Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 19 - Penjelasan


__ADS_3

"Nggak, mas!" kataku, aku menatap dalam mata pria tinggi itu. "Apa salahku, mas? Mengapa kamu menuduhku? Mengapa kamu tidak mengakui anakmu sendiri, mas? Kenapa? Kenapa, mas?!" lanjutku bersungut-sungut.


Dia kembali terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya. Namun, aku yakin Raffa akan mempercayaiku dan menerima anak dalam kandunganku ini, yang memang sudah jelas anak kandungnya!


"Kenapa kamu diam, mas? Apa kamu tidak memiliki jawaban atas tuduhan dan hinaan yang kamu lontarkan padaku, mas?!"


"Hei---"


"Diam, wanita penggoda suami orang! Jangan campuri urusan pribadi kami!" kataku, menghentikan wanita yang hampir mengoceh itu.


"K-kau!!!" wanita itu terlihat geram, namun akhirnya dia turut diam.


"Katakanlah, mas! Apa buktinya bila anak ini bukan darah dagingmu?!" ucapku sambil memaju-mundurkan bahunya.


"Bukti?!" dia tersenyum kecut, lalu mengambil sebuah benda kecil di dalam sakunya.


"Apa ini belum cukup?!" lanjutnya, sambil memperlihatkan sebuah foto di mana, pria jahat bertopi itu hendak menciumku.


"Mas!" pekikku.


"Kenapa? Aku masih memiliki bukti lain!" kemudian Raffa menunjukkan foto, di mana Bagas tengah memegang pipiku. Tidak! Bukan itu yang sebenarnya! Itu saat di mana aku tengah menangis, dan Bagas datang saat itu.


"Kenapa foto ini bisa ada di handphonemu, mas?!" tanyaku bingung. Siapa orang yang sudah melakukan ini? Mencoba menghancurkan dan membuat kesalahpahaman dalam rumah tanggaku.


"Mas! Aku bisa jelaskan semua ini, mas!"


Dia terkekeh, "Menjelaskan apa? Aku tahu kamu sangat bahagia ketika aku tidak ada di sini. Kamu bebas melakukan apapun bersama pria-pria itu! Dan kamu! Gak jauh beda dengan para pel*c*r di luar sana!"

__ADS_1


"CUKUP, MAS!!" bentakku, aku berusaha menahan air mataku agar tidak terjatuh. Namun aku gagal!


"Aku bukan wanita seperti itu! Aku akan menunjukkan sesuatu padamu! Ikut denganku! Agar, mas tahu kebenarannya!" lanjutku.


Aku hendak menarik tangannya, namun wanita itu kembali mengganggu. "Sayang! Kamu mau ikut cewek kere itu? Sayang, kamu gak akan pernah percaya sama dia, kan?"


Raffa kembali membisu, sepertinya Raffa juga ingin mengetahui kebenarannya. Kemudian dia ikut bersamaku. Namun, sayangnya wanita itu memaksa untuk ikut bersama kami.


***


"Kenapa kamu membawaku ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Raffa, padaku.


"Masuklah!" kataku membukakan pintu.


"I-itu..." Raffa tampak terkejut melihat orang yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Flashback On


"Gila! Bro! Aku ingin mencicipi tubuhnya di bagian atas, dan kau di bawah!" ucap teman pria bertopi itu.


"Tolong jangan apa-apakan saya!" pintaku, sambil menangis ketakutan.


Pria bertopi itu mencolek daguku, kemudian aku berpaling jijik darinya. "Sial! Sudah mau mati, masih jual mahal!" umpat pria itu.


Pria itu mulai membelaiku, aku terus memberontak namun tenagaku kalah jauh darinya. Dia hendak membuka bajuku, namun tiba-tiba handphone teman pria bertopi itu berdering.


"Bos! Dia nelpon!" bisiknya pada si pria bertopi.

__ADS_1


"Angkat!" kata pria bertopi itu.


Entah apa yang dibicarakan mereka pada sang penelepon, namun mereka terlihat gembira seperti mendapat sebuah jackpot. Lalu mereka kembali menyentuhku.


"Hai manis! Kami akan melakukan misi yang sangat-sangat membahagiakan!" ujar teman pria itu.


"Bos kami, sangat baik. Dia tidak ingin kamu mati secepat ini! Jadi, kami diminta untuk bermain-main denganmu!" pria bertopi itu menjilat telingaku, aku merasa jijik dan merasa sangat kotor. Aku kembali memberontak, namun tenagaku tak sampai.


Sampai pria itu hendak kembali membuka bajuku, tiba-tiba polisi dan beberapa penjaga yang terlihat babak belur datang.


"Angkat tangan!" kata salah satu polisi. Akhirnya mereka membawa pergi kedua penjahat itu.


"Nyonya, maafkan kami! Kami datang di waktu yang tidak tepat. Nyonya tidak di apa-apakan oleh kedua pria bejat itu, kan?" tanya salah satu penjaga. Aku menganggukkan kepala, agar penjaga itu tidak khawatir denganku. Karena kulihat, dua penjaga di belakangnya terlihat babak belur dan kesakitan. Keadaan mereka lebih mengkhawatirkan dibanding diriku.


"Benarkah? Nyonya, sebelumnya izinkan kami untuk pergi ke rumah sakit. Karna salah satu dari kami tertusuk pisau oleh penjahat itu dan hampir kehilangan nyawanya.


"S-siapa?" tanyaku terkejut, mengetahui salah satu penjaga ditusuk oleh pria jahat tadi.


"Pak Mukhsin, nyonya!" jawabnya sambil menunduk.


"Rudi, akan tetap di sini untuk menjaga, nyonya. Setelah saya mengantar mereka (yang babak belur) dan menjenguk, pak Mukhsin, saya akan segera kembali ke sini!" tuturnya, langsung saja dibalas anggukan olehku.


Flashback Off


***


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2