
Pagi hari yang cerah, kutatap wajahku di dalam cermin. Sedikit demi sedikit kuolesi lipstik berwarna nude ke bibirku. "Sudah siap!" kataku dengan semangat.
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di perusahaan suamiku. Tentu saja aku harus bersiap serapi mungkin. Aku tidak ingin membuat malu suamiku, meskipun orang-orang tidak akan tahu status kami.
Sebelumnya aku telah membuat sarapan untuk Raffa, namun... sampai detik ini, dia belum keluar dari kamarnya. Kamar kami memang terpisah. Karena Raffa enggan untuk tidur bersamaku. Kamar kami pun berdekatan, dengan perlahan aku mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya.
"Mas? Kamu ada di dalam, kan?" panggilku.
Tidak ada jawaban, membuatku penasaran. "Pintunya tidak terkunci?" dengan perlahan, aku memasuki kamarnya. Terdengar gemericik air di dalam kamar mandi. "Mungkin dia masih mandi!" gumamku, mulai meninggalkan kamarnya.
Setengah jam telah berlalu, dan Raffa baru menuruni tangga dengan penampilan yang sangat sempurna. "Mas!" sapaku. Dia melirik ke arahku sekilas.
"Ayo sarapan dulu!"
"Tidak! Aku akan sarapan di kantor! Ini sudah telat!"
"T-tapi, mas?"
Dia pergi begitu saja, dengan cepat aku menyusulnya. "Kamu mau apa?" tanyanya, sambil menatap tajam padaku.
"M-mau naik mobilnya, mas!" jawabku gugup.
"Siapa yang suruh kamu naik mobil ini? Kamu naik taksi atau ojek saja sana!" Raffa langsung memasuki mobilnya dan pergi.
"Mas!! Mas! Aku tidak tahu alamat perusahaanmu, mas!" teriakku, namun mobilnya sudah hampir tidak terlihat.
"Mas, kenapa kamu tega..." lirihku, menatap kepergiannya.
***
Kini aku telah sampai di perusahaannya. Tentu saja aku bisa datang ke sini berkat supir taksi. Untung saja dia tahu letak perusahaan suamiku. Katanya, perusahaan ini sudah sangat terkenal. Bahkan sesekali dia menertawakanku, karena aku tidak tahu apa-apa tentang perusahaan suamiku itu.
__ADS_1
Semua orang melihat ke arahku. Sepertinya mereka bertanya-tanya siapa aku? Lalu seorang petugas keamanan menghampiriku.
"Maaf, mbak. Saya baru melihat anda di sini?"
"Saya pegawai baru di sini. Perkenalkan, nama saya Shella!"
"Pegawai baru?" tiba-tiba seorang wanita muda menghampiriku.
"Jangan mengaku-ngaku! Di sini, akulah yang menentukan siapa saja yang akan bekerja di sini! Dan kapan aku menerimamu bekerja? Sepertinya aku juga tidak pernah melihatmu!" dia menatapku sinis.
"Su---, maksudku Pak Raffa yang menerimaku bekerja sebagai asistennya, mbak!" jawabku.
"Kamu pasti wanita halu, kan? Pak! Usir wanita ini!" titah wanita itu.
"Tapi saya tidak berbohong, mbak!"
"Pak! Cepat usir dia!" wanita itu menatap tajam security itu.
"Maaf, mbak!" lelaki bertubuh kekar itu membawaku pergi ke luar perusahaan.
"Tunggu!" suara itu membuat security itu membalikkan badan.
"Biarkan dia masuk! Dia asisten baru yang menggantikan Hasan, selama dia tidak ada di sini!"
"Mas Raffa..."
Lelaki bertubuh kekar itu melepaskanku, sementara wanita itu menunduk di hadapan suamiku. "Cepat ke sini!" titah Raffa, dengan cepat aku berjalan ke arahnya.
"Ikuti aku!"
"Baik, Pak!"
__ADS_1
Aku mengikuti ke mana dia pergi. Sampai tiba di sebuah ruangan, tubuhku langsung di dorong olehnya.
"Mas..." lirihku.
"Bersikap profesional lah, Shella!"
"Ma-maaf..." kataku sambil menunduk.
"Buatkan aku secangkir teh! Cepat!"
"Ba-baik!" dengan segera, aku keluar dari ruangan itu menuju dapur.
"Itu kan pegawai baru yang mempermalukan Sinti!" kudengar bisikan para karyawan, sepertinya mereka sedang membicarakanku.
"Eh, kamu beneran asistennya, pak Raffa?"
"I-iya..."
"Lagi buat teh? Buat siapa?" tanyanya, lagi.
"Pak Raffa memintaku membuatkannya."
"Kamu asisten apa OG baru, sih?!"
"Sudahlah Ineu! Jangan bicara padanya. Atau kau akan dibuat malu seperti Sinti tadi!"
"Kau benar, Eka! Ayo kita tinggalkan dia!" kata Ineu, wanita yang sedari tadi menyindirku.
"Sabar, Shella. Kamu pasti bisa melewati semua ini! Semangat!" ucapku, menyemangati diri sendiri.
***
__ADS_1
...Bersambung......