Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 24 - Bubur


__ADS_3

Raffa terdiam, membuatku geram melihatnya.


"Itu bajuku, Shel..." hanya itu jawabannya? Aku juga tahu ini memang bajunya. Raffa benar-benar membuatku kesal!


"Aku tahu, mas. Tapi yang kumaksud ini!" aku menunjukkan sebuah noda dengan jariku, "Siapa yang melakukannya, mas?!" lanjutku.


"Itu bukan apa-apa. Dan sebaiknya kita tidak perlu meributkan hal kecil seperti ini! Sekarang lebih baik kita makan!" semudah itu dia berkata? Dia berbicara seolah ini adalah hal yang biasa.


"Mas, tidak mau terus terang padaku?" tanyaku dengan tatapan kecewa sekaligus marah.


"Duduklah!" dia menyuruhku untuk duduk, dengan segera aku menurut. Berharap setelah ini dia akan berterus terang padaku.


"Dengarkan aku, kamu tidak perlu khawatir tentang ini. Bahkan aku juga tidak sadar kalau ada bekas lipstik di bajuku. Memang, kemarin ada wanita yang tak sengaja menabrakku. Dia pun sudah meminta maaf. Lagi pula, aku tidak mengenali wanita itu."


"Kamu gak bohong, kan, mas?" tanyaku memastikan.


"Kalau aku bohong, kamu boleh menghukumku! Sekarang mari kita makan, aku juga harus segera pergi ke kantor."


Aku mengangguk, dan merasa malu. Apa aku terlalu berlebihan tadi? Mengingat itu, aku sungguh merasa malu dan saat ini aku tak ingin bicara dulu.


"Kenapa? Kamu gak selera makan? Kok cuma di aduk-aduk gitu makanannya?"


"Sebenarnya aku tidak ingin memakan ini, mas..." lirihku masih mengaduk-aduk sesuatu dalam piringku.


"Ada yang kamu inginkan?" tanyanya lagi, lalu aku mengangguk.

__ADS_1


"Kamu ingin apa? Ingin makan apa?" lanjutnya.


"A-aku... aku ingin makan bubur, mas!" jawabku sambil menggigit bibir bawahku.


"Ya sudah, kita suruh bi Ani untuk membuatnya!"


"Nggak mau, mas!" kataku sambil menggelengkan kepala.


"Kamu mau yang dijual di pinggir jalan?" tanyanya terlihat bingung.


"Bukan, mas..." lirihku.


"Lalu apa?"


"T-tapi---"


"Tapi apa, mas? Kamu gak mau, ya? Ya sudah gak apa, mas," kataku memotongnya.


Tiba-tiba Raffa mengacak-acak rambutku, dan membuatku kebingungan dengan sikapnya. "Aku akan membuatnya, tapi kalau tidak se-enak yang dijual abang-abang bagaimana?"


"Aku pasti memakannya, mas!" seruku dengan mata berbinar-binar.


***


"Apa rasanya sangat enak?" Raffa menatapku yang tegah rakus memakan bubur buatannya.

__ADS_1


"Ini bubur paling enak yang pernah kumakan, mas!" seruku bersemangat.


"Boleh, aku coba?" aku menghentikan kegiatanku, lalu memberinya sebuah suapan kecil.


"Uhuk! Asin sekali!" Raffa hampir memuntahkan bubur itu, namun sepertinya dia menahan diri.


"Minum, mas!" dengan cepat aku memberinya segelas air.


"Shella, jangan dimakan lagi! Itu tidak baik!" ucapnya sambil mengambil mangkuk bubur milikku.


Hatiku begitu terluka melihat mangkuk buburku dibawa pergi oleh Raffa, "Mas! Jangan dibuang! Aku masih mau, mas!" pintaku merengek sambil menyusulnya.


"Shella, kamu sudah menghabiskan dua mangkuk bubur ini! Dan untuk yang ini, jangan dihabiskan! Kalau kamu masih mau, akan kubuatkan yang baru!" ucapnya dengan nada tegas, seolah perkataannya itu sudah mutlak.


"Gak mau, mas! Aku maunya yang ini! Gak mau yang baru!!" kakiku terhentak-hentak, air mataku mengalir. Aku benar-benar tidak ingin Raffa membuang bubur yang sangat lezat itu.


"Shella, tapi ini terlalu asin! Ini gak baik buat kamu dan bayi kita!" aku mulai diam, namun tetap menangis. Aku begitu kecewa, karena Raffa tidak memberikan apa yang aku inginkan, dan malah ingin membuangnya.


"Mas, buatkan yang baru, ya?" Raffa melembut, dia mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Namun, aku masih marah karena tak rela bila buburku dibuang begitu saja.


"Mas Raffa gak sayang aku!" kataku dengan pipi menggembung, lalu meninggalkannya dengan perasaan kesal dan sedih.


***


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2