Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 20 - Maaf


__ADS_3

Raffa mendekati pria yang tengah terbaring lemah itu. Sedang, wanita yang ikut bersama kami, dia hanya diam dengan wajah yang pucat.


"A-aku pergi dulu!" ucap wanita itu, aku menatap heran. Wanita itu terlihat aneh ketika aku selesai bercerita tadi. Namun, aku tak begitu memperdulikannya.


Sekarang, giliran Raffa yang berbicara. Dia menatap lekat padaku, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang, hanya dialah yang tahu.


"Shella, jadi anak itu... anak itu benar-benar anakku?" lirih Raffa dengan suara gemetar. Aku menjawabnya dengan anggukan. Tiba-tiba saja dia memelukku, sontak membuatku kaget. Namun, aku juga merasa bahagia. Untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh Raffa dalam keadaan sadar dan bukan mimpi.


Lama, kami berpelukan. Akhirnya kami saling bertatap mata. Mata itu, kenapa terlihat berair? Apa Raffa tengah menahan tangisnya?


Perhatianku seketika teralihkan, ketika seorang dokter datang ke ruangan ini. Kami pun menanyakan bagaimana kondisi, pak Mukhsin. Karena pisau yang menancap perutnya tak terlalu dalam, beliau masih bisa diselamatkan dan sekarang beliau akan terus tertidur. Tentu saja karena bius, agar beliau tidak terlalu merasakan rasa sakit di perutnya. Biarkanlah ia tertidur sementara, aku berharap ia segera pulih.


Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang. Namun, di dalam mobil hanya ada keheningan. Sesekali aku melihat ke arahnya.


***


Sampai di rumah, kami masih tak berbicara satu sama lain. Namun, sesekali kami saling menatap. Setelah itu kami kembali bergelut dengan pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Namun, dalam benakku banyak sekali hal yang ingin kutanyakan padanya. Termasuk mengapa dia pergi begitu saja setelah malam panjang itu? Ke mana dia selama ini? Dan siapa wanita yang bersamanya tadi? Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan. Namun, aku ingin menunggu waktu yang tepat, kuharap nanti dia akan terbuka padaku.


Kami kembali menatap satu sama lain, aku memberanikan diri untuk memecahkan keheningan di antara kami .

__ADS_1


"Mas, Shel!" ucap kami berdua bersamaan.


"Kamu duluan," kataku.


"Kamu saja yang duluan," kata Raffa.


"Nggak, kamu saja yang duluan," kataku.


"Baiklah..." sahutnya, terlihat menarik nafas, dan mengeluarkannya.


"Aku... minta maaf," lanjutnya. Aku tidak ingin berbicara terlebih dahulu, karena sepertinya Raffa akan melanjutkan kata-katanya.


Aku tersenyum simpul, "Aku memaafkanmu, mas..." lirihku.


"Oh iya, tadi kamu mau ngomong apa?" tanyanya, membuatku mempersiapkan diri untuk bertanya.


"I-itu... ke mana saja kamu selama ini, mas?"


Raffa terlihat diam, mungkin dia sedang berpikir. "Mas?" panggilku.

__ADS_1


"I-iya?"


"Aku bertanya, mas..." lirihku.


"Oh... itu! Aku, pergi ke luar negeri untuk melakukan sebuah pekerjaan!" aku menatap matanya lekat, sepertinya ada yang Raffa sembunyikan dariku.


"Mas, kenapa pergi gak beritahu siapapun? Para karyawan pun bahkan asisten Hasan tidak tahu ke mana kamu, mas!" kataku, sengaja berbicara seperti itu. Bila benar dia pergi untuk melakukan pekerjaan, setidaknya asisten yang sangat dekat dengannya tahu di mana dia berada selama ini.


"Ha-Hasan tahu, kok!"


"Yang benar, mas?" tanyaku meyakinkan, dia mengangguk.


Aku menjadi bingung, bila Hasan tahu di mana keberadaan Raffa. Mengapa waktu itu dia menanyakan keberadaan Raffa padaku? Apa Raffa berbicara yang benar? Aku harus bertanya langsung pada Hasan.


"Mas, boleh aku bertanya lagi?" dia mengangguk.


"Siapa wanita tadi? Yang ikut bersama, mas. Kalian terlihat sangat dekat,"


.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2