
Bila sewaktu kecil bermain masak-masakkan dengan pasir ataupun tanah, ditambah dedaunan liar sebagai sayur bahkan ada yang kuanggap sebagai pengganti cabai rawit dan tomat. Kini setelah dewasa, tentunya apa yang kumasak nyata dan dapat dimakan. Tidak seperti aku yang masih kanak-kanak dulu.
Mengingat hal itu, membuatku merasa bahagia. Sampai tak kusadari, tepung yang kumasukkan ke dalam sebuah wadah kini telah penuh dan tak dapat menampung beban lagi. Alhasil tepung itu berserakan.
"Aduh!" dengan segera aku membersihkan tepung yang berlebih itu.
"Nyonya? Ada apa?" bi Ani menghampiriku dengan ekspresi khawatir. Mungkin dia datang karena suaraku tadi agak berteriak.
"Hehehe, tidak apa-apa, bi. Ini, tepungnya malah jadi berantakan, hehe... " kataku sambil terkekeh malu.
"Bibi kira, nyonya kenapa-kenapa. Apa bibi bisa bantu?"
"Tentu saja, bi!" seruku.
***
Hari mulai gelap, namun tidak ada tanda-tanda Raffa akan pulang. Bahkan dia tidak mengabariku hari ini. Aku mulai cemas, pikiran negatif mulai memenuhi pikiranku. Apa Raffa kembali pergi dan menghilang begitu saja? Atau terjadi apa-apa padanya? T-tidak! Dia pasti lembur!
Aku terus mondar-mandir di dalam kamar. Menunggu kedatangannya, sampai tak terasa matahari telah berganti menjadi bulan. Menandakan hari sudah benar-benar gelap. Aku kembali pada pikiran negatifku.
"Apa jangan-jangan, Raffa sedang bersama wanita itu?" gumamku, memikirkan ini membuatku semakin takut dan cemas. Sebagai wanita, normal saja, bukan? Bila mencemaskan suaminya? Apalagi dengan kehadiran wanita itu. Aku takut, Raffa akan kembali padanya. Dan yang paling kutakuti adalah talak itu!
"Bagaimana kalau Raffa benar-benar akan menceraikanku setelah bayi ini lahir??" kata-kata Raffa tempo hari masih tergiang di telingaku.
__ADS_1
"Mas... kenapa kamu tidak bisa kuhubungi??" aku semakin uring-uringan.
Tok... tok... (Suara ketukan pintu)
"Nyonya, apa makanannya perlu saya hangatkan?" tanya, bi Ani di luar kamarku.
"Tidak, bi! Shella belum mau makan. Shella mau nunggu, mas Raffa pulang. Kalau mas Raffa sudah pulang, bibi hangatkan lagi sayur dan nasinya," pintaku.
"Tapi nyonya belum makan sedari siang tadi, apa tidak sebaiknya nyonya makan terlebih dahulu? Tuan pasti mengerti."
"Tidak, bi!" tolakku.
Mana mungkin aku bisa makan dengan nikmat, sementara pikiranku melayang ke mana-mana. Aku tidak akan merasa tenang sebelum melihatnya pulang. 'Ku tatap jendela kamarku, menghampirinya dan melihat ke arah luar. Kemudian kembali bersandar pada dinding di sebelahnya. Perutku sudah meraung, kepalaku mulai pusing. Mungkin karena aku tidak makan dengan teratur.
"Mas..." lirihku saat melihatnya. Aku senang dia baik-baik saja.
"Kamu lembur, ya?" tanyaku, dia mengangguk.
"Biar aku bantu, mas!" aku membuka jas yang dipakai Raffa. Aromanya sangat harum, meskipun tidak dengan sengaja kucium.
"Apa kamu sudah makan?" tanyanya.
"Belum, mas. Aku menunggumu!" ucapku seraya menyimpan jas ke tempat cucian.
__ADS_1
"Lain kali, kamu makan duluan saja."
Aku mengangguk, seolah patuh padanya. "Kamu mau langsung makan, atau mandi, mas?"
"Aku... aku mandi dulu saja!"
"Kalau begitu, aku akan siapkan air hangat dulu, ya, mas?" tanyaku, dia mengangguk.
"Kamu makan duluan saja!"
"Tapi, mas..." aku melihat matanya yang tajam. Terpaksa aku meng-iya-kan perintahnya.
Setelah menyiapkan air, Raffa membuka kemeja berwarna biru yang dia pakai. Sontak membuatku malu, lalu memalingkan pandangan ke arah lain. Tak lama, sosoknya sudah tidak terlihat, gemericik air mulai terdengar, menandakan bahwa Raffa telah melakukan ritualnya.
Kepalaku mulai terasa pusing lagi, aku mulai mendudukkan diri pada sebuah kursi yang paling dekat denganku. Mataku menatap ke sembarang arah, sambil memegangi kepalaku. Tak sengaja, aku melihat kemeja Raffa.
"Mas, kelakuanmu seperti anak kecil. Menaruh pakaian kotor di mana saja!" gumamku, lalu mulai mengambil kemejanya dan hendak memasukannya ke ember tempat pakaian kotor.
Saat hendak menaruhnya, mataku melihat sebuah noda pada bagian samping pakaian, tepatnya dibagian dada kiri. Aku menatapnya lekat, tiba-tiba dadaku terasa sesak, pandanganku mulai kabur.
***
...Bersambung...
__ADS_1