
Pagi ini, seperti biasanya aku bersiap untuk pergi bekerja. Tak lupa untuk sarapan teratur, apalagi sekarang ada malaikat kecil yang tumbuh di dalam rahimku. Aku tersenyum, sambil mengelus perutku yang rata. Pulang bekerja nanti, aku berniat untuk memeriksa kondisi kandunganku.
Aku menatap jalanan di dalam taksi. Andai Raffa ada di sini, pasti kebahagiaan ini akan lengkap.
Raffa mengelus perutku, dan menciuminya dengan penuh kasih sayang. Dia tersenyum padaku, "Aku menyayangi kalian berdua." Ah, rasanya aku sangat-sangat bahagia. Aku membalas perlakuan lembut suamiku, dengan mengusap rambutnya yang sedikit basah.
"Aku mencintaimu, mas!" ucapku, lalu Raffa menangkup kedua pipiku. Wajah kami semakin dekat, aku mulai memejamkan mata, sambil tersenyum gugup.
"Mbak! Mbak!" suara agak berisik itu membuyarkan lamunanku.
"Ah! Kenapa aku berkhayal?!" batinku.
"A-ada apa, pak?" tanyaku.
"Kita sudah sampai di tempat tujuan!" ucapnya, lalu aku melihat ke samping. Ternyata benar, aku telah sampai di sini.
"Oh... i-iya. Ini uangnya! Terima kasih!" aku segera keluar, dan masuk ke dalam perusahaan .
"Nona!" aku menatapnya, lalu membuang nafas kasar.
"Seharusnya anda tidak bekerja. Anda tengah mengandung anak dari, tuan Raffa!"
"Ini bukan urusanmu!" aku mulai berjalan dengan cepat, meninggalkan Hasan.
"Ih... gue denger, ada yang hamil tapi gak tau dah, siapa bapaknya!"
"Yang gue tahu, dia itu kan belum menikah? Buktinya dia suka dekat-dekat sama cowok!"
"Benar tuh! Pertama pak Raffa, terus si Bagas, eh sekarang kayaknya pak Hasan yang jadi incerannya!"
"Dasar, emang cewek gak bener! Amit-amit dah, gue mah kagak mau dekat sama tuh cewek!"
__ADS_1
"Kira-kira siapa ya, yang buntingin dia?"
"Kali saja, om-om! Hahaha!!"
"Sepertinya mereka membicarakanku..." tak terasa, buliran air mataku menetes. Aku pergi, secepat mungkin. Menjauhi mereka, yang tidak menyukaiku.
"Eh! Guys! Tuh cewek j*l*ng!"
"Apa salahku, Tuhan?!" aku menyenderkan tubuhku ke dinding. Aku benar-benar merasa sakit hati. Mengapa mereka begitu membenciku? Apa kesalahanku pada mereka?
"Hapus air matamu, Shella!" seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan ke arahku.
"B-Bagas! Ka-kamu di sini?" dengan cepat, kuhapus air mataku.
"Jangan dengarkan mereka semua, Shella. Mereka tidak mengenalmu," Bagas mulai menghapus air mataku dengan sapu tangan miliknya. Matanya terus mengamati wajahku dengan fokus, aku merasa tidak nyaman dan mulai memalingkan wajahku darinya.
"Shella, aku tahu kamu sudah menjadi milik orang lain. Tapi tolong, apakah kamu masih mau berteman denganku? Aku tidak ingin kita seperti orang asing yang tidak saling mengenal."
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi!" Bagas membalikkan badannya, dan mulai berjalan pergi.
"Tunggu!" kataku, mencegahnya.
"Kita masih bisa berteman, Bagas!" lanjutku. Dia terdiam, lalu melihat ke arahku.
"Terima kasih!" ucapnya.
***
Sore ini, aku pergi untuk memeriksa kandunganku. Ternyata aku benar-benar hamil, dengan usia kandungan empat minggu. Aku mulai berjalan, ke arah parkiran. Menunggu taksi online yang kupesan.
"Shella?" aku menoleh, ketika seseorang memanggil namaku.
__ADS_1
"Pak Kevin?" aku menatapnya, dia adalah atasanku sebelum aku menikah dan bekerja di perusahaan suamiku.
"Kamu, kenapa di sini? Mana suamimu?"
"Saya habis memeriksa kandungan."
"K-kamu hamil??" tanyanya, terkejut.
"I-iya, pak!" jawabku.
"Hm... selamat, ya, Shella! Oh, ngomong-ngomong suamimu tidak terlihat di sini?"
"A-anu... d-dia tidak bisa mengantarku, karena sibuk bekerja, pak!" jawabku gugup.
"Shella, aku bukan atasanmu lagi. Jangan formal dan tolong jangan memanggilku dengan sebutan bapak," dia tersenyum, membuatku merasa tidak nyaman.
"I-iya! Pak!" dia langsung menatap tajam padaku.
"E-eh... Kevin, maksudku!" sambungku.
"Nah, itu kan lebih baik. Oh ya, kamu mau pulang, kan? Bagaimana kalau aku antar kamu pulang?"
Aku membulatkan mataku, "T-tidak. Terima kasih, tapi saya sudah memesan taksi online!"
"Sayang sekali, baiklah. Aku harap kita bertemu lagi, Shella!" Kevin menyentuh bahuku. Aku semakin gugup dan merasa tidak nyaman.
"Ah! Itu, saya permisi!" kataku terburu-buru menghampiri taksi.
***
...Bersambung...
__ADS_1