? Menyalahkan takdir tuhan kepadaku?


Aku rindu Raffa yang dulu. Raffa yang lembut, tidak pernah membentak siapapun.


Flashback On


"Shallu!" begitu dia memanggilku.


"Sudah aku katakan, namaku Shella. Bukan Shallu!" aku memasang wajah kesal padanya.


"Ish... kamu kok lucu sih Shalluku..." dia mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Raffa... lepaskan, ini sakit!" rengekku.


"Shallu, tunggu di sini!" kulihat Raffa berlari dan menyeberangi jalan.


"Raffa, kamu baik sekali!" pujiku, sambil tersenyum ke arahnya.


"Nek, hati-hati jalannya, ya!"


"Terima kasih, cu..." nenek itu pergi dengan sangat pelan, dibantu sebuah tongkat.


Aku menghampiri Raffa, "Aku kira kamu mau ke mana. Taunya bantuin nenek tadi nyebrang, ya!" ucapku sambil menepuk bahu Raffa.


"Hehe..." dia terkekeh.

__ADS_1


"Eh... eh! Ayo! Sudah telat nih!" kata Raffa.


Aku melihat jam di pergelangan tanganku," Raffa! Gimana nih... kita pasti gak bisa masuk!" kataku, panik.


Raffa menggengam tanganku, dan mengajakku berlari ke arah sekolah menengah pertama, yang letaknya tidak jauh dari tempat tadi, saat Raffa menolong nenek.


"Tuh kan... di kunci gerbangnya, Fa!" aku hampir menangis.


"Aku ada ide!" aku mengikuti rencana Raffa. Namun, rencana itu sangat sulit untuk kulalui.


"Raffa, aku pakai rok! Mana mungkin aku bisa manjat juga! Raffa..." aku mulai merengek lagi.


"Sstt..." Raffa membungkam mulutku dengan jarinya.


"Jangan berisik, Shallu!" bisiknya.


"Ihhh... tapi kamu jangan ngintip Raffa!"


"Iya... nggak bakal! Siapa juga yang tertarik sama kamu?!"


"Ishh.. Raffa!!" kataku dengan nada sedikit manja.


Flashback Off


Aku terkekeh mengingat masa laluku. Sampai akhirnya aku lupa untuk mengobati luka-lukaku.

__ADS_1


"Di mana obatnya, ya?!" aku mencari kotak P3K, namun tidak ada di dalam kamar. Aku mulai mencari di luar kamar.


"Mau ke mana kamu?!" tanyanya sambil memakan kentang goreng yang kubuatkan tadi.


Jantungku, kembali berdetak kencang. Ingin menjawab dan bertanya, namun... aku takut salah bicara dan membuatnya marah lagi.


"A-aku... aku sedang mencari---"


"Mencari ini?!" dia menunjukkan kotak P3K, yang ternyata berada di atas meja makan.


"Ke-kenapa ada di sana? Ka-kapan kamu mengambilnya?"


"Cih! Tidak perlu tahu, kapan aku mengambilnya. Yang jelas, jika kamu ingin kotak ini, kamu harus menuruti semua perintahku!"


"Kamu ingin apa, mas?" tanyaku ragu. Karena sejujurnya aku sangat membutuhkan kotak itu. Ada tiga luka di tubuhku, di dahi, jari dan pergelangan tanganku yang terciprat minyak panas. Aku takut jika dibiarkan, salah satu dari lukaku akan infeksi.


"Bekerjalah di perusahaanku, sebagai asistenku! Karena asistenku, tengah mengurus masalah perusahaan yang berada di Australia."


"Be-benarkah?!" tanyaku senang. Jika aku menjadi asisten suamiku sendiri, maka aku bisa dekat dengannya di manapun.


"Tapi jangan senang dulu!" Raffa menyeruput segelas air, lalu berdiri. "Jangan sampai ada yang tahu, kalau kamu adalah istriku. Karena yang mereka tahu, aku masih lajang. Mengerti?!" ucapnya sambil melempar kotak itu ke arahku. Lalu pergi begitu saja.


"Apa secara langsung Raffa tidak mengakuiku sebagai istrinya?" air mataku kembali lolos, entahlah perkataannya benar-benar menyakiti perasaanku.


***

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2