Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 13 - Tidak Enak Badan


__ADS_3

Pagi ini tidak seperti biasanya. Aku merasa tidak enak badan. Kepalaku terasa pusing, itu membuatku tidak fokus bekerja. Bahkan, untuk sekadar berjalan saja rasanya aku sudah tidak kuat.


"Ugh!" hampir saja tubuhku ambruk, untung saja ada orang yang menangkap tubuhku.


"Apa kamu sakit?" tanya orang itu, membuatku langsung mengerjapkan mataku.


"Hah?!!!" aku segera menjauh darinya.


"Maaf!" kataku sambil menunduk, jika saja aku tahu orang yang menangkap tubuhku adalah Bagas, tentu saja aku memilih jatuh ke lantai daripada harus jatuh dalam pelukannya. Aku tidak ingin membuat harapan padanya, dan tidak ingin membuat orang-orang salah paham lagi padaku.


(Btw, Shella merem pas mau jatuh karena kepalanya sangat pusing, jadi dia tidak tahu siapa orang yang telah menolongnya.)


"Terima kasih!" lanjutku, mulai berjalan pergi ke ruang kerjaku.


"Lah, bukannya kamu dipanggil pak Hasan ke ruang kerjanya? Kok malah berbalik arah?" tanya Bagas, sedikit membuatku terkejut.


"Apa semua orang tahu, kalau aku harus ke ruangan pak Hasan?" tanyaku, sambil menatap tajam pada Bagas.


"T-tidak! Aku tahu karena saat pak Hasan menelponmu untuk ke ruangannya, aku berada di sana. Jadi, otomatis aku mendengarnya!"


Aku menatap curiga pada Bagas, "Oh..." aku segera pergi ke ruangan pak Hasan.


"Maafkan aku, Bagas..." batinku. Jujur saja, aku merasa tidak enak padanya. Dia terlalu baik dan tidak semestinya aku memutuskan tali silaturahmi pertemanan kita. Namun, apa dayaku? Jika kedekatan kami malah membuat banyak kesalahpahaman, terutama dalam rumah tanggaku.

__ADS_1


"Rumah tangga..." aku tersenyum getir, mengingat hubunganku dengan Raffa. Bahkan sampai saat ini aku tidak tahu di mana keberadaan dan kabarnya.


***


"Asisten menyebalkan! Bagaimana bisa Raffa menjadikannya asisten pribadi?!" umpatku dalam hati. Apa dia tidak bosan menuduhku? Menanyakan hal yang sama berulang-ulang kali padaku? Lama-lama aku tidak tahan berada di sini. Belum lagi, orang-orang di sini, hampir semua tidak menyukaiku. Apa aku begitu buruk? Apa aku ada salah pada mereka?


"Shel, kamu kenapa?" tanya Eka, sambil menepuk bahuku. Lalu duduk di sampingku.


"Lagi kesel!"


"Kesel kenapa? Gak biasanya?"


"Ya kesel aja, Eka!" aku membuang nafas kasar, ingin sekali rasanya menendang asisten itu!


"Eka, tolong jangan tanyakan orang itu!" aku menatap sebal pada Eka.


"Ya, maaf... aku cuma bertanya saja," Eka terlihat memanyunkan bibirnya.


"Shel, kamu kenapa sih? Lagi datang bulan, ya? Gak biasanya tahu, kamu jutek terus marah-marah gak jelas gini!" sambungnya, membuatku bingung.


"Benar juga apa kata, Eka. Kenapa aku jadi gampang emosian kayak gini?"


"A-anu! Maafkan aku jika kesannya aku telah memarahimu!" kataku, merasa bersalah padanya.

__ADS_1


"Udah gak emosi, nih?" tanya Eka menggodaku.


"Ih... apa sih, Eka? Aku cuma lagi kesel saja sama asistennya pak Raffa."


"Lho... kamu, kan asistennya dia juga!" sahutnya.


"Ih... maksudku dia, bukan aku. Masa aku kesel sama diri sendiri, sih?"


"Udah, jangan cemberut gitu. Hari ini aku traktir kamu bakso? Bagaimana?" ajaknya.


Mataku langsung berbinar-binar, dengan semangat aku berdiri. "Serius?!"


"Hu'um!" dia mengangguk.


Kami mulai berjalan ke luar, lokasinya yang tidak jauh dari tempatku bekerja membuat kami segera tiba di sana. Namun, saat sampai pusingku mulai menyerang kembali. Belum lagi, rasa mual di dalam perutku.


"Kamu kenapa, Shel?"


"Aku hanya merasa pusing dan mual!" rasa ini semakin menggangguku.


"Shella!"


***

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2