
Hari-hariku semakin membosankan. Rumah ini memang tidak se-sepi dulu. Namun, tetap saja aku merasa bosan. Mungkin, karena sedari dulu aku selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Kini aku malah rebahan saja, karena Raffa melarangku untuk sekadar membersihkan kamar. Ck! Aku jadi teringat, ketika awal pertama kami menikah. Sungguh keadaan berbanding terbalik dengan sekarang.
Hampir setiap hari, aku memaksa ikut bekerja. Namun, Raffa tetap tidak mengizinkan. Aku semakin jengkel dibuatnya. Apa Raffa takut? Kalau identitas kami diketahui oleh orang lain? Memikirkan hal ini membuatku kembali berburuk sangka. Apa Raffa benar-benar tidak mencintaiku sedikit saja? Apa Raffa malu mempunyai istri sepertiku?
Lamunanku buyar seketika, bi Ani memanggilku untuk makan siang. Aku segera menuju ke meja makan. Sejak kejadian tempo hari, aku bertekad dan tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Aku tidak ingin egois dan membahayakan anak yang bahkan belum kulahirkan.
***
Pikiranku terus bergemelut, entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak. Dengan ragu, aku mengambil ponselku, mencari sebuah nama di layarnya. Sampai akhirnya, aku menemukan nama yang kucari, 'Suamiku' .
"Ha-hallo?"
"Aku sedang sibuk. Nanti akan 'ku telepon balik!"
"Yah... dimatiin!" gumamku, kecewa.
"Mas... aku merindukanmu," batinku sedih,
Karena merasa bosan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar rumah. Lingkungan di sini, terasa sunyi. Sangat berbeda sekali dengan lingkungan tempatku tinggal dulu, saat masih di kampung. Di sana, terasa sangat ramai. Kadang, aku jumpai ibu-ibu yang tengah bergosip. Biasanya, mereka membicarakan para suami mereka, kalau tidak, mereka membicarakan salah satu artis yang selalu tampil huru-hara di televisi. Berbeda sekali dengan di sini. Tetangga-tetanggaku jarang sekali terlihat berada di luar rumahnya. Pintu rumah mereka selalu tertutup rapat. Ya, mungkinkah begini lingkungan orang berada? Atau hanya perasaanku saja? Karena aku juga tidak terlalu memperhatikan lingkunganku.
__ADS_1
Huftt... kenapa aku terus berpikir ke arah yang negatif? Sepertinya otakku perlu dibersihkan! Agar aku bisa berpikir positif, dan tidak menilai sesuatu begitu saja.
"Shella!"
"Apa seseorang memanggilku?" batinku bertanya. Aku segera membalikkan badan, alangkah terkejutnya aku ketika melihat dirinya.
"Kamu di sini? Apa kamu tinggal di sini? Mana suamimu?" tanya pak Kevin padaku.
"E-eh... pak! I-iya, aku tinggal di sekitar sini!" jawabku gugup.
"Shella, sudah aku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Kamu bukan bawahanku lagi, aku ingin kamu memanggilku dengan sebuah nama. Panggil aku, Kevin!"
"Oh iya, kebetulan sekali kita bertemu! Kamu beneran tinggal di sekitar sini? Kalau boleh tahu, yang mana rumahmu?" pertanyaannya membuatku merasa takut. Bukan karena takut macam-macam, namun karena perkataan Raffa. Dia tidak ingin orang lain tahu hubungan kami berdua. Tentu saja, Kevin juga tidak boleh tahu, bukan?
"Kamu, gak mau ngasih tahu, nih?!! Ya sudah, gak apa. Oh iya, kamu tahu ini rumah siapa?" ucapnya seraya menunjuk ke arah rumah besar bercat warna cream.
Aku pun menggeleng, karena sejak aku menikah dan tinggal di sini, aku tidak pernah bertegur sapa dengan tetanggaku. Bahkan, jika aku melihatnya, itupun hanya sekilas.
"Ini rumah tanteku. Kamu mau ikut ke dalam? Ya... biar sekalian kamu akrab sama tetanggamu!"
__ADS_1
"Apa?!" ucapku spontan.
"Eh, kenapa berteriak? Apa aku salah bicara?" tanyanya padaku. Aku pun menggelengkan kepala lagi.
"Um... maaf. Tapi, aku gak bisa. Aku mau pulang dulu!"
"Kalau gitu, aku akan tetap di sini sampai kamu masuk ke dalam rumahmu!" ucapnya kembali membuatku salah tingkah. Jika Kevin melihatku masuk ke dalam rumah Raffa, yang sebenarnya ada di sebelah rumah tantenya, bisa-bisa dia tahu identitas Raffa dan aku. Aku tidak ingin membuat Raffa marah lagi padaku, dan memperlakukanku seperti dulu.
"K-kamu masuk saja, aku lupa, mau beli sayuran dulu!" ucapku beralasan.
"Lho, emangnya siang begini udah mau sore, masih ada tukang sayur di sini?" tanyanya lagi, membuatku gemas, ingin segera kabur darinya.
.
...Bersambung...
Hai semua, maaf untuk jadwal update tidak teratur. Mohon maaf juga karena saya jarang update akhir-akhir ini. Di minggu sebelumnya, keadaan saya sedang tidak baik. Bahkan saya sampai tidak masuk kerja selama dua hari. Setelah itu, saya ingin sekali menulis, namun entah mengapa saya tidak bisa berimajinasi. Mungkin karena ada beberapa faktor yang membuat saya tidak bisa fokus untuk menulis kelanjutan novel ini.
_Happy Reading_
__ADS_1