
Aku bagaikan burung dalam sangkar, sulit sekali untuk mendapat kebebasan. Kalau begini caranya, bagaimana aku tahu tentang hubungan wanita itu dengan, Raffa? Apa benar, Raffa akan menikahi wanita itu? Kalau begitu, berarti mereka sering bertemu dong.
"Sebenarnya siapa sih wanita itu?!" gumamku amat pelan. Tanganku spontan memukul meja yang ada di hadapanku. Dahiku berkerut karena kesal. Tiba-tiba, bi Ani datang membawa segelas minuman berwarna aneh.
"Bi, apa yang bibi bawa?" tanyaku sambil menatap lekat pada gelas itu.
"Ini kan, jus yang nyonya inginkan. Bibi sudah buatkan!" jawab, bi Ani.
"Jus apa itu, bi? Kok warnanya gelap dan aneh gitu!" ujarku.
"Lho, ini jus naga campur kunyit dengan tambahan gula merah, sesuai yang nyonya inginkan!" seru, bi Ani, membuatku menelan saliva.
"Aduh, kok beneran dibuatin, sih? Aku kan cuma ngomong asal, tadi!" umpatku dalam hati, wajahku menunjukkan ekspresi cemberut.
"Bi, a-aku tidak ingin itu..." lirihku.
"Nyonya, apa tidak ingin mencobanya terlebih dahulu?" tanyanya padaku.
"Aduh, gimana ini? Mana mungkin aku meminum itu?! Pasti rasanya aneh!" aku menatap ngeri pada segelas jus itu.
__ADS_1
"Bi, a-aku... " aku sangat bingung harus bicara apa? rasanya otak seribu alasanku kaku. Begitu pula dengan bibirku ini.
Dengan terpaksa, aku mencoba mencicipi jus aneh ini. "Ayo, Shella! Masa sama buah naga aja takut! Tenang! Ini cuma buah naga, bukan naga asli! Jadi gak papa kalau aku minum ini!" ucapku dalam hati, sambil menyemangati diri sendiri.
"Hoek!" aku memuntahkan jus yang berada di dalam mulutku, lalu mengambil tisu untuk membersihkan bibirku.
"Nyonya! Maafkan saya!" ujar bi Ani, dia segera mengusap-usap punggungku.
"Ke-kenapa bibi minta maaf?" tanyaku, masih terasa mual.
"Karena bibi malah membuat nyonya, seperti ini! Sekali lagi, maafkan bibi!" Bi Ani menunduk, sepertinya dia benar-benar merasa bersalah padaku.
"Maafkan bibi, nyonya! Bibi benar-benar minta maaf!" bi Ani terus mengulang kata-kata maafnya, lalu dia melanjutkan, "Bibi ingin mengakui satu hal. Ny-nyonya j-jangan marah. S-sebenarnya bibi tahu, kalau nyonya ingin pergi dari rumah!" ujar bi Ani gugup, membuatku terkejut.
"J-jadi bibi, tahu?" tanyaku memastikan. Bi Ani pun mengangguk.
"Sebenarnya..."
Flashback On (POV, Ani)
__ADS_1
"Akhirnya, pekerjaanku selesai! Sekarang, tinggal beresin kamar, nyonya!" ucapku sambil berjalan menuju ke arah kamar nyonya Shella.
"Eh... tapi, apa nyonya masih ada di dalam kamar? Aduh, aku kan gak enak sama, nyonya!" ucapku sambil berputar melawan arah tujuan.
"Tapi tidak ada salahnya, kalau cek kamar nyonya dulu. Siapa tahu, lagi gak ada di dalam!" ujarku sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Setibanya di depan pintu kamar, nyonya Shella. Tak sengaja aku melihat nyonya berpakaian serba hitam. Dari gelagatnya, sepertinya nyonya akan pergi keluar.
"Eh.. nyonya Shella mau keluar!" dengan refleks aku bersembunyi, agar nyonya Shella tidak melihat keberadaanku.
Nyonya terlihat mengendap-endap, lalu berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan sesuatu. "Aduh! Bagaimana dengan para penjaga itu? Kenapa aku tidak memikirkannya?" gumamnya pelan, sambil menepuk jidatnya.
"Apa yang direncanakan nyonya? Mengapa dia mengendap-endap seperti itu? Apa jangan-jangan nyonya ingin pergi tanpa sepengetahuan siapapun?" gumamku, berargumen sendiri.
Flashback Off (POV, Ani End)
"Bibi benar. Aku memang ingin keluar. Tapi, tolong bibi jangan beritahu, mas Raffa soal, ini, ya? Aku mohon, bi!" pintaku pada, bi Ani, sambil menggenggam kedua tangannya. Bi Ani pun mengangguk ragu. Aku berharap, bi Ani bisa menjaga rahasiaku!
***
__ADS_1
...Bersambung...